Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #25

Rindu Pelukan

"Ayah, Ibu?" pelan sekali suara Ranti seraya ingin sekali dirinya terpeluk dalam kehangatan dua kasih sayang Darko dan Maya.

"Kamu sabar ya, Ranti." desakan kesedihan tidak tega makin menghujam relung sukma bahtin seorang Ibu. Ibu mana, pasti tidak akan tega melihat anaknya hampir tiga bulan hanya terbaring tidur, cuci darah tiap minggu, jarum infusan tajam masih terus betah tidak beranjak pergi dari nadi pergelangan tangan kirinya.

Makin pucat, makin tirus wajahnya tidak terlihat cantik, apalagi kurus terasa seluruh tubuhnya Ranti terbalut piyama biru muda.

"Berdoa saja, Ranti. Agar Dokter Sultan bisa segera mendapat'kan donor ginjal buat kamu," berdiri sedih Darko disamping ranjang, lihat saja tiang infusan masih setia dengan memanggul berapa kantong macam cairan infusan.

"Aku rindu sekali dengan pelukan Ayah dan Ibu. Aku ingin sekali seperti dulu, kita bertiga bisa jalan-jalan dan bermain sambil tertawa," makin terasa menusuk relung kesedihan Darko dan Maya seraya itu mungkin keinginan terakhirnya Ranti.

"Ibu juga rindu memeluk kamu, Ranti." sontak membungkuk Maya tidak tidak erat dirinya memeluk Ranti karena terhalang banyak selang kabel warna pada tubuhnya.

"Darko, coba kamu temui Dokter Sultan," mulai terisak sedih Maya makin tidak tahan tangisan dan kesedihannya.

Darko dan Maya lantas beranjak jalan keluar dari ruangan kamar vvip minggalkan Ranti sesaat menoleh kearah pintu sudah tertutup lagi. Kini dirinya hanya terbaring sedih, sekian lama dirinya terbaring tanpa kepastian kapan dirinya bisa segera sembuh dan mendapatkan pendonor ginjal.

"Bila aku pergi jauh. Pasti Ayah dan Ibu sangat merindukan sekali pelukanku. Aku sudah bertahan sekian lama ini. Tapi tidak kunjung datang penolong itu. Apakah hidupku akan berakhir diatas bangsal ini pergi meninggal'kan kesedihan Ayah dan Ibu," guman sedih pikiran macam-macam Ranti, sungguh dirinya makin tidak berdaya ingin pergi saja.

"Aku ngak sanggup, Darko." sedih terasa cetek sudah hampir tiap hari rintik air mata Maya selalu jatuh membasahi wajahnya. Mungkin bila bisa ditukar, dirinya saja yang akan menggantikan sakitnya Ranti, biar dirinya terbaring diatas bangsal pasrah menanti tidak berujung kapan datangnya penolong.

"Andai aku bisa menggantikan sakitnya, Ranti. Aku akan gantikan, Darko. Aku tidak tega melihat keadaan Ranti!" emosi meluap menyatu terpapar dalam luapan kesedihan makin jelas terlihat diraut wajahnya Maya makin berderai rintik air mata.

Lihat selengkapnya