Menunggu Bulan *Novel*

Herman Siem
Chapter #26

Antara Cinta & Ginjal

"Bulan?" tatapan kecemasan makin menggurat wajah Sultan.

"Mungkin ini jalan yang aku lakukan, Sultan. Agar Ayah memelukku. Sepanjang ini, betapa aku berharap merindu'kan Ayah memelukku. Tapi itu hanya mimpi. Iya, hanya mimpi yang bisa aku rasa'kan pelukan itu," hatinya sedih tapi sudah terbaring Bulan diatas bangsal.

Sample darah sudah di ambilnya petugas lab dan berapa tabung kecil akan siap di cek laboratorium. Petuga lab hanya tersenyum berjalan keluar seraya membawa harapan keyakinan Bulan.

Kanan tangannya petugas lab menenteng bok kecil berisi steril sejuknya tabung-tabung kecil darah Bulan siap untuk diteliti lebih dalam, lagi-lagi harapan Bulan kecocokan darahnya dengan darah Ranti bisa cocok.

Mungkin hanya ini jalan satu-satunya bagi Bulan, bila dirinya akan mendapatkan dan pengakuan dari Roky.

"Aku harap, golongan dan ginjalku cocok untuk anak itu," guman yakin Bulan.

Tapi tidak pada Sultan, berapa kali sentuhan dua tangannya seraya melerainya agar Bulan berubah pikiran. Putih sedih terbalut selimut putih, tidak adalagi kesedihan yang sebentar lagi akan di rasakannya. Hanya keyakinan dalam hatinya, bila pengorbanannya akan menjadi solusi jalan keluar yang dihadapi Ayahnya.

"Apa hatimu yakin, Bulan? Dengan yang kau lakukan ini? Apa kamu tahu sejak awal pertemuan itu dan kepergianmu meninggal'kan aku sendiri. Aku hanya diam tersenyum membayangi selalu pada hamparan hijau dedaunan tebu beratap langit senja. Layang-layang itu seakan dia terbang tinggi, pergi jauh meninggal'kanku. Tapi bayangan wajahmu masih membekas dalam hati ini, Bulan. Artinya aku suka kamu, aku cinta kamu," makin erat dua tangan Sultan menggenggam kepalan dua tangan Bulan tetap hatinya tidak bergeming dengan keputusannya.

"Maaf, Sultan. Maaf'kan aku. Aku sudah mengetuk perasaanmu jadi menungguku. Tapi aku saat ini tidak ingin kembali bersedih, karena cinta itu makin tergadai'kan karena dusta. Delon, mungkin lelah menungguku. Tapi sampai hari ini, aku masih setia menuggunya," pupus sudah harapan Sultan keyakinan cinta sudah terhalang niatan cinta Bulan masih mau menunggu Delon walau sudah menyakiti.

"Dokter," sudah masuk Darko raut wajahnya sumringah sempat melirik pada Bulan.

Sultan dan Darko lalu beranjak jalan keluar dari dalam ruangan observasi pasien. Hanya Bulan saja terbaring sendiri, hanya hening menemaninya.

Bangsal kiri kanannya kosong tidak berpenghuni pasien. Hanya gerakan kecil tirai penyekat bangsal sejak dari tadi terhempas semilir angin kecil.

Panik dan cemas Saras, sejak dari tadi menuggu Bulan. Tapi belum datang juga, padahal jam makin siang. Makin ada ragu dan kecemasan makin bermain dalam relung hatinya Saras.

"Bagaimana, Grek?" cemas bertanya Anggrek berapa kali meletakan gagang telpon.

Lihat selengkapnya