"Aku tetap mendonor'kan dua ginjalku ini, Sultan." tersenyum raut wajah Bulan berdiri disamping kanan mobil.
Seraya yakin senyuman wajahnya sembari berdecak kagum dengan Masjid Istiqlal, yang ada di hadapannya. Begitu juga Sultan hatinya seakan memaparkan senyuman mengular pada wajahnya seraya dua mata tidak bergeming terus menatap dekat kubah besar Masjid Istiqlal. Tapi hatinya terasa sedih cemas dengan gadis terikat berkepang dua masih setia pita merah mengikatnya.
Berdiri megah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara. Begitu indah, Nan Agung menyatu dengan setiap jiwa yang dahaganya sangat haus ingin melepas rindu padaNya. Di kelilingi taman indah bagai hutan kota lengkap dengan kolam air mancurnya. Dari teras Masjid, dua mata kita pasti termanjakan dengan melihat bangunan utama Masjid, kubah besar dan menara yang menjulang tinggi seraya akan menggapai surga.
Bila datangnya malam, Masjid seraya bermandikan cahaya lampu memberikan suasana kesejukan hati para Sang Pencinta Allah. Didalam masjid terhampar merah marun permadani luas menutupi seluruh lantai, dengan tiang-tiang besar menopang kubah di atasnya. Begitu juga dengan ornament Masjid sangat begitu elegan. Apalagi saat berada diluar, bagian exterior juga memiliki tata pencahayaan terang yang sangat mempesona.
"Tapi?" disisi lain merasa dilemma Sultan sebagai Dokter.
Satu sisi dirinya harus menolong pasiennya, satu sisi lagi dirinya kini di hadapkan gadis yang di sukainya, tetapi dia ingin berkorban buat nyawa seorang anak gadis yang kini sedang kritis.
"Setiap yang hidup dan terlahir didunia ini. Pasti dia akan kembali padaNya," jawab yakin Bulan tersenyum perhatikan lafal Allah diatas kubah besar Masjid Istiqlal.
Bulan tahu apa yang sedang di risaukan Sultan, bila ada rasa ketakutan yang makin menyengat hatinya dengan apa yang akan diperbuat Bulan.
"Terima kasih, Sultan. Kamu telah mau jadi sahabatku, yang bisa membuatku tersenyum. Walau semua itu hanya terasa singkat sekali, tapi terasa membekas di hatiku," dua kakinya mengajak berjalan makin mendekati selasar halaman Masjid.
Tersenyum makin yakin Bulan apa yang akan sebentar lagi menjadi kenyaatan terakhir hidupnya, pasti akan berguna untuk Ayahnya. Tidak berani dua langkah kaki Dokter tampan hanya berdiri dibelakang dan hanya tersenyum haru berkaca-kaca serasa tidak bisa menahan tekad kuat gadis yang baru saja dikenal Sultan, tapi telah mengambil keputusan yang sebentar lagi akan pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Bulan bulat sempurna, makin bikin terasa cemas menunggu tidak berujung kepastian. Sejak dari tadi Delon terduduk diatas papan ayunan, sekali-kali dua tangannya menggerakan rantai kembar tertahan dua tiang besi. Ayunan pelan terdorong kebelakang dan kedepan, tapi tetap saja itu tidak membuatnya tersenyum.
"Gua akan menunggu Bulan," guman sendiri Delon dua matanya perhatikan motor vespanya sejak dari tadi ikut menunggu.
"Semoga Bulan mau mengerti dan Bulan mau maafin gua," guman dalam hati mungkin takut ketahuan Saras sudah berdiri disamping Delon cepat beranjak bangun tidak enak hati.
"Sudah malam, Delon. Kamu pulang saja. Tidak mengapa, biar Tante saja yang menunggu Bulan," mungkin sejak dari tadi Saras tidak enak hati juga pada Delon menunggu Bulan tapi tidak kunjung pulang.