"Bulan," panggilan Ayahnya saja di cuekin, apalagi tadi Delon yang sudah mendusati cintanya Bulan.
Bulan hanya diam tidak menjawab, tapi sempat melirik Roky berdiri tidak jauh dari depan pintu kamar yang sudah tertutup sekarang. Hanya kesabaran yang kini mereka berdua harus pertahankan, walau seberat apapun masalah harus tetap dihadapi.
"Besok hari terakhir, Bun. Kita sudah mengulur waktu dan di berikan kesempatan hanya malam ini bisa menikmati tidur beralas kenyaman dan kehangatan. Besok tidak tahu, kita akan terbaring beralas apa? Apakah hanya dingin yang terus membalut lelapnya kita dalam pembaringan?" mungkin sekarang Roky sudah makin berpasrah, dirinya bisa menahan emosinya.
Mungkin juga tadi Roky ingin sekali berbicara dengan Bulan, tentang besok hari, bila mereka harus segera meninggalkan rumah.
"Kita hanya bisa berpasrah dan berserah diri saja, Yah. Bunda, akan selalu ada menemani Ayah. Tidak jadi soal bagi Bunda, walau hanya tidur beralas koran dan makan seadanya. Asal Bunda ingin selalu bertiga dengan Ayah dan Bulan," tersentuh haru raut wajah Roky sebegitu setia istrinya dengan dirinya dalam keadaan serba kesulitan tapi masih mau tetap setia bersama.
"Kalian berdua tidak perlu bersedih. Karena aku akan tetap ada untukmu, Ayah Bunda." guman sedih sebentar lirikan dua mata sendu dari balik pintu menatap haru sepasang dua insan yang sedang berpasrah.
Terbaring menyamping tidur lelap sekali Bulan diatas dipan berselimutkan putih, wajahnya terlihat bahagia sekali. Dua kakinya memeluk bantal guling terasa makin hangat dalam pelukan anak gadis aneh, dirinya selalu bersedih dalam kesehariannya tidak pernah mendapatkan sentuhan pelukan kasih sayang.
Mungkin besok dirinya sama akan tidak lagi menempati atau meniduri kasur empuknya. Mungkin dirinya besok akan menyambung nyawa seseorang dengan pertaruhkan nyawanya yang terbayar dengan perjanjian harus membuat bahagia dua orang tuanya.
Malam telah berganti datangnya pagi, cerianya makin terdambakan pada setiap penikmat jiwa yang terlena dalam rayuan panggilan hangat buaian langit cerah.
Raut wajah pasrah makin tergurat yakin, tapi tidak seyakin hatinya menerima kenyataan pahit karena sebentar lagi akan berbalik dari kehidupan nyaman, berbalik akan merasakan sulitnya menghancurkan senjata kesulitan tantangan hidup.
Pagi datang sudah membawa senyuman yakin makin tergambar pada setiap langkah pastinya Bulan. Harapan hari ini mungkin menjadi hari terakhirnya harapan akan dirinya, tidak lagi meridukan pelukan hangat dari Ayahnya.
Dirinya ingin sekali menjadi anaknya tidak lagi disebut anak aneh dengan memakan, makanan aneh. Di bawahnya bahagia mungkin untuk mengurangi beban dan tekanan stres, agar hasrat ingin berbuat hal-hal yang aneh menjauh dari benaknya.
"Bulan!" baru saja langkahnya akan masuk kedalam kelas tidak jadi.
"Loe?" terkejut Bulan dibelakang sudah ada Lusy, Susi dan Anjas sinis sebal maklum lelaki kemayu ikut-ikutan doang.
"Loe emang anak aneh!" tiba-tiba didorong mundur Bulan dengan dua tangan Susi meradang emosi.
"Loe kenapa?" balik tanya Bulan terhalang blackboard.
"Loe jangan pura-pura ngak tahu deh!" tuding Lusy.
"Plak" gampang bangat tangan kanannya melayang mendarat pada pipi kanan Bulan.
"Udeh mampusin aja nih anak aneh!" makin emosi Susi.