"Tok ... Tok ..." dua kali ketukan pintu kedengaran dari luar.
Wajah cemas makin membalut kepanikan Saras dan Roky, padahal mereka masih di sibukan sedang mengemas barang-barangnya yang akan di angkutnya.
"Meong ..." sentuhan manja kucing warna belang mengelus kedua kaki Saras.
"Belang, kamu sabar ya. Bulan masih tidur," cepat di gendongnya kucing warna belang. Mungkin pikiran Saras, pasti akan bikin Bulan senang bila dirinya akan memberikan Belang, sebagai pengganti Brown yang sudah tiada.
"Mereka tidak tahu apa?! Kalau kita masih beres-beres!" kesal Roky mendekati pintu sambil melirik pintu kamar Bulan masih tertutup.
Jejeran koper berisi pakaian dan perlengakapan yang hanya bisa dibawa, sedangkan perabotan dan lainnya itu sudah bukan lagi milik mereka.
"Pagi," sudah berdiri lelaki, yang dikira itu adalah dari pihak bank.
"Pagi," sahut Saras mendekap nakal Belang dalam pelukannya.
"Sabar ya, Pak. Beri'kan kami waktu sebentar saja. Kami masih berkemas-kemas," sambung Saras perhatikan dari gelagat lelaki itu bukan dari orang bank.
Wajah lelaki itu hanya melongok kedalam perhatikan ruangan tengah hampir sudah tidak ada lagi pajangan-pajangan. Bikin jengkel Roky mendekati lelaki itu tidak tahu siapa.
"Maaf, saya bukan dari bank. Saya hanya diutus untuk memberikan ini," amplop putih di berikan pada Saras, dari lelaki yang mengaku bukan dari bank.
"Permisi, Pak Bu." pamit lelaki itu berbalik lalu berjalan meninggalkan kebingungan makin nyata menggurati wajah Roky dan Saras.
"Yah?" terkejut Saras ketika tangannya tidak sengaja menarik cek tunai nominal 25 milyar dari dalam amplop putih, tertera nama Roky Sunghono.