"Tin ... Tin ..." suara klakson terdengar bising.
"Hahhh! Kenapa bisa macet si?!"
"Brug" kesal Roky sekali tangannya memukul kaca samping kanan.
Gelisah dirinya hanya duduk belakang setir mobil, dua matanya hanya melihat kemacetan dimana-mana.
"Sabar, Yah." kata Saras yang duduk dijok kiri tenangkan Roky. Berapa kali tangan kanan Saras meraih hangat tangan kanan Roky saat menyentuh perseneling gigi otomatis.
"Bun, gimana Ayah bisa sabar dan tenang. Sementara Bulan mau mengorban'kan dua ginjalnya. Hanya buat bantu Ayah. Iya, cuman buat bantu Ayah. Ayah yang tidak pernah sama sekali memeluk Bulan saat dia kecil dan sampai Bulan tumbuh jadi gadis cantik," sedih sesal hanya kini makin menghampiri tidak mau beranjak pergi dari rasa sesal dan bersalahnya Roky.
Jalan makin macet, harapan dua orang tua yang cemas makin di pertaruhkan dengan ketulusan Bulan. Senja makin datang dengan membawa serpihan awan kelabu, tanda siang pelan-pelan akan beranjak berganti sore.
Kemacetan mulai memadati setiap sudut jalan, jam pulang kantor makin bikin gelisah bertepi kecemasan makin mengalungi dua orang tua berharap ada mukjizat, bila mereka bisa menghentikan operasi transpalasi dua ginjalnya Bulan.
"Ayah! Itu!" bingung juga telunjuk tangan kanan Saras menunjuk pada kaca samping kanan.
"Delon?" knop kaca otomatis tertekan jari kanan Roky.
Kaca turun otomatis, Delon sedang ada disamping mobil, tidak jadi menarik handle gas motor.
"Delon!" panggil tergurat senang wajah Roky dilirik Delon.
"Om, Tante?" balik sahut Delon bingung perhatikan Roky dan Saras malahan turun dari mobil.
"Cepat Bunda naik!" kata Roky bantu Saras duduk dibelakang Delon maju sedikit kedepan.
"Mobil itu gimana, Om?" tanya Delon melirik mobil.
"Tin ... Tin ..." suara klakson terdengar gaduh.
"Biar'kan saja mobil itu. Yang penting sekarang kita kerumah sakit!" sudah terduduk Roky setengah pantatnya menyundul kebelakang.
Motor vespa berjalan lambat, tapi bisa menyelap-selip jalan kadang ditengah, kadang jalan dibahu jalan bebas macet.
"Cepat Delon!" sekali tangan kanan cemas Saras menepak pundak kanan Delon sontak tangan kanannya menarik handle stang gas.
Motor vespa makin berjalan cepat susuri jalan Ibukota Jakarta menjelang sore makin terasa macet. Padahal motor hanya di peruntukan buat dua orang saja, tapi kali ini tiga orang dengan hanya satu motor. Pasti bila ada rajia, motor itu akan terkena tilang karena sudah melanggar.
Wajah cemas berharap makin menggurat jelas wajahnya Roky. Semoga dirinya bisa menggagalkan transpalasi dua ginjalnya Bulan.