Segelas minuman itu tidak hanya merenggut kesadaranku, tapi kebahagiaan orang di sekelilingku, aku lebih sering melihat bapak duduk di teras dengan tatapan kosong, aku harus mengulang dua sampai tiga kali pertanyaan agar ibu memberi respon, dan lebih sering ditanya, "Mbak baik-baik aja, kan?" oleh kedua adikku, aku tidak lagi mendengar pertanyaan, "Mbak progres mewujudkan impiannya udah berapa persen?" setelah aku mengatakan, "Mbak udah nggak bisa ngejar cita-cita jadi pramugari."
Sumber kegagalan yang sudah menghancurkan kehidupanku itu tidak datang dari seorang buronan, bukan juga musuh bebuyutan, tetapi orang yang dipercaya karena ucapan manisnya, "Aku engga bakal ngajak kamu nikah dalam waktu dekat, syarat jadi pramugari itu engga boleh menikah dulu, kan? Aku bakal dukung impian dan nunggu kamu."
Jika bukan karena orang tua dan dua adik laki-lakiku, mungkin aku lebih memilih menghilang dari dunia, betapa menyakitkannya ketika semua berubah 180°.