Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #2

1. Are You Okay?

Denial adalah fase termembingungkan yang aku alami dalam hidup.

"Are you okay?"

Aku menegakkan kepala dengan cepat untuk melihat seseorang yang ngasih pertanyaan dari seberang meja resepsionis, mata kami bertemu, aku segera bangkit dari kursi, merapikan pakaian dan tersenyum tipis.

Tangan kanannya masih menggantung di udara, jangan bilang dia sudah berdiri dan memanggilku dari tadi sampai harus melambaikan tangan di depan wajah agar aku memberi respon. Bodohnya, Inaya.

"Halo, baik kok, Pak. Maaf, Bapak udah dari tadi di situ?" jempolku menunjuk tempat berdirinya pria di hadapanku dengan setelan kemeja putih, jas dan celana bahan berwarna navy.

"Saya sudah pangil nama kamu berkali-kali, Inaya." Matanya menyipit tampak menelisik wajahku, susah payah aku menelan saliva. "Tapi kamu keliatan nggak baik-baik aja."

Aku tertunduk, kehilangan kata-kata, ini bukan aku yang biasanya. Bisa-bisanya lupa ngedarin pandangan ke sekitar, HRD tiba di depanku aja aku nggak tahu. Ceroboh banget aku.

"Saya tadi buat sandwich lumayan banyak, saya bawain buat kamu, jangan lupa sarapan biar fokus kerjanya. Kalau ada apa-apa cerita sama saya." Pria itu menaruh kotak bekal di meja yang membatasi kami berdiri. Mataku mengamati setiap inci kotak bekal yang sudah nggak asing itu.

"Saya ke ruangan dulu," sambungnya sebelum benar-benar meninggalkanku, kalimat pamitan itu memaksaku menegakkan kepala lagi, mata kami sempat bertemu sebentar.

"Iya, Pak. Terima kasih, Pak Maheswara." Aku menganggukkan kepala, lantas suara ketukan sepatu pantofel hitam yang dia pakai terdengar menjauh dari telingaku.

Aku memperhatikan punggung bidang pak Maheswara yang hilang di balik lift, biasanya aku melihatnya lebih dulu, melempar senyuman, menyapa, memuji penampilannya yang tampak keren, jika aku diberi makanan akan antusias dan memuji makanan itu meski belum aku coba. Tapi, kenapa aku hari ini nggak ngelakuin semua itu?

Lihat selengkapnya