Memasuki usia peralihan dari remaja ke dewasa itu berat, yang dipikirin tambah banyak, tantangan lebih sulit, pertimbangannya makin rumit. Jujur kaget dan nggak siap, pengen kembali jadi anak-anak aja.
"Baru pulang, Mbak? Tumben sore betul."
Tanganku menjinjing sepatu pantofel dengan hak 3 cm mau menaruh di rak sepatu terhenti. Iya, Bu. Aku habis nunggu dan nyari Sindi, tapi nggak ketemu. Jawaban yang hanya bisa aku suarakan dalam hati, kalau aku benar-benar menjawab itu, pasti Ibu akan bertanya panjang lebar. Sementara aku, tidak punya jawaban untuk ngasih penjelasan.
Aku berbalik, ngeliat Ibu berdiri dengan daster kesayangan yang warnanya sudah belel dan robek di sana sini, baju pantang pensiun, kecuali jabuk seluruhnya. Jari tangan kanannya penuh tepung, pasti lagi bikin adonan donat pesanan tetangga, soalnya ibu itu tiap pagi jualan gorengan aja di depan rumah.
"Iya, Bu. Tumben hari ini macet jadinya aku baru nyampe rumah. Mana bapak, Bu?" Berusaha mengalihkan topik obrolan, semoga berhasil. Kepalaku celingak-celinguk supaya tambah meyakinkan, jam segini biasanya bapak duduk di ruang tengah dengan secangkir jumbo teh panas, aku cuma liat cangkir teh yang masih terisi setengah.
"Di kamar, lagi teponan sama Desi. Makan, Mbak. Ibu masak oseng kangkung, bu RT abis panen kangkung apa tadi namanya, oh hidroponik, sama ada sambel, goreng ikan asin."
Setelah ibu meninggalkanku untuk kembali ke dapur, aku menaruh pantofel, membenarkan tas ransel yang ngebuat pundak panas, aslinya nggak seberat itu, cuma aku tadi naik angkot, berhenti di depan gang, rumah kontrakan kami ada di dalam gang paling ujung.
Sengaja aku menapakkan kaki dengan pelan, berhenti tepat di dinding dekat pintu kamar bapak yang terbuka. Ada untungnya orang tua kalau nelpon volumenya kenceng, aku bisa nguping.
Tante Desi itu adik bungsu bapak, punya anak perempuan yang usianya dua tahun di atasku, informasi terakhir yang aku tahu, anaknya itu mau nikah. Awalnya aku heran kenapa anak pertama tante Desi lebih tua daripada aku anak pertama kakak tertuanya, ternyata tante Desi menikah melangkahi bapakku, bukan cuma tante Desi, semua adik nikah dengan melangkahi bapakku.
"Dek, aku gak bisa kalo bantu sebanyak itu. Aku mampu bantunya tiga juta, gak aku pinjamin, aku ngasih, nyumbang."
Aku menarik napas panjang, apa semua anak pertama begitu? Jadi tumpuan keluarga kalau butuh apa-apa, eh, tapi ibuku anak bungsu tetap jadi tumpuan di keluarganya, persis kayak bapak. Apa di semua keluarga kayak gitu? Apa cuma di keluargaku aja?
Aku menegakkan badan, melongok ke kamar bapak. "Halo Pak, anak gadis Bapak yang paling cantik pulang. Halo Tante Desi di seberang sana."
"Gimana liburan dadakannya? Seru, Mbak?"
Aku nyengir, mengusap tengkuk, tidak siap menerima pertanyaan dan membahas soal liburan. Maaf ya, Pak, aku lagi nggak mau nginget liburan itu. Aku mengangguk cepat, mengangkat kedua jempol. Setelahnya aku mengusap-usap perut. "Laper, Mbak makan dulu, Pak."