Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #4

3. Jual Sawah dan Kambing?

Dewasa itu cape badan dan pikiran, heran gimana cara orang-orang dewasa lain menikmati hidup, soalnya keliatan fine.

"Udah satu tahun Mbak nunda sekolah pramugari, kurang berapa tabungannya? Betulan gak mau Bapak bantu? Bapak bisa jual sawah dua petak di kampung, sama kambing dijual kalo masih kurang."

Pembahasan ini lagi, aku menarik napas pelan, mataku menatap lantai yang aku pijak. Aku senang jadi anak bapak ibu, mereka benar-benar berperan jadi orang tua yang baik, dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas semua kebutuhan pendidikan mereka usahakan. Tapi, semakin bertambah usiaku, aku mulai sungkan memakai uang mereka, aku merasa kewajiban mereka untuk menyekolahkanku sudah selesai di bangku sekolah menengah atas. Sekarang, tugasku untuk membiayai jalan menuju mimpiku.

Selain itu, aku kepikiran, kalau aku pakai uang bapak ibu, terus kalau keluarga mereka butuh bantuan bagaimana? Nanti bapak ibu pusing nyari pinjaman, keluarga juga bingung mau minjam ke siapa.

"Pak, sawah sama kambing di kampung itu tabungan Bapak sama ibu, kalau Bapak mau jual nggak papa buat biaya pendidikan adek-adek. Perjalanan mereka masih panjang, Pak. Jangan khawatirin Mbak, tabungan Mbak aman, kurang setengahnya lagi, satu dua tahun uangnya cukup. Mbak sengaja nabungnya dilebihin dari perhitungan biaya pendidikan pramugari Pak, biar ada buat biaya makan, transportasi, pokoknya biar cukup buat semua kebutuhan selama pendidikan."

"Kalau Mbak udah sukses jadi pramugari, Bapak sama ibu butuh uang buat biaya adek-adek bilang sama Mbak, Bapak nggak perlu jual sawah sama kambing ya."

Air mata yang berkumpul di pelupuk mataku menetes, aku berbalik, pura-pura mencari barang sambil mengeringkan air mata. Dulu ketika bapak menawarkan hal yang sama, aku bisa menjawab dengan berapi-api, tapi jawaban kali ini aku suarakan dengan lirih, aku kehilangan kepercayaan diri untuk mewujudkan mimpiku.

Aku kembali menghadap Bapak dengan menggenggam kabel charger. "Bapak, ibu, sama adek-adek mau nemenin Mbak tinggal di kota aja Mbak udah bersyukur dan sangat berterima kasih. Mbak jadi nggak kesepian. Makasih ya, Pak."

Bukan cuma aku yang sudah berjuang sejauh ini, orang tua dan adikku pun sudah ngelakuin hal yang sama demi aku. Aku pantang mengecewakan mereka kan?

Aku berpikir lebih banyak dari sebelumnya, aku mencemaskan banyak hal. Perjalanan menuju dewasa emang serumit ini ya?

"Ya udah, kalo Mbak berubah pikiran bilang sama Bapak." Bapak menepuk-nepuk bahu kiriku pelan.

Aku menyendok nasi di piring yang aku pangku, mulai memindahkan nasi dan lauk ke dalam mulut. Menelan makanan sulit ya kalau sambil nahan nangis. Aku nggak mungkin nangis di depan Bapak, yang ada Bapak panik terus curiga. Aku nggak biasanya kayak gini, orang mengenalku dengan julukan si ceria dan anti cengeng. Geger keluargaku nanti kalau aku nangis.

"Gak kerasa, empat tahun kita merantau ke kota. Kita pindahan waktu Mbak mau daftar SMA."

Lihat selengkapnya