Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #5

4. Deep Talk Sama Pak Mahes

Kalau kita diciptain Tuhan dengan istimewa artinya kita nggak ngejalani hidup untuk yang biasa-biasa aja kan,begitu ya?

"Pak makasih ya buat hari ini, saya diajak nonton, ditraktir ramen yang enak bingits, terus sekarang ditraktir kopi di kafe mewah, pasti mahal ya, Pak?" Aku memelankan volume suara dan agak mencondongkan kepala ketika bertanya harga. "Saya seneng banget malam ini." Aku terlalu sungkan menggunakan penyebutan aku, biar gimana juga beliau tetap atasanku di tempat kerja.

"Sama-sama, Inaya." Pak Mahes menyeruput cappuccinonya lagi.

"Di mal ini udah ke mana aja? Hafal dong pasti tempat-tempatnya."

"Hafal sih hafal, sering, cuma jalan-jalan doang, cuci mata, Pak. Sayang uangnya." Aku mengaduk caramel macchiato dingin yang sisa setengah.

"Bener, berhemat, nanti kalau sudah tercapai cita-citanya, sudah punya gaji, baru puas-puasin nyenengin diri, orang tua, adik. Jangan buru-buru pacaran apalagi nikah. Nikmatin masa muda dulu, karena perjalanan kamu menuju impian sepanjang ini, Nay. Wajib dinikmatin masa-masa sendirinya." Pak Mahes yang duduk di seberangku itu menaikkan kaki kanan ke atas kaki kiri, duduk dengan santai, tubuh bagian belakangnya menempel pada sandaran punggung kursi beludru.

Aku mengangguk-angguk. "Bapak sendiri lagi nerapin apa yang Bapak omongin barusan?"

Pak Mahes mengangguk sekali. "Lebih tepatnya lagi nyiapin diri sebaik-baiknya untuk nanti jadi suami dan ayah, dulu belum nemu yang cocok jadi sekalian nikmatin masa muda. Hey, kenapa ketawa? Tiga puluh satu itu masih muda ya, Nay."

Dulu? Apa aku nggak salah denger dan mengartikan ucapan Pak Mahes? Kalau begitu, sekarang Pak Mahes sudah nemuin dong calon istri yang tepat. Siapa ya perempuan beruntung itu? Pasti seneng banget bisa disukain sama cowok sehebat, sekeren, secakep, sepinter, sebaik, sesempurna Pak Mahes. Pengen nanya buat mastiin, tapi nggak enak, emangnya siapa sih aku ini. Nanti malah jadi canggung part dua.

"Iya-iya, Pak. Wajah Bapak masih keliatan imut-imut. Baby face, ngaku aja anak kuliahan, pasti orang percaya. Pak, sesulit itu ya nemu yang cocok?" Meski menikah nggak masuk list prioritasku dalam ngejalanin hidup, nggak ada salahnya kan nanya itu sama Pak Mahes, siapa tahu aku jadi dapet ilmu, jadi tahu juga pandangan orang kayak Pak Mahes soal pasangan gimana. Anggap aja bekel buat aku kan?

"Nikah itu sekali buat seumur hidup, Nay. Nggak bisa sembarangan, nggak bisa asal pilih, wajib nyari yang berkualitas. Ini pesen juga buat kamu, nanti kalau nyari pasangan jangan asal-asalan, kalau ada yang deketin kamu, lapor sama saya, biar saya bantu seleksiin, nggak berkualitas cut." Jari tangan kanannya rapat, ditegakkan, meniru gerakan memotong daging.

Lihat selengkapnya