Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #7

6. Definisi Cinta dan Kemarahan Sindi

Definisi cinta seluas itu ya, kenapa aku terjebak pada yang dangkal?

"Anjir, kalau Mbak jadi kamu, Nay. Mbak putusin Satria, Mbak pepet pak Pradana. Jelas jauh menang pak Pradana kemana-mana." Mbak Emi menanggapi ceritaku sambil membereskan barang bawaannya karena kami akan serah terima shift.

Kalau disuruh milih, sambil merem sekali pun, aku juga jelas bakal milih pak Mahes. Rugi namanya kalau disodorin cowok modelan pak Mahes, tapi milihnya cowok modelan kak Satria. Aku lagi nggak ngeliat mereka dari sisi profesi, aku mah sama cowok pekerjaan apa pun ayok yang penting halal dan pekerja keras, aku lagi ngejatuhin pilihan berdasarkan isi kepala, tutur kata, dan kedewasaannya. Pak Mahes itu definisi pria matang yang suamiable dan ayahable, paket komplit, ada ya orang sesempurna pak Mahes?

"Itu namanya punuk merindukan unta, Mbak." Bentar sepertinya ada yang janggal.

"Pungguk merindukan bulan, Inaya dodol."

Aku nyengir sambil menggaruk kepala, jadi selama ini aku salah dong, pantas terasa janggal. "Pak Mahes cuma anggap aku adeknya, Mbak. Soalnya pak Mahes punya adek yang lebih tua sedikit dari aku." Sebentar, kenapa intonasi suaraku kayak orang lagi kecewa karena galau putus cinta?

Aku mutar otak buat ngelanjutin ucapan tadi, biar Mbak Emi nggak sadar. "Yang jelas cinta sama aku itu kak Satria, Mbak. Ngapain coba aku ngejar-ngejar yang nggak pasti?" Meski aku nggak benar-benar yakin dengan ucapanku sendiri, apa iya yang dilakukan kak Satria selama ini ke aku bentuk dari cinta?

"Cinta kamu bilang, Dek? Lagi gak ngelindur kan?" Mbak Emi menyentuh dahiku. Sementara aku memajang wajah polos, siap menerima ceramah pagi dari perempuan di depanku yang sudah menikah enam tahun, dia sudah berkacak pinggang membuat aku susah payah menelan saliva, gerogi juga kalau ditatap Mbak Emi mode serius begini.

"Cinta itu tumbuh bersama, saling percaya. Saling bagi pengetahuan, saling dukung impian, sama-sama berproses jadi semakin baik tiap harinya. Pondasi utamanya ya saling percaya, Adek bebas ngejalin relasi seluas-luasnya, tapi Adek tau batasan. Itu baru namanya cinta, Adek Inaya. Mbak tanya, Adek sama Satria kayak gitu gak?"

Sama kak Satria, aku nggak pernah dapet ilmu yang benar, tapi kak Satria dukung cita-cita aku. Aku sih ngerasa berproses kearah yang baik setiap hari, nggak tahu kalau kak Satria, kami nggak pernah tukar pikiran, bahas sesuatu yang mendalam kayak yang aku lakuin sama pak Mahes. Saling percaya? Boro-boro, aku sih iya, kak Satrianya curigaan mulu. Tadi malam buktinya, aku baru sadar kalau aku ngerasa terkekang.

Lihat selengkapnya