Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #8

7. Karma Berlaku, Kan?

Aku kira, ngelupain dan menganggap semuanya baik-baik aja, itu sudah cukup nyelesaiin masalah.

Mataku langsung terbuka ketika merasa ada jari-jari tangan yang meraba perutku. "Ibu?"

Aku yang masih setengah sadar dalam posisi rebahan mengikuti arah pandang Ibu ke perutku, jari-jari tangannya sudah berhenti bergerak, tapi masih bertengger di permukaan kulit perut. Aku makin terkesiap ketika sadar baju kaos yang aku kenakan sudah tersingkap hingga perbatasan antara perut dan dada.

"Mbak kok perutnya buncit?" Pertanyaan Ibu membuat otakku berhenti bekerja dan jantung berdetak di luar batas normal, saking kencang dan paniknya, aku merasa pagi ini dunia begitu sunyi. Hanya ada suara detak jantung dan gambaran duniaku yang diambang runtuh. Ternyata bukan cuma aku yang ngeliat perubahan di tubuh bagian perut ini.

"Ibu sering liat Mbak muntah pagi-pagi," tambah Ibu dengan suara yang nyaris nggak terdengar di telinga.

Aku mencoba ngumpuin kesadaran agar kembali utuh, kutatap wajah syok Ibu. Aku berusaha duduk, ingin menenangkan Ibu. Sayangnya, tanganku ditepis, Ibu menghampiri lemari pakaianku, membukanya dengan nggak sabaran. Tangannya meraih sesuatu, plastik pembalut berukuran besar.

Ibu mengangkat plastik pembalut ke depan wajahku. "Mbak ini pembalut yang Mbak titip ke Ibu pas ke pasar tiga bulan lalu kan? Kenapa masih utuh? Mbak?" Suara Ibu bergetar.

Aku menelan saliva, apa yang Ibu katakan barusan benar, dan aku melupakan fakta soal pembalut itu, aku nggak sadar sudah lama nggak kedatangan tamu bulanan. "Bu, Mbak nggak pernah macem-macem, mungkin faktor hormon atau stres, makanya telat datang bulan. Ibu percaya kan sama Mbak?"

"Sana Mbak siap-siap kerja, nanti pulang kerja Ibu belikan tespek." Aku terperanjat, jawaban Ibu benar-benar di luar dugaanku.

Jujur aku tidak terima. "Bu, Mbak nggak hamil, kok Ibu nggak percaya sama anak Ibu sendiri," protesku sambil terisak. Sengaja aku beri penekanan pada kata nggak hamil.

"Mahes, Mbak?"

Aku nggak habis pikir, apa yang ada di kepala Ibu sampai membawa nama yang sudah lama asing di telingaku itu dalam pembicaraan ini. "Apa sih, Bu, kenapa bawa-bawa pak Mahes?" tanyaku dengan nada suara agak meninggi karena tidak terima.

Ibu menggeleng lemah, menaruh pembalut di atas kasur dan pergi begitu saja tanpa ngomong apa pun lagi, padahal yang aku butuhkan adalah rasa percaya dan kalimat penguat darinya, sesuatu yang sering aku dengar dari lisannya, tapi mustahil aku dapat saat ini.

Kalau bisa milih, hari ini nggak mau masuk kerja, pengen ngurung diri di kamar, tapi yang aku lakuin berusaha nghentiin tangisan karena ingat tanggung jawab pekerjaan, aku nggak mau masuk kerja dengan wajah kacau.

Lihat selengkapnya