Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #9

8. Dua Garis Merah di Tespek

Di kehidupan yang satu kali ini, kenapa aku harus ngerasain gagal jadi anak dan kakak?

Aku menatap nanar tespek yang disodorkan Ibu, pikiranku malah melayang, aku sudah melenceng jauh dari impian, kuberanikan diri menatap Bapak, kemudian Ibu. Momen ini akan aku ingat seumur hidup, momen yang paling aku benci karena untuk pertama kalinya aku menghancurkan orang tuaku.

Sorot mata lelah itu, menatapku dengan sendu. Aku nggak sanggup ngeluarin satu kata pun buat ngebela diri. Kuraih tespek dengan jari-jari yang gemetar, Ibu dan Bapak ngekor, saat pintu kamar mandi kututup perlahan, aku melihat keduanya lagi. Maaf, permintaan yang hanya sanggup aku katakan dalam hati.

"Masukin air kencingnya ke gelas plastik, masukin tespeknya, diamin, terus bawa ke sini," titah Ibu hanya sanggup kuangguki.

Sejak detik ini, aku mengharamkan tanganku menyentuh benda kecil berbentuk persegi panjang mengerikan ini karena sanggup jadi penentu hidupku kedepan.

Mataku menyipit ketika melihat ada garis yang samar-samar muncul. Aku nggak paham cara kerja benda ini. Sial, aku lupa search arti dua garis itu apa. Seingatku aku pernah dengar kalau positif hamil itu dua garis biru, sedangkan ini dua garis merah. Artinya aku nggak hamil kan? Duh, mau ke luar dulu ambil handphone di tas, tapi ada Ibu Bapak di luar. Pasti ada penjelasan di bungkusnya, sayangnya Ibu cuma ngasih tespek yang sudah nggak berbungkus, pasti sengaja biar aku nggak tahu.

Semoga nggak hamil, mantra yang terus aku ulang di dalam hati sejak pertama mencelupkan benda itu ke dalam gelas. Dengan tangan kanan yang gemetar aku menyerahkan tespek pada Ibu. "Astaghfirullah, Mbak." Setelah itu Ibu jatuh pingsan, jika respon Ibu sesyok itu artinya aku hamil? Aku benar-benar hamil? Aku mengandung seorang anak?

Lututku ikut lemas, aku terduduk di sisi Ibu. "Bu, bangun, Bu." Kehancuran benar-benar menimpaku, kepalaku seperti dihantam batu besar, aku menjambak rambut.

Aku lihat Bapak ngambil tespek yang terlepas dari tangan Ibu, kuperhatikan kedua bola matanya memerah. Secepat kilat mata itu menatapku, tangan kanannya mendarat tepat di pipi kiriku. Wajahku yang dipukul, tapi rasa sakitnya sampai ke hati. Perih, panas, malu, hancur, bercampur jadi satu.

"Minggir, Mbak!" bentak Bapak menciutkan nyaliku untuk ngebela diri. Nada suara yang seumur hidup belum pernah aku dengar dari lisan Bapak, semarah apa pun dia.

Aku cuma bisa nyaksiin Bapak gendong Ibu ke kamar yang pintunya langsung ditutup sekuat tenaga. Aku usap air mata, kusentuh pipi kiri yang masih terasa nyeri. Aku pantes ya dapet perlakuan ini?

Lihat selengkapnya