Aku nggak berhak buat ngerasa nggak baik-baik aja, ya?
Aku duduk di ruang tengah, setelah tadi pulang diantar mobil polisi yang sedang patroli. Bapak dan Ibu duduk di depanku, siap menyidang. Sejauh ini nggak ada yang membuka obrolan, aku saja yang ngomong duluan biar semuanya cepat selesai.
"Mbak mau gugurin kandungan ini." Aku nggak lagi bertanya, nggak lagi minta pendapat, aku lagi ngasih tahu keputusan final yang sudah aku pikirin dari tadi.
"Mbak gak usah nambah-nambahin kesalahan, Mbak hamil di luar nikah aja udah salah besar. Mbak mau nambah kesalahan lagi dengan gugurin kandungan ini?" hardik Bapak dengan enteng.
Dari tadi aku bertanya ke diri sendiri, apakah aku bersalah atau nggak? Sejauh pertanyaan itu aku ulang, berulang kali aku ngeyakinin diri kalau aku nggak salah di sini. Sayangnya, jawaban Bapak barusan membenarkan sesuatu yang nggak aku yakini, tapi kenapa seolah aku yang paling salah. Apa cuma aku yang bersalah? Apa ini murni salahku? Kalau orang tuaku aja ngeliat aku sebagai pelaku kesalahan besar, bagaimana dengan orang lain yang bukan siapa-siapaku?
"Terus aku harus gimana?" tanyaku frustasi, rasanya kepala ini mau pecah saking banyaknya yang aku pikirin. Aku ngira Ibu sama Bapak bakal setuju, kalau iya, kita bisa nyelesain masalah lebih cepat, ngelanjutin hidup dan ngelupain apa yang terjadi hari ini kan? Aku pikir itu solusi yang bagus. Bertanya alasan ketidaksetujuan sama aja ngebuka peluang aku untuk tersudutkan lebih jauh lagi, orang tua kadang punya pemikiran yang jauh beda sama anak kan?
"Kirim nomor laki-laki itu ke Bapak." Sebuah perintah yang terdengar nggak terbantahkan.
Aku menggelengkan kepala, mau apa Bapak minta nomor cowok brengsek itu? Nggak mungkin minta tanggung jawab kan? Kalau aku tolak, nanti malah disemprot dan diceramahi panjang lebar, jujur saja, aku sudah nggak punya energi. Energi terakhir sudah kukerahkan di kedai kopi tadi.
Aku nyerah menebak-nebak, terlalu lelah untuk bertanya. Kukirim nomornya ke Bapak. Aku lihat Bapak dan Ibu saling pandang. "Siapa namanya?" tanya Bapak mungkin karena nomor itu nggak ada di kontak handphonenya, mereka lagi nggak berharap pak Mahes pelakunya kan? Eh, ngomongin pak Mahes, orang tuaku nggak ngadu ke pak Mahes kan? Duh, kacau, orang tuaku punya nomor pak Mahes lagi.
Lidahku kelu untuk nyebut nama cowok bajingan itu, nggak sudi. "Satria." Semoga setelah ini aku nggak perlu nyebut-nyebut nama si brengsek itu.
"Siapa dia?" Pertanyaan Ibu ngebuat aku mengingat setiap momen di rumah ini, ternyata nggak pernah sekali pun nama itu keluar dari mulutku. Kalau pun aku pergi jalan-jalan dengan Satria, nama mbak Emi yang selalu kujual.
"Mantan pacar, Mbak." Sumpah, aku nyesel, senyesel nyeselnya pernah jatuh cinta dan sebegitu effortnya biar bisa ketemu dan jalan-jalan sama si brengsek itu.
"Mbak pacaran?" tanya Bapak dan Ibu bersamaan, jangan lupakan nada kaget dan nggak percaya dengan informasi yang kuberikan barusan.