Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #11

10. Pernikahan Itu Tanpa Persetujuanku

Suaraku nggak sepenting itu buat didengar. Jadi ngapain aku harus cape-cape ngejelasin, nggak akan ngerubah apa pun, termasuk penilaiannya ke aku, kan?

Setelah dapet informasi dan puas maki-maki si brengsek Satria, aku langsung gedor-gedor pintu kamar bapak dan ibu nuntut penjelasan, untung saja dibuka. Kalau nggak dibuka, sudah aku dobrak pintu ini.

"Kenapa Ibu sama Bapak nggak minta persetujuan aku dulu sih?" Di jam tiga dini hari aku ngajuin pertanyaan, aku nggak lagi peduli soal ganggu jam istirahat, nggak juga nunggu waktu sampai pagi dulu biar terkesan sopan. Kalau mereka bisa ngambil keputusan tanpa kompromi, aku juga bisa nuntut buat minta penjelasan. Ini nyangkut hidup aku, masa depanku. Mereka nggak bisa seenaknya gitu aja, aku yang bakal ngejalanin semua ini.

"Apa lagi yang harus nunggu persetujuan Mbak, keadaannya kayak gini. Mau kamu kita nanggung malu? Ini aib, Mbak, aib." Pemilihan kata kamu yang digunain Bapak sangat asing di telingaku dan ternyata perubahannya cukup menyakiti hati kecilku. Ditambahkan ada kata aib di sana, oh gini rasanya dikatain aib sama orang tua sendiri. Rasa sakitnya nggak semain-main itu.

"Kalo gak sama Satria sama siapa, Mbak? Siapa yang mau nikahin perempuan yang ngandung hasil hamil di luar nikah?" Pertanyaan dari Ibu membenturkanku pada sebuah kenyataan pahit yang sampai detik ini belum bisa aku terima.

Bapak sama Ibu bisa nggak sih stop memperjelas kalau aku hamil di luar nikah, aku malu dengernya. Posisiku benar-benar serba salah ya? Nolak nikah sama si brengsek Satria untuk nyelametin diri sendiri, tapi sama dengan mempermalukan orang tua. Nerima nikah sama bajingan Satria sama dengan ngebunuh diri sendiri secara perlahan, tapi seenggaknya aku nyelametin nama baik keluarga, ya meski tetap nggak baik-baik amat. Kalau anak ini lahir juga pasti nanggung malu, jadi bahan gunjingan karena jarak nikah ke lahiran berdekatan.

Meski persetujuanku nggak penting karena mereka sudah ngambil keputusan, mereka pasti tetap butuh jawabanku buat melegakan dan ngasih validasi kalau keputusan mereka tepat. "Okey, Mbak nikah sama Satria, tapi kasih Mbak waktu. Ya Pak, Bu? Mbak mohon, cuma satu ini permintaan Mbak ke Bapak sama Ibu." Mengiyakan sesuatu yang nggak aku setujui itu nyakitin banget ternyata. Aku minta waktu bukan untuk mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan status baru, tapi berharap orang tuaku berubah pikiran dan membiarkanku hidup tanpa pernikahan sama siapa pun, termasuk si brengsek Satria.

Menerima anak yang ada di dalam kandunganku saja belum tentu bisa, apalagi harus satu rumah sama si penghancur masa depanku. Aku bisa ngebayangin seneraka apa hidupku setelah kami hidup serumah.

"Jangan lama-lama Mbak, kita berkejaran sama waktu."

Lihat selengkapnya