Si ceria yang terbiasa dipeluk hangat orang-orang rumah harus ngerasain asing di rumah sendiri.
Nggak ada orang rumah yang baik-baik saja setelah hari itu, seperti hari ini sudah tiga hari sepulang kerja aku ngeliat Bapak ngelamun di teras, kegiatan yang nggak pernah Bapak lakuin sebelumnya.
"Bapak udah makan?" tanyaku pada akhirnya karena kedatanganku nggak cukup menarik perhatian Bapak.
Bapak menoleh sebentar, aku sempat menangkap tatapannya yang dingin.
"Udah," kata Bapak setelah tatapannya kembali lurus ke depan. Seakan aku nggak sepenting itu buat diajak ngobrol.
Jawaban itu adalah jawaban tersingkat yang pernah aku denger dari lisan Bapak, sialnya sanggup bikin nafasku sesak, nggak ada pertanyaan balik, nggak ada perintah buat nggak nunda makan dan istirahat yang aku dengar dari Bapak. Ternyata hal-hal sederhana yang biasa Bapak lakuin ke aku itu berarti ya, aku ngerasa kehilangan.
Aku berpindah ke dapur, kuliat Ibu sedang mengadon donat, tapi matanya lurus menatap ke dinding. Kuperhatikan dinding itu, nyari sesuatu yang menarik di sana, apakah ada seekor cicak yang sedang mengejar nyamuk, sayangnya mataku nggak nangkap apa-apa selain dinding yang warna catnya mulai pudar. Aku menarik napas pelan, kemudian mendekat dan bertanya, "Ada pesanan donat lagi, Bu?"
"Bu ada pesanan donat?"
"Ibu pesanan donat ini dari siapa?"