Hari ini aku ngerelain banyak hal, cita-cita yang kuperjuangkan, status single, dan banyak hal yang akan berubah di masa depan karena aku memilih jalan berbeda dari yang sudah direncanakan.
Endra dan Ghani ngira semuanya berjalan baik-baik saja seperti hari-hari sebelumnya, makanya keesokan harinya setelah kejadian ditampar Bapak, sepulang kerja Endra ngasih pertanyaan rutin soal progresku untuk mewujudkan cita-cita jadi seorang pramugari sudah berapa persen. Hari itu untuk pertama kalinya, aku ngasih jawaban yang berbeda, bukan sebuah angka persen, tapi kalimat yang nggak pernah aku bayangkan keluar dari lisanku sebagai jawaban. "Mbak udah nggak bisa ngejar cita-cita jadi pramugari."
Aku begitu ingat respon Endra hari itu, dia tersenyum dan mengangguk kecil. "Nggak apa-apa, Mbak." Kemudian Endra menepuk bahu kananku tiga kali. Sejak hari itu, aku nggak lagi ngedengar pertanyaan rutinan dengan pemilihan kata yang sama dan intonasi khas seorang Endra, nggak juga dapet pertanyaan tentang alasan kenapa aku nggak bisa ngejar cita-cita, bisa jadi karena dia mengetahui semuanya atau dia bertanya alasannya, tapi pada ibu dan bapak.
Aku jadi lebih sering ditanya, "Mbak baik-baik aja, kan?" oleh Ghani, seolah dia lagi ngambil alih tugas Endra buat ngasih pertanyaan, sayangnya dengan pertanyaan yang tentu berbeda karena situasinya sudah jauh berubah.
Aku kehilangan banyak interaksi dengan kedua adikku, tapi seenggaknya dalam sehari mereka ngajakku berbicara meski singkat, mungkin mereka sedang butuh waktu buat mencerna apa yang terjadi pada kakak pertama perempuan yang selalu dibanggakannya dan bingung harus bersikap seperti apa, berinteraksi seperti biasanya atau ikut mendiamiku seperti yang dilakukan ibu sama bapak.
Ketika aku disandingkan di meja akad, aku sempat melirik cowok brengsek yang sebentar lagi bakal ganti status dari mantan pacar jadi suamiku. Sial, aku masih nggak percaya, semuanya kerasa kayak mimpi, aku ngerasa hari-hariku berjalan dengan ngambang, aku kayak lagi berada di antara dunia nyata dan alam mimpi, apa karena aku masih nggak bisa terima dengan semua yang terjadi ini ya? Jadi kengambangan itu bentuk pertahanan diriku agar aku tetap waras dan keliatan baik-baik aja di depan semua orang.
Aku jadi teringat ucapan manis Satria dulu sewaktu menembakku, ucapan yang berhasil ngebuat aku luluh, percaya, tergiur dan akhirnya kami berstatus pacaran. "Aku gak bakal ngajak kamu nikah dalam waktu dekat, syarat jadi pramugari itu gak boleh menikah dulu, kan? Aku bakal dukung impian dan nunggu kamu." Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang dia lakuin.