Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #14

13. Nggak Punya Hak Buat Nolak?

Aneh rasanya, ketika aku yang terbiasa dihadapkan pilihan, berpikir kemudian memilih mendadak kehilangan hak buat nentuin pilihan.

Hal menjengkelkan pertama setelah kami menikah adalah berdebat soal tempat tinggal, aku emang nggak ada bahas soal ini ke Satria karena kupikir ya harusnya dia yang mikir dan berinisiatif nyari tempat tinggal karena yang dibutuhin pertama setelah nikah pasti tempat tinggal lah. Nggak punya tempat tinggal mau berteduh di mana? Balik ke rumah orang tua masing-masing? Sumpah ya, hal basic gini aja otaknya Satria nggak nyampe, males mikir apa gimana sih?

Jadi setelah berinteraksi dengan tamu yang nggak kusangka terus berdatangan dari siang sampai malam, karena yang katanya ngundang tetangga sekitar itu jadinya ngundang warga beberapa RT ini mah. Aku bukannya langsung menuju rumah untuk istirahat, tapi aku lagi-lagi harus nguras energi dengan berdebat sama Satria dan mikir, mana kalau sudah cape gini otakku agak buntu. Kuputuskan malam ini tidur di rumah orang tuaku, nggak memungkinkan nyari rumah kontrakan dadakan di jam segini. Biar pun dapet, ya itu rumah pasti kan harus dicek dulu cocok apa nggak, dibersihin dulu, bawain pakaian karena aku nggak punya perabot yang bisa dibawa ke rumah kontrakan.

Aku mendorong Satria ke pintu kamarku. "Sana keluar, kamu ke rumah orang tuamu. Inget, cari kontrakan yang kamarnya dua!"

"Buset baru tadi pagi akad, udah pisah rumah aja. Gak mau! Ngantuk, kalo ada apa-apa di jalan gimana sayang? Aku tidur sini ya?"

Akal sehatku nggak ngizinin cowok brengsek ini tidur satu kamar sama aku, biar gimana pun dia sudah jahatin aku, tapi status suami istri yang dengan terpaksa harus melekat di kami ngebuat tindakanku jadi terbatas. Aku juga jadi mikirin gimana pandangan orang lain kalau aku ngelakuin sesuatu yang nggak wajar dilakuin sama sepasang suami istri. Gila ya, jadi seribet dan seruwet ini perkara aku mau tidur, istirahat doang lho ini, belum lagi soal nggak tahu nanti apa. Hah! Belum dua puluh empat jam nikah sudah sepusing ini.

Aku menarik napas, kususun bantal dan guling sebagai pembatas. "Awas jangan berani-berani lewatin batas ini! Kalo berani, aku bakal teriak."

Kurebahkan badan di sisi kanan kasur dekat dinding, kubelakangi Satria, nggak lupa kutarik selimut sampai menutupi bibir. Sumpah saking tegang, deg-degan, jantungku kayak mau loncat dari tempatnya. Sengeri, secanggung, setegang, semual, semalu ini. Aku nggak pernah ngebayangin bakal ada di situasi dan momen ini, apalagi cowoknya si brengsek Satria.

Nggak tahu sudah berapa lama aku terlelap, aku juga nggak ingat apa yang aku pikirin terakhir sebelum menjemput mimpi malam ini. Aku juga nggak tahu ini jam berapa, tapi aku ngerasa ada pergerakan dari bantal dan guling yang ada di belakangku, kemudian setelah terasa kosong, jantungku mulai berdetak cepat lagi, aku mulai masang mode waspada, jaga-jaga ada pergerakan dari Satria. Ini dia lagi tidur terus ngigo apa sudah bangun tidur? Tapi ngapain bangun jam segini, feelingku masih tengah malam, aku ngerasa baru tidur sebentar.

Jantungku langsung terasa melorot ketika ada tangan besar melingkar di perutku. Kesadaranku yang masih setengah langsung terasa full, aku terduduk dengan tiba-tiba.

Lihat selengkapnya