Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #15

14. Serumah Sama Mertua

Sadar kalau kehadiranku sudah nggak diterima itu sakit ya?

Dari atas motor Satria, kutatap satu per satu wajah yang setiap hari bisa aku lihat. Kutatap sepuas yang aku bisa, sebelum kakiku ngelangkah pergi, semoga dengan kepergianku sedikit ngobatin rasa sakit di hati orang tuaku karena nggak perlu liat wajahku lagi di rumah ini.

Maaf, seseorang yang menjadi alasan kalian pergi jauh dari kampung halaman malah berjalan ke arah yang beda. Kata maaf masih terlalu sulit untuk keluar dari lisanku, mungkin karena aku masih bersikeras berada dikebenaran.

Aku juga nggak bertanya rencana mereka setelah ini apa, pasti mereka juga kehilangan arah ya?

"Mbak pamit." Hanya dua kata itu yang sanggup keluar dari lisanku sebelum motor ini melaju kencang membelah jalan ibukota di siang hari yang panasnya sanggup menyengat kulit yang sudah tertutup jaket.

Sepanjang jalan air mataku menetes, memutar ulang momen demi momen keberangkatan ke ibukota, aku masih bisa merasakan bagaimana penuhnya hatiku dengan rasa bahagia karena merasa semakin dekat dengan cita-cita menjadi seorang pramugari.

Kemudian aku teringat Sindi, cucunya adik kakekku dari pihak bapak yang hidup berkecukupan sejak kecil. Rumahnya di desa tergolong mewah karena orang tuanya dari kalangan berada, punya penggilingan padi dan sawah yang luas. Sejak sekolah dasar sampai menengah pertama, aku dan Sindi satu sekolah, dari dulu aku nggak pernah akrab sama dia, tapi aku cukup kenal dekat sama orang tuanya karena rumah kami berdekatan dan orang tuanya sering ngobrol sama ibu bapak.

Kata orang tuanya, Sindi itu pengen jadi polwan, orang tuanya nyambut baik lah keinginan anak semata wayangnya itu. Semenjak pindah ke kota, aku sudah nggak pernah komunikasi sama orang tuanya Sindi, tapi nggak lama setelah aku lulus sekolah menegah atas, orang tuanya meneponku, dari pengakuan orang tuanya sih, Sindi nggak lolos seleksi soalnya nggak pernah nyiapin diri dengan baik, sekolah sering bolos, nggak latihan fisik, nggak belajar di rumah. Mereka pusing liat anaknya nganggur terus nggak punya kegiatan di rumah, luntang-lantung aja tiap hari, sudah disuruh daftar khursus apa buka usaha, anaknya males-malesan, jadi aku berinisiatif ngasih info beberapa lowongan di tempat aku kerja ini. Sindi lolos jadi housekeeping.

Jujur, aku sakit hati banget kalau ingat momen ini, Sindi itu bisa dibilang kacang lupa kulitnya, tapi aku tuh nggak papa banget kalau dia nggak inget sama jasa aku yang ngasih info loker, aku sakit hatinya justru karena dia terduga kuat bersekongkol sama Satria, apa yang dia lakuin ngancurin mimpiku, mimpi orang-orang di sekitarku. Parah, dia tahu gimana sakitnya gagal ngeraih impian, tapi malah ngelakuin ini ke aku. Sialnya, bukan cuma mimpiku yang hancur, tapi hidup dan masa depanku, mau jadi apa dan kayak gimana aku nantinya aja aku nggak sanggup ngebayangin.

Kalau nggak bisa balas kebaikanku, toh aku juga nggak minta dibales, cukup jangan sakitin aku, sudah itu sudah cukup banget buat aku. Tapi, brengseknya Sindi malah ngancurin hidupku. Di kesempatan apa pun aku nggak mau lihat wajah dia lagi, seumur hidupku, aku nggak sudi buat liat dia. Sehancur dan sebutuh apa pun dia sama aku, nggak akan pernah mau ketemu dia lagi. Senyesel dan sememohon apa pun pun dia buat ketemu, nggak akan aku kabulin.

Aku yakin, suatu saat nanti, pasti dia bakal dihantui perasaan bersalah, karena ngelakuin hal jahat sama kayak lagi nanem kesalahan, sewaktu-waktu bakal dia panen sesuai yang ditanem.

Lihat selengkapnya