Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #16

15. Cantik-Cantik Murahan?

Kenapa label murahan itu sering disematkan buat perempuan? Semudah itu orang ngasih label jahat ke orang yang jalan hidupnya aja nggak dia tahu.

Pintu kamar yang baru aku buka sedikit tertahan ketika aku mendengar sepenggal obrolan ibu mertua, pasti lagi ngomong sama bapak mertua. Mereka kan cuma tinggal bertiga, soalnya anak pertama laki-lakinya merantau ke luar negeri jadi tenaga kerja Indonesia.

"Cantik-cantik kok murahan?"

Kutelan susah payah saliva, meski di obrolan itu nggak nyebutin nama, aku ngerasa itu ditujukan untukku. Sakit ya ternyata diomongin yang nggak baik tuh. Seumur-umur aku nggak pernah diomongin pakai kata-kata yang nyakitin perasaan. Aku mengumbuskan napas pelan, aku nggak pernah tahu cerita seperti apa tentangku yang sampai ke telinga mereka sampai-sampai mereka memberi label cantik-cantik murahan.

Menikah dengan kondisi hamil aja sudah bisa kutebak sih mereka berpandangan kayak gimana ke aku, siapa sih orang di dunia ini yang bisa berpandangan baik ke perempuan yang hamil di luar nikah? Nggak ada. Pokoknya yang salah perempuannya, kenapa nggak nolak, tuh kan pasti yang kena sasaran empuk si perempuan. Kalau laki-lakinya nikahin si perempuan yang dipuji bertanggung jawab juga cuma laki-lakinya. Nggak adil emang. Pelaku kok dipuji, brengsek.

Biar brengsek-brengsek gitu juga, kalau ada dia aku bisa ngerasa cukup aman di rumah mertua, karena mertuaku itu bakal bersikap cukup baik, meski dari tatapannya tetap keliatan nggak suka sih. Kalau nggak ada Satria, beuh, omongan pedes keluar semua nggak pake rem. Boro-boro mau sarapan sesuai pesen Satria tadi malam sebelum berangkat kerja shift malam. Nampakin diri di depan mertua aja ketar-ketir aku. Mereka tipe-tipe mertua julid yang suka ikut campur urusan anak sama menantu, yang sering dicurhatin netizen di media sosial. Nggak nyangka, sekarang aku dapet modelan mertua gitu. Asli nggak nyangka.

"Okey, tenang, Nay. Mereka nggak tau cerita lengkapnya. Cukup keluar kamar, pamitan berangkat kerja. Udah segitu doang, gampang. Bisa!" Aku berbisik pelan ke diri sendiri sambil memegang knop pintu sekencang yang aku bisa buat ngusir gugup.

"Jangan minta uang Satria banyak-banyak, dinikahin aja udah syukur kamu!"

Baru tangan kananku terangkat buat menyalimi tangan keduanya bergantian, mulutku aja belum sempat ngomong pamitan, sudah dibuka obrolan ini sama apa tadi katanya? Jangan minta uang Satria banyak-banyak? Logikanya Satria itu suamiku, bebas dong istri minta uang suaminya. Duh, apalagi ini.

Lihat selengkapnya