Dunia nggak ramah sama orang yang punya label buruk.
"Mbak sini dulu." Endra melambaikan tangan, dia menjemputku di depan gang. Kulirik jam di pergelangan tangan sudah dini hari tepatnya jam dua belas lewat. Pulang kerja tadi aku sempat mampir makan, mengambil baju di rumah mertua untuk nginap di sini, makanya jam segini aku baru sampai.
Aku mengikuti Endra untuk menuju salah satu ruko yang sudah tutup. Kepalaku terus bertanya-tanya, Endra mau bicarain apa sampai ngajak mampir dulu? Setelah duduk di samping Endra, aku memperhatikan wajahnya, di sana ada keraguan, kegelisahan, dan rasa takut, mungkin. Aku mulai ketularan mbak Emi jadi pembaca ekspresi orang.
"Kenapa, Dek? Kalau ada sesuatu ngomong ya, jangan dibiasain dipendem sendirian, kamu bisa cerita apa aja sama Mbak." Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan tempat aman untuk cerita, aku tahu bagaimana sesaknya memendam semuanya sendirian.
Aku teringat pesan yang dikirim ibu ketika aku di hotel tadi sore. "Oh iya, kenapa dadakan mau pulang kampung?"
"Yang pulang kampung ibu, bapak sama Ghani aja Mbak."
Dahiku mengernyit. "Lha, terus kamu gimana?"
"Aku mondok, itu pesantren yang deket sini Mbak, sudah didaftarin tiga hari lalu." Endra menunjuk lokasi pesantren yang nggak jauh dari lokasi kami duduk.
Aku mengangguk-angguk, aku jadi teringat, adikku ini dulu emang punya cita-cita jadi Ustadz, ternyata dia masih ingat dan perjuangin cita-citanya. Aku bangga. Kuusap rambutnya. "Belajar yang baik, Dek. Perjuangin cita-citanya, kalau butuh apa aja selama mondok, telepon Mbak aja ya."
Dia mengangguk, matanya yang tadi menatapku kini beralih menatap lantai semen yang sedang kami pijak. "Mbak diomongin warga sini, makanya ibu bapak milih balik kampung, gak tahan sama omong warga."
Kuperhatikan Endra sibuk merogoh saku celana, mengotak-atik handphone, kemudian disodorkannya handphone yang sedang membuka aplikasi galeri.
Di sana ada sebuah foto perut yang sangat jelas terlihat buncit, aku berusaha menyambungkan informasi dari Endra dan foto ini. Ah, aku ingat ini baju yang sama dengan baju yang aku pakai sewaktu acara syukuran di rumah ibu bapak. Artinya, ini fotoku?
"Ini bukan aku yang foto, Mbak. Ada tamu syukuran yang foto perut Mbak terus disebarin ke warga, foto ini sampai ke temenku terus dikirim ke aku."
Aku paham sekarang, pantasan ibu sama bapak milih buat kembali ke desa, keterlaluan banget sumpah warga sini, segitunya ngurusin hidup orang, kayak mereka suci dan nggak punya dosa aja. Ibu, bapak sama aku sudah segitunya berkontribusi buat warga sini, kerja bakti ikut terus, dimintain tolong dibantuin, disuruh ngajarin anaknya ya aku ajarin sampai ada yang tadinya rangking terakhir jadi masuk sepuluh besar. Dasar manusia, yang diinget salahnya doang, baiknya dilupain.
Gimana sama warga desa? Aku cuma takut informasi ini juga sudah sampai ke sana. Aku nggak tahu ibu bapak bakal dapet omongan jelek nggak di sana ya. Kepalaku mendadak pening, kusodorkan plastik berisi martabak manis dan asin yang tadi kubeli ke Endra, jaga-jaga aku jatuh pingsan.