Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #18

17. Pilihannya Resign atau Tinggal Sama Mertua?

Bahayanya salah pilih suami, nyawa bisa jadi taruhannya.

Setelah membaca chat dari Satria, aku tadi langsung menekan telepon, kumaki-kumaki dengan segala jenis makian yang aku tahu, makanya Satria sekarang ada di sini, di rumah bekas kontrakan orang tuaku. Datangnya dia ke sini bukan buat ngebicarain secara baik-baik, nemuin solusi, tapi memperpanjang perdebatan kami. Aku jelas keukeh ingin kerja, sementara Satria ngasih piihan yang nggak bisa aku pilih.

Tangan besarnya itu memegang rahangku, aku sudah berusaha ngelepas nggak berhasil. Didekatkannya wajahnya ke wajahku. Kemudian tangan satunya mengelus rambutku. "Terserah kamu, pilih resign kita bakal ngontrak, apa tinggal selamanya sama orang tuaku. Kamu maksa tetap kerja yaudah, kita tinggal selamanya sama orang tuaku plus aku bakal minta jatah tiap hari."

Satria melepaskan wajahku dengan kasar, leherku sakit harus mendongak agak lama untuk menyetarakan tinggi tubuhnya.

Kutunjuk wajahnya dengan emosi yang meletup-letup, terakhir kuluapkan kemarahan sudah lama ketika aku melabraknya di kedai kopi. "Anjing ya kamu Satria. Belum cukup kamu ancurin masa depanku, hubunganku sama orang tuaku, sekarang kamu mau mutusin aku sama satu-satunya hiburanku, kerja itu hiburanku biar tetap waras!"

Satu tamparan dengan cepat melayang ke pipi kiriku, saking kuatnya atau karena aku nggak siap, bukan cuma kepalaku yang tertoleh ke kanan, tapi tubuhku sampai oleng, bahkan nyaris jatuh. Kusentuh pipiku yang panas, kepalaku sedikit pusing.

"Berani kamu ngomong anjing sama suami? Mau aku tambahin?" Suami macam apa yang nggak suka dikatain anjing, tapi ngasih tahunya lewat kekerasan? Sampai ngancem mau ngulang? Nggak waras Satria.

Lihat selengkapnya