Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #20

19. Mengandung Itu Nggak Mudah, ya?

Pantesan surga ada di telapak kaki ibu, ngandung sembilan bulan dengan segala perjuangan dan pengorbanan itu nggak mudah.

"Psikopat." Komentarku pelan ketika ngeliat perubahan sikap Satria yang begitu cepat, setelah menganiaya dan nggak memperdulikanku di rumah sakit, ujug-ujug dia datang sehari sebelum aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter, dia bersikap kayak nggak terjadi apa-apa. Kata maaf aja nggak aku denger keluar dari mulutnya. Psikopat kan namanya?

Satria menggelar kasur yang baru diantar kurir toko perabotan rumah tangga, uangnya dari mana? Jelas dari kantongku, karena Satria sudah mengeluarkan uang untuk membayar rumah kontrakan.

"Sini sayang, duduknya pindah ke kasur biar empuk."

Aku menurut, sakit duduk lama-lama di lantai. Permintaanku soal rumah kontrakan dua kamar jelas nggak dikabulin alasannya harganya jauh lebih mahal. Ya sudahlah, yang penting nggak serumah sama mertua.

Kuselonjorkan kedua kaki yang akhir-akhir ini gampang kram, aku juga jadi sering nyeri punggung, perut mulai kerasa berat, mulai stres karena muncul stretch mark di kulit mulus yang selama ini aku rawat. Perjuangan dan pengorbanan jadi seorang ibu sebanyak dan seberat ini ya? Pantesan surga ada di telapak kaki Ibu, selama hamil, aku jadi sering ngebayangin, oh gini kali ya dulu rasanya waktu ibu hamil aku, Endra, Ghani.

"Ayo makan siang dulu, abis ini aku langsung otw kerja." Satria datang membawa dua nasi bungkus, nggak ada sendok, nggak ada piring. Aku bangkit untuk mencuci tangan.

Aku duduk di seberangnya, aku memilih diam, selain malas, aku nggak punya topik obrolan.

"Beli perabotan pas gajian bulan depan sayang. Uangku udah abis." Gila emang si Satria, belum sampe dua minggu habis gajian itu duit sudah lenyap.

"Kamu tuh udah nikah, Sat. Belajarlah ngatur uang, kalo bener ngaturnya, pasti uang cukup sampe gajian selanjutnya. Aku udah nggak kerja loh, nggak bisa bantu nutupin kebutuhan," tegurku karena ide gila resign ini datang dari dia, masa iya aku harus nanggung biaya hidup berdua, kalau buat makanku sendiri sih aku ada.

Lihat selengkapnya