Nggak ada rasa cinta dan aman yang setara sama pemberian bapak.
Untung aja jarak rumah kontrakan ke mesin ATM sekitar lima ratus meter aja, jalan kaki pulang pergi juga oke segini mah. Aku masuk, membuka resleting tas selempang, kuambil dompet, begitu dompet terbuka menampilkan deretan kartu, kuabsen KTP, NPWP, kartu atm khusus transaksi yang terdaftar m-baking. Deg.
Jantungku kayak langsung dipaksa berhenti bedetak, nyawaku seolah lagi ditarik paksa. "Kartunya mana? Kok tempatnya kartu atm tabungan kosong?"
"Mbak udah belom, antri nih."
Kutoleh dan benar saja sudah ada tiga orang yang antri, aku keluar mesin ATM dengan linglung. Kuubek-ubek isi tas dan dompet, takut aku lupa kartu itu sudah kukeluarkan atau terselip. Nihil, aku nggak ngeliat dan nggak inget kartu itu ada di mana. Astaga, uang tujuh puluh juta ada di kartu itu.
"Tenang dulu, Nay. Panik nggak akan bisa mikir." Kutarik napas dari hidung, kukeluarkan dari mulut.
Aku diam dalam posisi berdiri, kuputar ulang memori, kutelusuri di mana kemungkinan kartuku itu berada. Nggak mungkin tercecer, seceroboh-cerobohnya aku, mustahil kalau tercecer. Jatuh juga nggak masuk akal, dompetnya ada, kartu lainnya aman. Oke, kemungkinan tercecer atau jatuh coret. Bukan dua itu. Kupaksa kepalaku untuk mengingat.
"Sayang kok kamu pinter atur uang? Gimana caranya?"
"Aku diajarin buat nyatet pemasukan sama pengeluaran, bedain bank buat nabung dengan bank buat pegangan selama sebulan, jadi kalo transaksi apa aja pakenya bank yang isinya uang pegangan itu."
"Aku sengaja pisahin bank buat nabung dengan bank buat pegangan. Yang didaftarin m-banking ya bank yang isinya uang buat pegangan, sekarang kan zamannya bayar apa-apa pake qris, belanja bisa lewat hp, biar nggak kalap kalo belanja jadi yang bank tabungan nggak usah daftarin m-banking."
Hanya ingatan itu yang aku ingat tentang bank dan tabungan, nggak ada ingatan yang lain. "Anjir, masa iya diambil Satria kartunya? Dia kan nggak tau pinnya, terus buat apa?"
Kulangkahkan kaki lebar-lebar balik ke rumah, salah satu kunci jawabannya ada di buku catatanku, kalau sampai buku itu hilang atau bagian pinnya robek. Fix, Satria yang ngambil kartuku. Anjing Satria kalau sampai bener dia yang ambil aku nggak tahu bakal ngelakuin apa sama dia, pantes kubunuh sih dia. Itu uang yang susah payah aku kumpulin, orang tuaku aja nggak pernah minta, dia siapa ngerasa berhak make uang itu?
Dengan nggak sabaran kuputar kunci rumah berkali-kali. "Halah, pake macet segala lagi."
Kuliag sendal aja sampai nggak terlepas dari kakiku. Kubuka pintu kamar dengan kuat, aku obrak-abrik baju dari dalam tas pakaian, soalnya buku itu aku amankan di paling bawah baju.
"Bukunya ada." Napasku tercekat ketika jari tanganku sampai ke halaman yang berisi catatan pin ATM. Pinnya emang masih ada tertulis di sana, nggak hilang kayak dugaan awalku, tapi kertas bagian bawahnya robek.