Dulu, aku yang paling ingin menghilangkannya. Sekarang, aku yang paling menangisi kepergiannya.
"Benturan keras membuat plasenta atau yang dikenal dengan nama air-air itu terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya sehingga suplai oksigen untuk janin terputus. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa. Turut berduka cita yang mendalam, Bu Inaya."
Kuraba perut yang sudah rata, perasaan bersalah dan menyesal itu diam-diam ikut menyusup. Bayi yang kehadirannya sempat kutolak, ingin kuhilangkan kehadirannya, sekarang benar-benar pergi meninggalkanku. Apa anakku itu mengetahui keinginanku dulu? Makanya dia memilih pergi sebelum waktunya lahir ke dunia.
Apa anakku tahu kehadirannya nggak kuingini dan dia memilih pergi karena nggak sanggup kutolak. Aku belum benar-benar menjaganya dengan baik, aku belum benar-benar memberinya nutrisi, vitamin dan susu ibu hamil sebagai asupan terbaiknya. Bahkan aku belum sempat melihat rupanya lewat USG yang sempat kurencanakan.
Aku baru memulai, memulai menerimanya dengan baik, mulai memeriksakan keadaannya satu kali. Kenapa kamu ninggalin ibu sendirian, nak?