Definisi orang yang lagi kehilangan arah diarahin sama yang nyaris hilang arah dan bertekad lagi nyari arah hidup.
Aku nggak tahu ada di mana, nggak tahu seberapa jauh kakiku ngelangkah, yang aku lakukan kalau ngantuk tidur di teras masjid, kalau haus mampir minum air keran masjid, kalau lapar kutahan kadang ada yang ngasih. Nyangka nggak, Nay? Pertanyaan yang selalu aku tanyain kalau aku ngelakuin hal baru yang sebelumnya nggak pernah aku lakuin. Pasti jawabannya sama, nggak nyangka, anehnya tetap aku tanya.
Aku menaiki anak tangga jembatan penyebrangan, begitu sampai di atas. Tubuhku langsung kaku, harusnya kan aku yang ada di sana, mataku disuguhkan dengan pemandangan seorang gadis yang sedang memanjat pagar pembatas jembatan. Kuliat ke bawah nggak ada tanda-tanda ada orang yang bakal naik, kuliat ke ujung jembatan juga sepi. Waduh, ini kalau aku teriak minta tolong apa dia nggak kaget dan makin nekat buat loncat ya?
Nggak, nggak boleh, dia nggak boleh sampai loncat. Dengan langkah gemetar dan perasaan yang nggak pernah kurasain sebelumnya, aku menghampiri gadis berambut pendek yang hampir berhasil naik ke pembatas jembatan.
"Hai, Dek. Sebentar, aku kayak pernah liat kamu. Di mana ya?" Kuputar semua memori yang aku punya. Ah, aku ingat.
"Kalau kamu pergi paksa hari ini, kucing-kucing jalanan yang biasa kamu kasih makan itu bakal kehilangan, bakal sedih dan nunggu kamu seharian. Belum tentu ada yang mau gantiin tugas kamu, Dek."
"Aku malu, Kak. Aku hamil, pacarku janji mau tanggung jawab, tapi dia malah lari, engga tau ke mana."
Aku hampir oleng mendengar jawaban nggak terduga dari gadis perempuan ini, aku kayak lagi ngeliat diriku sendiri.
"Kalau kita nggak kuat, Tuhan nggak minta kita buat pulang secara paksa, tapi Tuhan minta kita bertahan semampu yang kita bisa. Siapa tau dihari-hari sulit yang lagi kita jalanin buat bertahan itu, Tuhan kirim keajaiban berupa penyesalan, pengakuan dosa, pertaubatan, ketenangan, penerimaan, perbaikan, dan perubahan."
Keliatannya berhasil, dia mulai turun dari pembatas ke jembatan. Duduk dengan lemas di jalanan jembatan, aku juga deh ikutan duduk, baru kerasa capenya sekarang.
Kuusap punggungnya pelan. "Hidup emang nggak sesimpel kita ngebalik tangan, Dek. Tapi, semua yang terjadi pasti punya alasan yang nggak wajib kita ngerti sekarang. Seseorang pernah bilang ke Kakak, sebenarnya dunia itu sangat indah, jadi terlalu sayang jika ditinggalkan secara paksa. Emang agak kaku sih pemilihan kata-kata orang itu, tapi maknanya dalem. Kakak tambahin, soalnya hari ini Kakak menyadari satu hal, dunia terlalu luas, sayang kalau nggak kita jelajahi. Coba deh, temuin satu alasan sederhana kenapa Adek harus bertahan, kalo udah, temuin alasan-alasan lainnya."
Menasihati orang lain paling pandai, giliran ke diri sendiri aja nggak mampu. Dasar aku. Bentar, kata-kata sebanyak dan sebijak tadi keluar dari mulut orang yang nyaris kehilangan arah? Mengarahkan orang yang kehilangan arah, padahal sendirinya juga nggak tahu arah selanjutnya.
Orang yang puasa ngomong selama di kos bisa keluar kalimat sepanjang dan sedalem itu, aku nggak nyangka lagi bisa ngeluarin kata-kata kayak barusan. Kok bisa sih, Nay? Bagus sih kata-katanya, bakal aku resapi, rugi kalau aku berhasil nasihatin orang lain, tapi nggak berhasil ke diri sendiri.
"Ngasih makan kucing, nyiram bunga, engga kepikiran yang lain, baru itu aja."
Senyumku terbit karena berhasil mgebuat Adik ini berpikir hal-hal sederhana yang bisa bikin dia bertahan. "Bagus, nggak papa, itu dulu aja, nanti sambil dipikirin. Mau Kakak anter pulang? Tapi jalan kaki."
Dia menggeleng lemah, mengucapkan terima kasih, dan berpamitan untuk pulang. Sebelum ninggalin aku, dia memelukku sebentar. "Hidup yang lama di dunia, Kak. Mungkin ada banyak orang yang butuh Kakak selametin dari rasa putus asa."