Keluarga tetap menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, meski satu dengan yang lain punya pandangan yang beda.
"Kak aku mau potong bob terus diwarnain caramel brown ya." Aku memberi tahu kakak yang bertugas memotong rambutku, kukembalikan buku yang menampilkan berbagai contoh warna rambut beserta namanya.
"Kak Yumna seriusan potong rambut doang? Nggak sekalian diwarnain?"
Dia mengangguk. "Potong aja, Nay. Makasih ya."
Aku menatap pantulan diri di kaca yang ada di depanku, sangat puas dengan hasil potongan rambut dan warna barunya. Nggak sia-sia ngabisin beberapa jam di salon. Kuliat kak Yumna dari pantulan cermin sedang sibuk dengan handphone, pasti lagi ngetik novel.
Sekelebat pendengaranku seolah bisa kembali mendengar berbagai omongan yang menyatakan kalau yang terjadi padaku adalah sebuah kesalahan, omongan yang berhasil memadamkan seorangan Inaya.
"Mereka menyebutnya sebagai kesalahan, aku melihatnya sebagai kejahatan."
Apa yang terjadi ke aku bukan semata karena kesalahanku, tapi hasil dari kejahatan Satria dan Sindi. Mereka mudah menghakimiku, padahal nggak pernah benar-benar tahu keseluruhan ceritaku.
"Hai, kenalin aku Inaya Pramudita. Mulai sekarang, panggil aku Pramudita." Jika Inaya nggak punya keberanian untuk melawan, biarkan aku bangkit sebagai Pramudita.
Hari ini sudah memasuki bulan selanjutnya, hari begitu ya, terus berjalan tanpa bisa ditahan biar gimana pun keadaan dan perasaan hati.
Kutarik napas pelan, kemudian aku klik gambar pesawat di pojok kanan atas keyboard. Centang dua, kemudian centang biru. Layar handphone menampilkan panggilan video dari nomor yang baru saja kukirim screenshot pengumuman.