Menyatukan Kepingan Diri

Rani Septiani
Chapter #28

27. Waktunya Bangkit dan Nuntut Keadilan

Terima kasih buat diriku karena sudah bertahan di hidup yang sulit dan berproses ke arah yang baik.

"Mungkin, ini waktunya aku bangkit dan menuntut keadilan." Kutatap Pramudita di cermin besar dalam kamar kos yang baru kubeli kemarin sehabis pindahan ke kos yang sama dengan kak Yumna, untung aja ada kamar yang kosong persis di sebelah kamar kak Yumna.

Aku teringat pesan kak Yumna kemarin sewaktu kami sedang membahas soal pasangan dan pernikahan. "Jangan menerima seseorang untuk kehilangan diri sendiri, Pramudita." Kemudian kak Yumna melanjutkan ucapannya. "Itu prinsip yang aku pegang selama ini."

Inaya akan berkata terlambat karena dia sudah merasakan kehancuran karena menerima sembarangan orang hanya karena rasa penasaran, tapi Pramudita berterima kasih atas nasihat singkat yang begitu membekas itu, ucapan kak Yumna akan aku sambung untuk siapa saja yang membutuhkannya lewat lisanku ini.

Aku buka arsip chat WhatsApp, wah banyak sekali pesan masuk dari pak RT. Langsung saja kutekan ikon telepon suara. Kalau harus scroll semua pesan yang dikirim, pusing nanti aku karena ini informasinya sudah kadaluarsa, bingung juga nanggapinnya sebanyak ini. Tujuanku nelpon pak RT buat minta info soal Satria, kalau aku nggak dapet informasi keberadaan Satria dari pak RT siapa yang bisa kuhubungi selanjutnya? Ya, benar atasannya, pak Mahes.

"Mbak kemana aja? Bapak ibu khawatir Mbak gak ada kabar, di WA gak dibalas. Baik-baik aja di sana?" Begitu telepon terhubung, suara tegas khas pak RT menyapa telingaku.

"Aman, baik, Pak. Biasa anak muda ini lagi nyoba nata hidup, Pak." Aku terkekeh sendiri dengar apa yang baru saja aku ucapkan.

"Eh, Mbak. Tau gak itu si siapa namanya suami Mbak dulu yang jahat itu lo?" Kali ini kudengar suara ibu RT yang ikut nimbrung.

"Satria, Bu. Kenapa?"

Jantungku kembali bertalu-talu ketika menyebut dan akan mendengar kabar terbaru soal ya benar pria jahat.

"Dia tu ternyata tukang judi, nipu banyak orang, korbannya ratusan, Nay. Kerugiannya kata polisi sampai setengah milyar. Digrebek sama polisi eh lari katanya terus nyebur ke laut apa sungai. Sampe sekarang gak ketemu. Polisi sih udah nyatain dia meninggal dunia soalnya udah dari bulan kemarin apa ya, gak lama dari Mbak pindah dari sini pokoknya. Kan itu langsung diterjunin sungai apa lautnya buat nyari, tapi gak ketemu."

Aku diam dengan mulut terbuka saking syoknya mendengar informasi dari ibu RT. Aku jadi inget, dulu Satria jarang pulang, pergi kerja lebih cepet katanya ada urusan. Apa iya yang dia maksud waktu itu ini. Wah, parah sih, sebegitunya dunia Satria, aku bener-bener nggak nyangka. Apa itu penyebab Satria jadi sebengis dan senggak punya perasaan itu ya buat nyakitin bahkan kayaknya dia berniat ngilangin nyawaku waktu itu soalnya sudah bawa-bawa sajam.

Tadinya, aku berniat buat ngelaporin dia ke polisi, tapi denger berita ini, biar urusan Satria jadi urusan polisi aja. Sekarang tugasku nyari Sindi, aku harus nuntut keadilan juga dari dia, enak aja kalau hidup dia tenang-tenang aja sementara aku hilang arah hampir putus asa.

Setelah mengobrol panjang lebar dengan bapak ibu RT, kututup sambungan telepon. Kucari nomor orang tua Sindi untuk tahu keberadaan pasti anak itu sekarang ada di mana.

"Ini Inaya Pramudita, Tante."

Lihat selengkapnya