Kuterima seluruhku, termasuk apa yang terjadi di masa lalu, tapi aku nggak akan ngasih kesempatan diriku yang sekarang buat mengenal cinta lagi.
"Inaya?"
Dejavu, momen dan suara ini persis seperti yang kukenal. Pelan kugerakkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilku.
"Pak Mahes?" Ini pasti mimpi sih, kok bisa? Baru tadi aku ngebatin di depan pas ngebaca nama hotel ini sama kayak nama hotel dulu tempat aku kerja dan mengenal orang yang sama dengan penampilan yang begitu kukenal. Lagi ngapain beliau?
"Sebentar lagi saya pulang kerja, bisa kita makan di luar, Nay?"
Baru tadi malam aku ngebatin soal pak Mahes, sore ini ketika lagi berenang tanpa kak Yumna, aku ngeliat langsung orangnya. Kok bisa?
Aku mengangguk sebagai jawaban, setelah pak Mahes pergi, aku membereskan barang bawaan dan masuk ke toilet untuk membersihkan diri. Kupegang dada merasakan detak jantung yang berdetak cepat, lama aku nggak ngerasain ini.
Di kafe yang nggak jauh dari hotel kami duduk berseberangan, terhalang meja persegi. "Saya dipindah tugaskan ke hotel ini, Nay."
"Tolong panggil aku Pramudita, Pak." Koreksiku karena sudah nggak terbiasa dengan panggilan itu.
Pernyataan Pak Mahes menjawab rasa penasaranku, dulu Pak Mahes berkenalan denganku dan sahabat seperjuangan ketika sedang berenang, Pak Mahes ngasih informasi lowongan pekerjaan resepsionis ketika aku sedang berenang juga, sekarang aku ketemu lagi sama beliau ketika aku lagi berenang juga.
"Selamat bertugas di tempat baru, Pak."
"Ada banyak pertanyaan di kepala saya soal kamu selama ini, Pramudita. Kamu pergi gitu aja, mutus komunikasi sama saya, tapi kemarin saya sudah nelpon bapak, pertanyaan-pertanyaan itu sudah terjawab. Saya turut berduka cita atas meninggalnya anak kamu, Pramudita. Turut prihatin atas apa yang Satria lakuin ke kamu. Selamat jadi maba ya, Pramudita. Lancar kuliahnya. Saya bangga sama kamu."