Aku begitu bahagia dengan perkataan Yuta, sampai tanpa sadar tanganku membalas pelukannya dengan kuat—seakan takut ia menghilang jika kulepas.
“Aku mencintaimu, Yuta,” bisikku, napasku masih bergetar.
“Aku juga mencintaimu,” jawabnya pelan.
Dadaku menghangat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Aku merasa punya tempat untuk bersandar.
Langkahku ringan saat mendekati rumah—terlalu ringan, seolah semua beban di pundakku mendadak hilang.
Aku percaya.
Aku benar-benar percaya Yuta akan menepati janjinya.
Tanganku meraih gagang pintu.
Klik—
Pintu terbuka.
Dan dalam sekejap…
Dunia yang tadi terasa hangat—membeku.
Ayah… Sudah pulang.
Berdiri kaku di ruang tengah.
Arza duduk diam di sofa, punggungnya tegang, wajahnya tertunduk seperti baru saja dihakimi.
Dan ibu…
Duduk tenang di ujung sofa.
Terlalu tenang.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Justru itulah yang membuat tengkukku meremang.
Senyumku perlahan pudar.
Jantungku—yang tadi berdebar karena bahagia—kini menghantam dadaku dengan keras… Penuh firasat buruk yang tiba-tiba menyeruak.
“Ayah!” ucapku, nyaris tak percaya.
Pria itu berdiri kaku di ruang tengah, napasnya masih berat—seperti baru saja pulang dengan tergesa-gesa. Jasnya bahkan belum sempat ia rapikan.
Tatapannya jatuh padaku.
Bukan hanya marah…
Tapi juga cemas.
“Arien, duduk!” perintahnya tajam.
Aku langsung menundukkan kepala. Tubuhku bergerak patuh, meski dadaku mulai tidak nyaman.
Apakah Arza baru saja mengadu kalau aku bolos sekolah? Pikirku gelisah.
Belum sempat aku melirik ke arahnya, ibu lebih dulu menatapku—tajam, kesal, menusuk.
Aku memalingkan wajah cepat dan duduk di samping ayah, berusaha terlihat tenang meski jantungku mulai tidak karuan.
“Polisi baru saja menghubungi ayah!”
Aku terdiam.
Polisi?
Ayah menghela napas panjang, rahangnya mengeras.
“Mereka sempat mencurigai keluarga kita… Terutama kamu, Misya.”
Suasana langsung menegang.
Aku bisa merasakan udara di ruang itu berubah dingin.
Ayah tahu.
Aku yakin… Ayah tahu ini bisa saja ulah istrinya sendiri.
Namun—
“Mereka menutup mulut,” lanjut ayah pelan namun berat. “Karena ada seseorang… Yang tidak ingin Misya ditangkap.”
Sunyi jatuh seperti palu.
“Dengarkan aku!” tegasnya tiba-tiba.
Aku dan Arza refleks menegang.
“Kita ini keluarga. Sampai mati pun kita harus bersatu. Ingat perkataan MAMA… Cinta keluarga!”
Di ujung sofa—
Misya menunduk dalam.
Jari-jarinya meremas bantalan sofa kuat-kuat… Sampai buku-buku jarinya memutih.
Bukan karena sedih.
Tapi seperti seseorang…
Yang sedang mati-matian menahan amarah yang hampir meledak.
“Arza!” panggil ayah tajam.
Untuk pertama kalinya—aku benar-benar melihat ayah memarahi putra kesayangannya. Nada suaranya tidak biasa. Ada kekesalan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan pada Arza.
“Perbaiki belajarmu!” lanjutnya tegas.
Heh… Apa?
Aku hampir tak percaya.
Hanya itu saja?
Belum sempat aku membuka mulut—
Tatapan ayah langsung beralih kepadaku. Tajam. Dalam. Seolah ia sudah menunggu apa pun yang akan keluar dari bibirku.
“Arien,” suaranya melunak, tapi justru terasa lebih berat, “kamu tahu kami semua menyayangimu… Tolong jangan membuat ayah cemas.”
Detik berikutnya—
Ayah menarikku ke dalam pelukan erat.
Terlalu erat.
Seolah… Ia takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.
Dadaku mendadak sesak.
Ada yang disembunyikan darinya. Aku yakin itu.
Hari makin gelap.
Tubuhku lengket oleh keringat dan sisa ketegangan seharian. Tanpa banyak pikir, aku mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Ada apa sih dengan hari ini…
Kenapa semua orang mencemaskanku?
Aku mendorong pintu—
Klik.
Tak terkunci.
Dan—
Sial!
Langkahku langsung membeku di ambang pintu.
Ibu.
Wanita itu sudah ada di dalam, berdiri diam… Menatapku tajam.
Jantungku jatuh.
Aku tahu pasti dia masih kesal. Ayah baru saja menyudutkannya di ruang tengah. Tapi… Ini bukan waktu yang tepat.
Dia tak mungkin memukulku sekarang.
Kalau ayah tahu—
Aku cepat memalingkan wajah.
Ingin mundur.
Ingin menolak.
Tapi kakiku seperti terpaku.
Langkahnya terdengar.
Pelan.
Ringan.
Mematikan.
Ia berhenti tepat di depanku.
Tubuhnya yang tinggi dan kurus menjulang—menekan ruang gerakku, membuat napasku terasa sempit.
Tiba-tiba—
Cengkeraman kasar menarik rambutku.
Aku terpaksa mendongak.
Mata kami bertemu.
Dingin.
“Bawa Ghali kemari,” bisiknya rendah. “Mengerti.”
Aku diam.
Perlahan, aku melepaskan tangannya dari rambutku, meski kulit kepalaku masih berdenyut perih.
Bagaimana dia tahu tentang Ghali…?
Dan—
Bagaimana caraku membawa anak pendiam itu ke sini?
Ketakutan merayap naik di tenggorokanku.