Keesokan harinya, aku hanya duduk diam seorang diri ,lalu Sean tiba-tiba datang menghampiriku.
Aku yang melihatnya langsung bersiap untuk beranjak pergi. Namun, baru saja aku berdiri, Sean segera berkata,
“Tunggu. Tetap di situ.”
Aku menatapnya malas. “Apa?”
Anak itu hanya tersenyum, kemudian duduk di sampingku seolah kami sudah sangat akrab.
“Di mana Ghali?” tanyanya.
Aku diam. Aku tidak berniat menjawab pertanyaannya.
Sean kemudian memanggil pengawalnya dan memintanya membelikan minuman. Aku memperhatikannya sekilas, lalu tersenyum mengejek.
“Anak manja.”
Belum sempat Sean membalas, Dokter Al tiba-tiba datang menghampiriku. Tatapannya membuatku langsung waspada, seolah pria itu siap memukul ku karena telah menghina tuannya.
Sejak awal memang aku tidak menyukai orang itu. Wajah dan tubuhnya yang besar membuatnya terlihat seperti beruang betina yang selalu siap melindungi anaknya.
“Maaf! Maaf!” Sean buru-buru menyela.
Ia kemudian menatapku dengan senyum yang lebih tenang.
“Apa aku boleh bicara denganmu, Arien?”
Aku menatapnya sebentar, lalu kembali memalingkan wajah.
“Terserah,” jawabku singkat.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dibicarakan Sean.
Tapi melihat tatapannya yang tiba-tiba serius, entah kenapa aku merasa percakapan kali ini bukan sekadar basa-basi.
Sean kembali tersenyum, lalu mengulangi pertanyaan yang sebelumnya belum kujawab.
“Di mana Ghali?”
Jujur, aku mulai muak mendengarnya.
“Kenapa kau terus menanyakan Ghali?” sahutku ketus.
Sean menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Kupikir kau tahu. Akhir-akhir ini Ghali sering datang ke rumahmu, bukan?”
Aku langsung menoleh.
Bagaimana dia tahu?
“Dari mana kau tahu Ghali sering datang ke rumahku?” tanyaku curiga.
Sean hanya tersenyum tipis.
“Aku sebenarnya kasihan dengan anak itu,” ucapnya kemudian. “Ibunya sudah meninggal, ayahnya hampir tidak pernah pulang. Bahkan kakaknya sendiri sepertinya tidak benar-benar mengerti keadaan adiknya.”
Aku terdiam.
Bagaimana mungkin Sean tahu kehidupan Ghali sedetail itu?
Aku sudah mengenal Ghali lebih dulu, tetapi justru anak ini seperti mengetahui lebih banyak tentangnya.
Kemudian aku teringat sesuatu.
Ghali memang sering bermain bersama Sean. Mungkin dia pernah menceritakan keluarganya. Aku juga pernah diajak ke rumah Sean dan bertemu dengan kakaknya.
Pikiranku kembali tenang, meski rasa curiga masih tersisa.
Namun tiba-tiba Sean menatapku tajam.
“Yuta itu pacarmu?”
Aku langsung diam.
Nada suaranya berbeda.
Bukan sekadar bertanya.
Seolah dia sedang menguji atau bahkan mengintimidasiku.
Sean kemudian mendekat sedikit dan berbicara lebih pelan.
“Hati-hati dengan orang dewasa, Arien.”
Aku mengerutkan kening.
“Karena kita sama-sama tahu apa yang mungkin mereka pikirkan tentang anak seperti kita,” lanjutnya. “Bisa saja kau hanya dimanfaatkan.”
Dadaku langsung panas.
“Jaga ucapanmu,” jawabku kesal.
Sean hanya tersenyum tipis.
Dan entah kenapa, senyum itu justru membuatku semakin tidak nyaman.
“Sejujurnya, aku lebih kasihan padamu, Arien.”
Nada suara Sean kali ini berbeda. Tidak ada tawa, tidak ada ejekan. Matanya justru terlihat serius.
“Semua anak di sekolah tahu kalau kau sering dipukul ibumu.”
Tubuhku menegang.
Aku benci ketika orang lain membicarakan keluargaku.
“Dan ibumu…” Sean berhenti sejenak. “Sepertinya lebih menyayangi putranya dibandingkan anak satunya lagi.”
Tanganku mengepal.
“Apa kau tidak iri pada Ghali.” Lanjutnya. “Bagaimana mungkin orang asing justru bisa mendapatkan perhatian lebih besar daripada anak kandungnya sendiri?”
Aku menatapnya tajam.
“Cukup.”
Namun Sean belum berhenti.
“Arien… Apa kau tidak pernah berpikir kenapa dunia terasa begitu tidak adil kepadamu?”
Tanganku refleks terangkat.
Aku hendak memukulnya.
Namun sebelum tanganku sampai, Sean menangkap pergelangan tanganku dengan telapak tangannya.
“Lihat ini.”
Tatapannya berubah serius.
Ia membalik tanganku perlahan.
Matanya tertuju pada bekas luka di kulit tanganku, bekas siksaan yang selama ini berusaha kusembunyikan.
Aku langsung menarik napas.
“Lihat tanganmu sendiri,” ucapnya pelan. “Apa kau tidak ingin memiliki tangan seperti anak perempuan lainnya?”
Jarinya menunjuk bekas luka itu.
“Putih. Lembut. Halus.”
Aku terdiam.
Entah kenapa kata-katanya terasa lebih menyakitkan daripada pukulan.
“Aku tahu kau selama ini cemburu pada Arza,” lanjut Sean. “Lalu sekarang Ghali datang. Seorang anak yang bahkan bukan bagian dari keluargamu, tapi justru mendapatkan perhatian yang selama ini kau inginkan.”
Aku menunduk.
Sean menatapku dalam-dalam.
“Kau pasti sangat menderita, Arien.”
Suasana mendadak hening.
“Kau terlihat kuat di depan semua orang,” katanya lirih. “Tapi sebenarnya… Kau sangat menyedihkan.”
Aku menggigit bibir.
Untuk pertama kalinya, aku tidak mampu membalas perkataannya.
Karena sebagian dari yang ia katakan.
Terlalu dekat dengan kenyataan.
“Apa kau ingin tahu kebenaran lainnya, Arien?”
Aku langsung menatap Sean.
Nada suaranya berubah. Tidak lagi seperti sedang mengejek. Justru terlalu serius, seolah ia sengaja ingin mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku.
Sean menarik napas pelan.
“Sebenarnya…” Ia berhenti sejenak, lalu menatap tepat ke mataku. “Yuta tidak benar-benar mencintaimu.”
Dadaku seketika terasa sesak.
“Hentikan,” jawabku kesal.
Aku langsung memalingkan wajah.
“Jangan bicara sembarangan tentang Yuta.”
Namun Sean tidak terlihat gentar.
“Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya mungkin tidak ingin kau dengar.”
“Sudah kubilang, hentikan!”
Suaraku meninggi.
Aku mengepalkan tangan, berusaha menahan amarah yang mulai naik.
Sean hanya diam beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan,
“Kalau begitu. Buktikan bahwa aku salah.”
Aku tidak pernah percaya pada omongan Sean.
Bagiku, anak itu hanya sedang mencoba mempermainkanku. Mungkin ia sengaja mengatakan semua itu untuk membuatku ragu pada Yuta dan keluargaku sendiri.
Aku tidak mau terpengaruh.
Setidaknya, itulah yang selalu kukatakan pada diriku sendiri.
Namun, beberapa hari kemudian, aku mulai melihat sesuatu yang membuat perkataan Sean kembali terngiang di kepalaku.
Ghali semakin sering datang ke rumah.
Hampir setiap pulang sekolah, aku melihatnya sudah berada di ruang makan atau duduk bersama Arza. Dan setiap kali Ghali datang, ibu selalu memasakkan makanan khusus untuknya.
Hari itu pun sama.
Di atas meja sudah tersedia makanan.
Dua paha ayam besar.
Satu untuk Ghali dan satu untuk Arza.
Sedangkan di piringku hanya ada satu sayap ayam kecil.
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu berpura-pura tidak peduli.
Bukan hanya makanan.
Gelas susu cokelat diletakkan tepat di depan Ghali.
Sementara Arza mendapatkan susu vanila.
Aku?
Tidak ada.
Aku menghela napas pelan.
Sedikit iri.
Mungkin terlalu iri.
Ghali bahkan bukan anak ibu.
Tapi kenapa perlakuannya seperti itu?
Aku menggigit bibir dan mulai makan dalam diam.
Sesekali mataku melirik Ghali yang terlihat canggung menerima semua perhatian itu. Berbeda dengan Arza yang tampak biasa saja.
Setelah selesai makan, Arza dan Ghali langsung pergi untuk belajar.
Aku masih duduk di meja.
Lalu suara ibu terdengar dari dapur.
“Arien, cuci semua piringnya.”
Aku terdiam.
Kulihat piring Ghali.
Piring Arza.
Piring ibu.
Dan piringku sendiri.
Aku menelan rasa kesal yang memenuhi dada.
“Kenapa selalu aku?” gumamku pelan.
Tidak ada jawaban.
Aku akhirnya berdiri dan membawa semua piring ke dapur.
Sementara dari ruang lain, aku bisa mendengar suara Arza dan Ghali sedang berbicara sambil belajar.
Entah kenapa…
Suara tawa mereka justru terasa semakin jauh.
Dan untuk pertama kalinya, perkataan Sean kembali muncul di kepalaku.
Bagaimana mungkin orang asing justru mendapatkan perhatian lebih besar daripada anak kandungnya sendiri?
Tanganku berhenti di bawah aliran air.
Aku menatap pantulan wajahku di wastafel.
Aku tidak ingin mempercayainya.
Tapi rasa sakit di dadaku…
Perlahan membuatku mulai bertanya-tanya.
Mungkin Sean benar?
Kemudian aku mulai memperhatikan Yuta.
Belakangan ini dia semakin sibuk dengan kuliah dan teman-temannya. Entah apa yang terjadi, sudah tiga hari dia tidak mengabariku.
Tiga hari.
Tidak ada pesan.
Tidak ada telepon.
Bahkan sekadar menanyakan kabarku pun tidak.
Aku mencoba mengerti. Mungkin dia sibuk. Mungkin ada banyak urusan.
Tapi semakin lama, aku justru merasa seperti sendirian.
Aku tidak punya siapa-siapa untuk bercerita.
Aku hanya duduk termenung, menatap buku yang terbuka di hadapanku. Berjam-jam berlalu, tetapi tidak satu kata pun kutulis.
Pikiranku terlalu penuh.
Tanpa sadar, Ghali yang duduk di sampingku menyentuh tanganku.
Aku langsung menepisnya.
“Jangan.”
Ghali terdiam.
Aku bahkan tidak menatapnya.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku semakin kesal melihat anak itu. Semua perhatian ibu tertuju kepadanya. Arza juga sering bersamanya. Bahkan rumah yang seharusnya menjadi tempatku merasa nyaman sekarang terasa seperti bukan milikku lagi.
Hari semakin sore.
Sampai akhirnya suara mobil berhenti di depan rumah.
Aku langsung mengenali mobil itu.
Yuta.
Jantungku seketika berdebar.
Setelah tiga hari tidak mendapat kabar, akhirnya dia datang.
Senyumku muncul tanpa sadar. Rasa lelah dan kesal yang sejak tadi memenuhi pikiranku seolah menghilang begitu saja.
Aku segera bangkit dan berjalan keluar.
Namun begitu melihat Yuta turun dari mobil, senyumku perlahan memudar.
Aku berdiri beberapa langkah darinya.
“Yuta…”
Dia hanya melirikku.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan hangat.
Tatapannya justru terasa dingin, bahkan seperti seseorang yang sedang muak melihatku.
Aku membeku.
Padahal selama tiga hari ini aku hanya menunggu satu hal…
Melihatnya kembali.
Tapi ketika akhirnya dia datang, kenapa rasanya seperti aku justru menjadi orang yang paling tidak ingin dia temui?
Begitu Ghali masuk ke dalam mobil, Yuta sama sekali tidak menatapku.
Aku hanya berdiri di tempat, menahan perasaan yang semakin kacau.
Tanganku mengepal kuat. Aku bahkan harus menggigit bibir agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar.
Mobil itu dinyalakan.
Mesinnya meraung pelan, lalu perlahan meninggalkan halaman rumah.
Aku terus memandanginya sampai mobil itu menghilang dari pandangan.
Di belakangku, hanya ada senyum ibu.
Senyum yang entah kenapa membuat dadaku semakin panas.
Aku menatapnya tajam.
Begitu sadar aku sedang memperhatikannya, senyumnya langsung menghilang. Tanpa mengatakan apa pun, ibu berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Arza kemudian merangkul bahuku.
“Ayo masuk, Kak.”
Aku tidak menjawab.
Dia masih mencoba bersikap santai.
“Ah, aku mengantuk. Kak, nanti pijitin aku, ya?”
Aku tetap diam.
Keesokan harinya, hari Minggu tiba.
Seharusnya aku bisa tidur lebih lama.
Tapi suara ibu dari luar kamar membuatku terpaksa membuka mata.
Aku menggerutu sambil menarik selimut.
“Ah, kenapa harus hari Minggu?”