Aku merasa lemah. Kosong.
Seolah semuanya telah hancur dalam satu hari.
Semua orang membenciku. Bahkan Yuta, pria yang dulu menyelamatkanku dari keterpurukan. kini justru menjadi orang yang paling dalam melukai hatiku.
Air mataku hampir jatuh, tetapi kutahan sekuat tenaga. Wajahku terasa panas dan memerah.
Di sampingku, Sean terus berbicara.
Entah apa saja yang dikatakannya. Mungkin dia sedang berusaha menghiburku.
Namun tidak ada satu pun perkataannya yang benar-benar masuk ke pikiranku.
Aku hanya diam.
Menatap kosong ke luar jendela.
Sampai aku tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti.
Sean mematikan mesin.
“Arien.”
Aku tidak menjawab.
Dia menoleh kepadaku.
“Kita sudah sampai.”
Aku perlahan mengangkat kepala.
Baru saat itu aku sadar.
Di hadapanku berdiri rumahku sendiri.
Rumah yang beberapa jam lalu kutinggalkan dengan penuh amarah.
Dan sekarang…
Aku harus kembali ke dalamnya.
Aku turun dari mobil dan langsung melangkah pergi.
Tidak ada ucapan terima kasih kepada Sean maupun Dokter Al.
Aku terlalu lelah untuk memikirkan apa pun.
“Arien, hati-hati!”
Aku berhenti sebentar.
Sean melambaikan tangannya dari dalam mobil.
“Jaga dirimu!”
Aku tidak menjawab. Hanya melanjutkan langkah menuju pintu rumah.
Namun sebelum masuk, entah kenapa aku berbalik.
Dari kejauhan, Sean masih tersenyum kepadaku.
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu perlahan kututup pintu.
Suasana rumah begitu sunyi.
Hanya terdengar suara ibu yang sedang memasak dari dapur.
“Arien…”
Suara ibu terdengar pelan.
Aku memejamkan mata.
“Sudah, Bu… Aku lelah,” jawabku lirih.
Aku tahu kalau aku tidak pulang, wanita itu mungkin akan semakin marah.
Tapi sekarang aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga untuk menghadapi apa pun.
“Percuma…”
Aku kembali berjalan.
Namun beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki dari belakang.
Semakin dekat.
Aku berhenti.
Dia mau menamparku lagi.
Aku perlahan berbalik.
Ibu sudah berdiri tepat di hadapanku.
Kami saling menatap.
Aku melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.
Ada kemarahan.
Ada kekecewaan.
Ada rasa frustrasi.
Dan entah kenapa… Matanya terlihat seperti sedang menahan tangis.
Aku hanya diam.
Menunggu tamparan berikutnya.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Ibu menatapku beberapa detik, lalu tiba-tiba memalingkan wajah.
Tanpa berkata sepatah pun, dia berbalik dan kembali ke dapur.
Melanjutkan memasak seolah aku tidak pernah datang.
Aku terpaku di tempat.
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Dipukul oleh ibu… Atau melihatnya pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Sepertinya aku memang butuh tidur.
Tubuhku terasa berat, kepalaku penuh, dan rasanya aku tidak sanggup memikirkan apa pun lagi.
Namun entah kenapa, langkahku justru berhenti di depan kamar Arza.
Aku ingin bertemu dengannya.
Aku ingin menceritakan semuanya.
Tentang Yuta.
Tentang wanita jahat dan teman-temannya.
Tentang bagaimana aku dipermalukan di depan banyak orang.
Mungkin Arza akan mengerti.
Mungkin hanya dia yang masih mau mendengarkanku.
Aku mengangkat tangan dan mengetuk pintunya pelan.
“Arza…”
Tidak ada jawaban.
Aku mengetuk sekali lagi.
“Arza, ini aku.”
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Arza muncul dengan wajah yang masih terlihat lelah. Begitu melihatku, matanya langsung berubah.
“Kak?”
Aku mencoba tersenyum, tetapi bibirku justru bergetar.
Aku melangkah masuk.
Begitu duduk di tepi tempat tidurnya, semua yang sejak tadi kutahan terasa kembali memenuhi dada.