Menyelamatkanmu zero(sebelum kelahiran)

Saya seani
Chapter #4

Chapter 4

Pak Clif yang tak lagi mampu menahan amarah akhirnya benar-benar lepas kendali. Tangannya mencengkeram Reni dengan kasar, menarik tubuh putrinya tanpa sedikit pun kelembutan.

Reni terus memberontak, namun tenaganya tak sebanding. Tangisnya pecah, suaranya parau karena ketakutan dan sakit yang bercampur jadi satu.

“Ayah, hentikan!” jeritnya sambil terisak. “Tolong…!”

Di sisi lain, Dio melampiaskan amarahnya kepadaku tanpa ampun. Tinju demi tinju mendarat, membuat pandanganku berkunang-kunang. Aku terjatuh, mencoba menahan sakit yang menyayat, namun Dio seolah tak peduli.

Baginya, aku adalah sumber kekacauan ini—orang luar yang merusak keluarganya.

Reni terus berteriak memanggil Dio, memanggil ibunya, memanggil siapa saja yang bisa menghentikan semua ini.

Dan aku… Hanya bisa menahan rasa perih yang terus datang bertubi-tubi.

Jeritan itu akhirnya menghancurkan pertahanan Ibu Dewi.

Ia berlari mendekat, wajahnya penuh panik dan ketakutan.

“Lepaskan dia, Clif! Lepaskan Reni!” teriaknya sambil mencoba menarik tangan suaminya.

“Dio, bantu ibu!” teriak Ibu Dewi dengan suara nyaris putus.

Dio mengumpat pelan. “Cih…” Decaknya penuh kesal.

Akhirnya, anak berandal itu melepaskanku begitu saja. Tubuhku terhempas ke lantai, nyeri masih berdenyut di setiap sudut.

Dio berlari ke arah ibunya, membantu mencoba melepaskan cengkeraman Pak Clif. Mereka bertiga—Reni, Ibu Dewi, dan Dio—berusaha melawan satu orang.

Namun sayangnya… Itu tidak cukup kuat.

Pak Clif justru semakin murka. Nafasnya memburu, wajahnya memerah, dan amarahnya seperti api yang disiram bensin. Dorongan dan bentakannya semakin brutal, membuat usaha mereka sia-sia.

Rumah itu berubah menjadi neraka kecil.

Tak ada lagi kata cinta maupun keluarga.

Pak Clif berulang kali mendorong istrinya, namun Ibu Dewi tak melepaskan Reni. Tubuh mereka saling menempel, saling menahan, seolah Ibu Dewi menjadi satu-satunya benteng tipis antara putrinya dan kegilaan suaminya.

“Lepaskan anakku!” teriak Dewi dengan suara bergetar.

Dio yang sejak kecil selalu patuh, yang tak pernah berani membantah, kini berdiri di sisi yang berlawanan. Ia menarik tangan ayahnya, matanya merah oleh amarah dan ketakutan.

“Cukup, Yah! Kak Reni nggak salah!”

Kalimat itu menjadi pemicu.

“Dasar bodoh!”

“Berengsek!”

Pak Clif mengumpat tanpa henti. Wajahnya berubah, seperti bukan manusia yang sama. Emosinya meledak, tak terkendali, tak tersisa sedikit pun rasionalitas.

Tiba-tiba—

Ia melepaskan Reni.

Namun bukan untuk berhenti.

Dengan satu gerakan brutal, tinjunya melayang ke arah Ibu Dewi.

“Ini semua salahmu!” bentaknya. “Obsesi dan nafsumu yang menghancurkan semuanya!”

Pukulan itu mengenai wajah Dewi. Tubuhnya terlempar dan tersungkur ke lantai, kepalanya membentur keras. Suara benturan itu membuat jantung semua orang berhenti berdetak sesaat.

“Ibu!!” teriak Dio panik.

Tanpa pikir panjang, Dio menerkam ayahnya, memukul, mendorong, mencoba melindungi ibunya. Tapi tenaganya terlalu kecil dibanding amarah yang menguasai Pak Clif.

“Anak durhaka!” geram Pak Clif.

Dio menjadi target berikutnya.

Pukulan demi pukulan menghujani tubuh remaja itu tanpa belas kasihan. Darah mulai mengalir dari hidung dan sudut bibirnya, menodai lantai rumah yang dulu terasa hangat.

“Ayah, apa yang kau lakukan?!” jerit Reni histeris, tubuhnya gemetar hebat.

Lihat selengkapnya