Tak lama setelah aku terbangun, dunia di luar rumah sakit bergerak jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.
Berita pembunuhan satu keluarga memenuhi berbagai media—koran pagi, siaran televisi, hingga radio yang tak henti memutar ulang kronologi tragedi itu. Judul-judul besar terpampang tanpa belas kasihan, seolah nyawa manusia hanyalah komoditas berita.
Nama Pak Clif menjadi pusat sorotan.
Sebagai pemilik perusahaan minuman keras ternama, kasus itu segera mengguncang kalangan pria-pria kaya, pebisnis licik, hingga konsumen kelas bawah yang selama ini menggantungkan candu mereka pada botol-botol bermerek A+.
Bisik-bisik mulai beredar.
Siapa yang akan melanjutkan perusahaan itu?
Apakah masih ada ahli waris?
Ataukah merek minuman keras A+ akan lenyap begitu saja, tenggelam bersama reputasi pemiliknya?
Beberapa investor menarik diri diam-diam.
Distributor mulai ragu.
Konsumen mempertanyakan kualitas—bahkan moral—di balik produk yang mereka teguk setiap malam.
Skandal itu bukan hanya soal pembunuhan.
Ia merambat menjadi isu kekuasaan, uang, dan kebusukan yang selama ini tertutup rapi oleh jas mahal dan senyum palsu.
Perusahaan yang dulu berdiri kokoh kini goyah.
Sahamnya anjlok.
Gudang-gudang penyimpanan mulai sepi.
Dan aku… Hanya bisa menatap layar televisi dari ranjang rumah sakit, membaca namaku tersirat di antara baris-baris berita sebagai korban selamat—tanpa wajah, tanpa suara.
Tak ada yang tahu kebenaran sepenuhnya.
Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah itu malam tersebut.
Yang dunia tahu hannyalah ini:
sebuah keluarga hancur,
sebuah kerajaan bisnis di ambang runtuh,
dan sebuah merek yang mungkin tak akan pernah pulih.
Keesokan harinya, aku tak punya pilihan selain duduk di ruang persidangan—sebagai korban, sekaligus saksi utama atas kejahatan Pak Clif.
Di sampingku, Key duduk tenang, namun aku tahu ia terus memperhatikanku. Aku mencoba menarik napas perlahan, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku aman. Tapi tubuhku tak bisa diajak bekerja sama. Tanganku gemetar hebat, wajahku pucat, dan mataku terus menatap ke bawah, takut jika bertemu pandang dengan siapa pun.
Tak lama kemudian, pintu samping terbuka.
Seorang pria tua dengan baju tahanan melangkah masuk menuju kursi persidangan.
Pak Clif.
Walau jarak kami begitu jauh, kehadirannya terasa begitu nyata—menekan, mencekik. Energinya seperti merembes menembus dinding, lantai, bahkan keramik yang kupijak. Sekejap, ingatanku berputar liar. Aku seolah kembali ke malam itu. Darah. Jeritan. Amarah.
Lantai putih berubah merah di kepalaku.
Napas tersangkut di tenggorokan. Dadaku terasa berat, seperti ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram kuat.
Tanpa sadar, mataku yang semula tertunduk perlahan terangkat.
Dan bertemu dengannya.
Tatapan itu—kosong namun tajam—membuat tubuhku membeku. Ketakutan menyergap begitu cepat, seolah aku sedang menatap dewa kematian, sosok yang bisa menghabisiku kapan saja, di mana saja.
Aku ingin menjerit.
Aku ingin lari.
“Tenang, Sira,” bisik Key lembut di telingaku.
Tangannya menyentuh punggung tanganku—hangat, nyata. Ia memberi isyarat kecil, menenangkan.
“Dia tidak bisa menyakitimu lagi.”
Aku menelan ludah. Pandanganku beralih, mengikuti arah mata Key. Polisi berjaga di setiap sudut. Wartawan memenuhi ruangan, kamera dan mikrofon mengarah ke kursi terdakwa. Lampu sorot menyilaukan, kilatan kamera sesekali menyambar.
Pak Clif bukan lagi penguasa.
Bukan lagi sosok yang ditakuti.
Ia hanyalah seorang terdakwa—diborgol, diawasi, dan dikelilingi hukum.
Aku menarik napas dalam-dalam. Sekali lagi.
Tanganku masih gemetar, tapi kali ini aku tak menunduk.
Karena aku tahu…
Hari ini, aku tidak datang untuk mati.
Aku datang untuk bersuara.
Saat namaku dipanggil dan pernyataanku mulai dibacakan, ruang sidang mendadak hening. Bahkan bunyi kamera para wartawan seolah ikut menahan napas.
Aku tak berani menatapnya. Suaraku gemetar, namun setiap kata keluar dengan jelas—tentang malam itu, tentang jeritan, tentang pukulan, tentang rasa takut yang hampir merenggut nyawaku.
Dan saat hakim menyebut namanya—
Pak Clif—
Aku merasakan sesuatu berubah di udara.
Ia yang semula duduk diam, menunduk, perlahan mengangkat kepalanya.
Wajahnya kaku. Rahangnya mengeras.
Tatapannya menusuk lurus ke arahku.
Bukan tatapan menyesal.
Bukan pula tatapan bersalah.
Melainkan tatapan marah karena kalah.
Tangannya mengepal di atas meja terdakwa, borgol beradu pelan dengan permukaan kayu. Napasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Aku bisa melihat urat di lehernya menegang, seolah setiap kalimatku adalah cambuk yang menghantam harga dirinya.
“Itu bohong!” tiba-tiba ia bersuara, suaranya parau namun penuh tekanan.
“Semuanya bohong!”
Hakim langsung mengetukkan palu.
“Terdakwa, diam!”
Namun Pak Clif tak sepenuhnya patuh. Ia tersenyum miring—senyum yang membuat bulu kudukku meremang. Senyum yang sama seperti malam itu, saat ia kehilangan kendali.
“Kau memfitnahku,” katanya lagi, lebih pelan, lebih berbahaya. “Kau yang menghancurkan keluargaku.”
Aku tersentak. Tanganku kembali gemetar.
Namun sebelum ketakutan itu mengambil alih, Key meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
Aku menoleh—dan ia mengangguk kecil, memberi keberanian.
Polisi berdiri lebih dekat ke sisi Pak Clif.
Peringatan terakhir.
Hakim kembali berbicara, suaranya tegas, tak memberi ruang emosi.