Menyelamatkanmu zero(sebelum kelahiran)

Saya seani
Chapter #6

Chapter 6


Satu tahun telah berlalu sejak aku dan Key terus berpindah dari satu kota ke kota lain. Hidup kami seperti kereta tanpa jadwal—bergerak terus, tapi tak pernah benar-benar tahu tujuannya.

Kadang aku duduk di pinggir jalan, menatap lampu-lampu kota, lalu berpikir iseng.

“Key… Gimana kalau kita ke Cina?”

Negara yang begitu maju, begitu indah. Di kepalaku, Cina selalu tampak seperti dunia lain—penuh gedung tinggi, teknologi, dan kesempatan baru.

Key selalu tertawa setiap kali aku mengatakannya.

“Terlalu banyak nonton film,” katanya sambil mengibaskan tangan. “Kita bahkan nggak cukup pintar(kau saja hanya tahu wo aini), apalagi cukup kaya.”

Dan memang benar.

Ilmu kami pas-pasan.

Uang yang kumiliki dari tabungan Yuka perlahan menipis—cukup untuk bertahan hidup, tapi tidak untuk bermimpi terlalu jauh.

Key yang kini menginjak usia dua puluh tahun mulai berubah. Ia semakin sering pulang larut malam, bajunya bau asap rokok, matanya merah karena kurang tidur. Dunia malam menariknya perlahan—bukan sebagai tempat kerja, tapi sebagai tempat pelarian.

Kerja serabutan yang ia lakukan—nguli, jaga parkir, bantu-bantu gudang—hampir selalu habis untuk kesenangan sesaat. Untuk minum, untuk musik keras, untuk menyewa wanita malam yang bahkan tak ia ingat namanya keesokan hari.

Aku mencoba menegurnya. Berkali-kali.

Tapi dia cuma tertawa kecil.

“Lo masih kayak anak kecil, Sira. Hidup tuh nggak perlu dipikirin sejauh itu.”

Kalimat itu menusuk lebih dari yang ia sadari.

Padahal usia kami hanya terpaut dua tahun.

Kami sama-sama lelah.

Sama-sama sendirian.

Tapi di titik itu, aku sadar:

kami mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Aku ingin hidup yang tenang, pelan, dan nyata.

Sementara Key… Ingin melupakan segalanya, meski hanya untuk satu malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami bersama, aku merasa lebih kesepian saat bersamanya daripada saat sendirian.

***

Malam itu, aku melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Dari kejauhan, tak tampak mencurigakan—hanya sebuah sedan mahal dengan lampu depan masih menyala dan mesin yang belum dimatikan.

Namun saat aku mendekat, ada sesuatu yang terasa janggal.

Pengemudinya tertunduk di balik setir. Kepalanya menempel pada kemudi, tak bergerak sama sekali. Mesin masih hidup, pintu terkunci, dan lampu dashboard menyala redup.

Aku mengetuk kaca.

Satu kali.

Dua kali.

Tak ada respons.

 “Ini aneh.”

Tanpa banyak pikir, aku langsung berlari mencari bantuan. Di seberang jalan, aku melihat Key sedang berjalan sambil menggandeng seorang wanita berbaju merah mencolok. Aku tak peduli lagi soal itu. Aku menarik mereka berdua dengan panik.

Key langsung berubah serius. Kami berlari kembali. Tak lama, beberapa orang yang lewat ikut mendekat. Ada yang mencoba menelepon ambulans, ada yang mencoba membuka pintu dengan paksa.

Akhirnya, kami berhasil mengeluarkan pengemudi itu dari dalam mobil.

Tubuhnya lemas. Wajahnya pucat. Napasnya sangat lemah.

Seorang pria paruh baya memeriksa denyut nadinya.

“Masih hidup… Tapi kritis.”

Tak lama kemudian, ambulans datang dengan suara sirene memecah malam. Petugas medis langsung mengambil alih.

Di tengah keributan itu, seseorang menyebut namanya setelah melihat dompet di tasnya.

Paula Malina.

Usia 52 tahun.

Seorang pengusaha kosmetik terkenal.

Aku terdiam.

Nama itu pernah kulihat di iklan televisi. Wanita sukses, kaya, dan selalu tampak sempurna.

Dan sekarang… Ia terbaring di atas tandu, setengah tak sadarkan diri, hampir kehilangan nyawa di pinggir jalan yang sepi.

Key menatapku lama.

“Kalau lo tadi nggak nyadar, dia mungkin udah mati di dalam mobil.”

Aku menelan ludah.

Entah kenapa, di dalam dadaku muncul perasaan aneh—

Seolah pertemuan ini bukan kebetulan.

Seolah hidup, sekali lagi, sedang menyeretku ke dalam cerita orang lain.

Satu minggu kemudian, aku kembali berjalan di tempat yang sama.

Jalan itu masih sepi, lampu-lampu kota masih sama redupnya, hanya saja suasananya terasa berbeda—lebih tenang, tapi juga lebih asing. Sebenarnya aku berniat menjemput Key. Jam segini biasanya dia sudah tergeletak di pinggir jalan, rambut keritingnya mekar berantakan, tubuhnya bau alkohol, tertidur seperti pria gembel yang lupa arah pulang.

Namun langkahku terhenti.

Mobil hitam itu kembali terparkir di tempat yang sama.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena takut—tapi karena perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Kali ini, pengemudinya tidak tertunduk di balik setir.

Tidak pingsan.

Tidak sekarat.

Ia berdiri di samping mobil, rapi, mengenakan mantel gelap, rambutnya disisir sempurna. Saat melihatku, ia tersenyum.

Senyum yang bukan senyum orang asing.

Senyum orang yang sedang menunggu.

“Terima kasih,” katanya lebih dulu, suaranya tenang dan dewasa. “Minggu lalu… Kalau bukan karena kamu, mungkin aku tidak akan berdiri di sini.”

Aku membeku beberapa detik sebelum menyadari.

Itu dia.

Paula Malina.

Pengusaha kosmetik yang hampir mati di dalam mobilnya sendiri.

Kini berdiri di depanku, hidup, utuh, dan menatapku seolah aku bagian dari rencananya.

“Aku sengaja kembali ke sini,” lanjutnya pelan. “Aku ingin bertemu kamu lagi.”

Angin malam berhembus pelan. Lampu jalan memantulkan bayangan kami di aspal—dua orang dari dunia yang sangat berbeda, dipertemukan oleh satu kejadian kecil yang nyaris terlupakan.

Aku menelan ludah.

“Kenapa… Saya?”

Paula tersenyum tipis.

“Karena hidup jarang memberi kesempatan kedua. Dan orang yang memberikannya… Biasanya bukan kebetulan.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan sesuatu yang asing di dadaku.

Bukan takut.

Bukan duka.

Melainkan rasa bahwa sesuatu baru saja dimulai.

Wanita itu mengajakku ke sebuah restoran kecil yang masih buka. Bukan tempat mewah—hanya kedai yang tenang dengan lampu kuning dan musik pelan. Kami duduk berhadapan, berbincang seperti dua orang yang kebetulan kelelahan pada hidup masing-masing.

Paula tidak pernah memandangku seperti anak kecil.

Tidak juga seperti pemuda nakal yang perlu dikasihani.

Ia berbicara padaku sebagai manusia.

Berulang kali ia mengucapkan terima kasih, bahkan sempat menyelipkan sejumlah uang  jumlah yang bagiku terasa terlalu besar untuk sekadar “terima kasih”.

Aku menolaknya.

“Ditaktir makan saja sudah cukup,” kataku jujur.

Paula terdiam sebentar, lalu tersenyum.

Senyum yang bukan senyum orang kaya—

Tapi senyum orang yang baru pertama kali ditolak dengan tulus.

Dan sejak malam itu… Semuanya jadi kebiasaan.

Satu hari.

Satu minggu.

Satu bulan.

Di tempat yang sama.

Di jam yang sama.

Seolah kami membuat janji tak tertulis.

Paula bercerita banyak. Tentang pekerjaannya yang melelahkan, tentang tekanan sebagai pengusaha, tentang karyawannya yang sering membuat masalah, tentang rapat-rapat panjang yang tak pernah benar-benar selesai.

Lalu tentang hidup pribadinya.

Tentang bagaimana ia sering bertengkar dengan putrinya yang ingin sekolah ke luar negeri. Tentang rasa takut kehilangan. Tentang kesepian di rumah besar yang terlalu sunyi.

Aku baru tahu—di usia sekarang, Paula belum pernah menikah.

Bukan karena tak ada yang mendekat.

Tapi karena dulu ia memilih karier.

Terlalu sibuk membangun segalanya, hingga lupa membangun dirinya sendiri.

Dan ketika ia mulai ingin punya pasangan…

Ia merasa sudah terlambat.

 Katanya sambil tertawa kecil. “Umur segini, siapa yang mau?”

Lihat selengkapnya