Satu minggu sejak kepergian Paula.
Rumah itu sunyi… Tapi tidak pernah benar-benar tenang.
Karena setiap malam, tangisan Sean memenuhi seluruh ruangan.
Tangis bayi yang belum mengerti apa itu kematian,
tapi tubuh kecilnya seolah tahu… Ada sesuatu yang hilang.
Entah dia lapar, entah perutnya kembung,
atau mungkin—seperti aku—dia hanya merindukan ibunya.
Tangisannya merobek batinku pelan-pelan.
Seperti jarum yang menusuk dari dalam dada.
“Sean… Tenanglah…” bisikku sambil menggendongnya.
Aku mencoba memberikan dot.
Dia menolaknya.
Aku menggoyang tubuhnya perlahan.
Dia semakin menangis.
Tangisnya berubah melengking.
Merah. Sesak. Putus asa.
Dan di lantai atas…
Mulan mengurung dirinya di kamar.
Aku tahu.
Dia juga menangis.
Menangis sendirian.
Seperti anak kecil yang kehilangan satu-satunya tempat pulang.
Dua anak.
Sama-sama kehilangan ibu.
Tapi terjebak dalam kesedihan masing-masing.
Sean menangis dalam pelukanku.
Mulan menangis di balik pintu terkunci.
Aku berdiri di tengah rumah itu…
Tak tahu harus menjadi ayah untuk siapa lebih dulu.
“Sean… Tolonglah…” Suaraku pecah.
“Ayah juga tidak tahu harus bagaimana…”
Tangisnya makin kencang.
Tubuh kecilnya menggeliat.
Wajahnya merah. Napasnya tersengal.
Dan saat itu… Aku benar-benar kalah.
“Sial…” Aku merintih.
“Kenapa Mulan tidak mau keluar menenangkan adiknya?”
Kata-kata itu terus keluar begitu saja.
Bukan karena aku membencinya.
Tapi karena aku terlalu lelah untuk kuat sendirian.
Aku menatap pintu kamar Mulan di lantai atas.
Pintu tertutup rapat.
Tak ada suara.
Tak ada cahaya.
Untuk pertama kalinya sejak Paula pergi,
Aku menyadari sesuatu yang menakutkan:
Aku bukan hanya kehilangan istri.
Aku kehilangan satu-satunya orang
yang seharusnya tahu bagaimana cara menenangkan anak ini.
Dan sekarang…
Aku harus belajar menjadi ayah,
sementara aku sendiri masih belajar bagaimana caranya bertahan hidup.
Aku meletakkan tubuh kecil Sean di atas kasur.
Tangisnya masih terdengar, serak dan terputus-putus.
Dadaku sesak.
Aku berjalan keluar kamar.
Langkahku cepat. Terlalu cepat untuk orang yang sedang berpikir jernih.
Aku berdiri di depan pintu kamar Mulan
Dan langsung mengetuknya keras.
Tok. Tok. Tok. Tok.
“Mulan!”
Tok. Tok. Tok.
Tak ada jawaban.
“Mulan, buka pintunya! Tolong!”
Hening.
Kupikir dia tak dengar.
Atau pura-pura tak dengar.
Wajahku memerah.
Bukan hanya karena marah, tapi karena putus asa.
Pintu itu… Dikunci.
“Mulan!” teriakku lebih keras.
Tetap tidak ada suara.
Tanganku gemetar.
Aku menoleh ke arah kamar Sean.
Tangisnya masih terdengar samar dari kejauhan.
Dan saat itu… Sesuatu di dalam diriku retak.
“Sial…” Gumamku.
“Kau ini tuli atau apa?!”
Aku berlari menyusuri lorong, membuka laci, lemari, meja—
Mencari kunci cadangan dengan tangan gemetar.
Tak ada.
Tak ada satu pun.
Aku tertawa pendek. Bukan karena lucu.
Tapi karena aku benar-benar kalah.
“Apa gunanya kau mengurung diri, Mulan?!” teriakku dari balik pintu.
“Kita sama-sama kehilangan Paula! Tapi putranya masih hidup! Dia butuh kita!”
Suara Sean terdengar lagi.
Lebih kencang. Lebih putus asa.
Dan di situlah aku sadar…
Aku marah bukan karena Mulan tidak keluar.
Aku marah karena… Aku sendirian.
Sendirian menghadapi bayi tak berdosa.
Sendirian menghadapi rumah ini.
Sendirian menghadapi dunia yang terlalu cepat berubah.
Padahal Mulan…
Dia satu-satunya orang dewasa lain di rumah ini.
Satu-satunya yang bisa membantuku sekarang.
Aku menempelkan dahi ke pintu kamarnya.
Suaraku turun, pecah, tidak lagi berteriak.
“Mulan… Aku tidak tahu harus bagaimana…”
“Aku juga kehilangan ibumu…”
“Tapi aku tidak bisa kehilangan Sean juga…”
Aku benar-benar kehilangan akal.
Aku mendobrak pintu itu berkali-kali.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Kayunya retak. Engselnya berderit.
Tapi tetap tak terbuka.
Terlalu rapat. Terlalu kokoh. Seperti hatinya.
Dan tiba-tiba…
Pintu itu terbuka sedikit.
Mulan berdiri di baliknya.
Rambutnya acak-acakan.
Matanya sembab, merah, kosong.
Belum sempat aku bicara,
Tangannya melayang.
Plak!
Tamparan itu keras.
Panas.
Langsung membuat kepalaku berputar sesaat.
Aku terdiam.
Bukan karena sakit.
Tapi karena… Aku tahu tamparan itu bukan untukku.
Itu untuk dunia.
Untuk ibunya.
Untuk dirinya sendiri.
“Jangan ganggu aku,” ucapnya dingin.
Lalu ia hendak menutup pintu lagi.
Namun kali ini…
Aku tidak membiarkannya.
Aku menarik pergelangannya.
“Ikut aku!” bentakku.
Mulan kaget.
Menatapku seolah aku monster.
Dia mencoba menarik tanganku.
Tubuhku memang tidak tinggi—hanya 160 cm—
Tapi saat itu tenagaku bukan berasal dari otot.
Tenagaku berasal dari keputusasaan.
Aku menariknya keluar dari kamar.
Menuruni tangga.
Dengan kasar. Dengan gemetar.
“Hentikan, Sira!” bentaknya.
“Sudah cukup! Berhenti menggangguku!”
Aku berhenti di tengah tangga.
Menoleh menatapnya lagi.
“Dengarkan aku!”
“Kau gila ya?!” teriaknya.
“Lepaskan aku!”
Aku menatap wajahnya.
Wajah seorang perempuan dewasa…
Yang sekarang terlihat seperti anak kecil yang tersesat.
“Ya, memang aku gila!!” suaraku pecah.
“Aku tidak tahu caranya jadi ayah! Aku tidak tahu caranya menenangkan bayi! Aku bahkan tidak tahu caranya hidup tanpa ibumu!”
Mulan terdiam.
Tangis Sean terdengar keras.
Kecil. Tapi tajam.
Seperti memanggil kami berdua.