Hari Pernikahan
Gereja itu kecil.
Terlalu kecil untuk menampung kegelisahanku.
Bangku-bangku kayu berjajar rapi, kosong dan dingin.
Cahaya pagi menembus kaca patri, menumpahkan warna merah dan biru di lantai seperti noda luka yang belum kering.
Tidak ada keramaian.
Tidak ada bisik-bisik tamu.
Hanya aku…
Seorang pendeta…
Dan waktu yang berjalan terlalu pelan.
Aku berdiri di depan altar.
Tanganku dingin.
Bukan karena udara—
Tapi karena firasat yang sejak tadi menekan dadaku.
Aku dan Mulan memang berbeda.
Sejak awal, kami berdiri di dua keyakinan yang tak pernah benar-benar bertemu.
Aku tumbuh dengan percaya bahwa MAMA adalah sumber kehidupan—panutan, penjaga, dan kekuatan tertinggi.
Sedangkan Mulan…
Ia tidak pernah mempercayai itu.
Saat aku menikah dengan Paula dulu, kami berjalan di jalan masing-masing.
Tak pernah saling memaksa.
Tak pernah saling menarik.
Tapi kali ini…
Aku yang melangkah.
Demi Mulan, aku memilih mengikuti keyakinannya.
Aku tahu ini bukan keputusan sederhana.
Mungkin bahkan salah di mata banyak orang.
Tapi bagiku—
keyakinan tanpa cinta hanyalah aturan kosong.
Dan cinta tanpa pengorbanan… Hanyalah kata yang indah tapi hampa.
Hari ini, aku memilih berkorban.
Pendeta membuka kitabnya perlahan, lalu menatapku dengan mata yang terlalu tenang.
“Kita menunggu mempelai wanita.”
Aku mengangguk.
Di samping, Key menggendong Sean.
Anak itu tertidur pulas—damai… Seolah tidak tahu hidup kami selalu berjalan di tepi jurang.
Jam dinding berdetak.
Tok…
Tok…
Tok…
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Bangku tetap kosong.
Pintu gereja tetap diam.
Tidak ada gaun putih yang muncul.
Tidak ada langkah kaki tergesa.
Pendeta menatapku lagi. Kali ini ada garis tipis kekhawatiran.
“Kau sudah menghubunginya?”
Aku merogoh ponsel.
Layar menyala.
Tidak ada balasan.
Tidak ada panggilan.
Dadaku mengencang.
Bukan karena aku takut dia berubah pikiran…
Tapi karena hidupku—
Tidak pernah memberi kejutan yang baik.
Angin dingin menyusup dari pintu samping gereja.
Menyentuh tengkukku seperti bisikan buruk.
Untuk sesaat…
Aku merasa ini bukan sekadar keterlambatan.
Aku menatap altar.
Bibirku bergerak pelan.
MAMA… Kali ini saja… Jangan ambil lagi.
—
Kegelisahan ini sebenarnya sudah lahir sejak kemarin.
Saat Key tiba-tiba menelepon dan memaksaku ikut berbelanja.
Aneh. Terlalu aneh.
Biasanya dia bahkan malas berjalan jauh.
Aku sempat ingin menjemputnya.
Dia menolak.
Sebagai gantinya, dia menyuruhku datang langsung ke sebuah toko besar Cc
Toko peralatan dapur yang terasa terlalu megah untuk sekadar membeli pisau dan panci.
“Key… Benar ini tokonya?” tanyaku pelan, curiga merayap di dada.
Key hanya mengangguk santai.
Terlalu santai.
Kami melangkah mendekati pintu masuk.
Satu langkah lagi—
Dan hidupku mungkin akan tetap tenang…
Kalau saja aku tidak melihatnya.
Di sudut toko.
Seorang pria berpakaian lusuh berdiri membeku seperti bayangan yang lupa pergi.
Rambutnya kusut.
Pakainya pudar.
Tubuhnya kurus seperti lama tak disentuh kehidupan.
Tapi itu bukan yang membuat napasku tercekat.
Matanya.
Dia menatap lurus ke arahku.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Seolah…
Dia sudah menungguku sangat lama.
Aku mencoba mengalihkan pandangan.
Mungkin hanya orang gila, batinku, memaksa tenang.
Aku melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun sesuatu membuatku menoleh lagi.
Dan darahku langsung terasa dingin.
Dia masih menatapku.
Masih.
Perlahan…
Sangat perlahan…
Rangannya terangkat.
Jari-jarinya bergerak.
Memanggilku.
Dadaku berdegup keras—lebih keras dari detak jam di gereja tadi.
Ada sesuatu pada pria itu.
Sesuatu yang membuat naluriku berteriak liar di dalam kepala—
Jangan dekati dia.
Tapi kakiku…
Tidak bergerak mundur.
Justru terasa…
Ditarik pelan menuju kegelapan yang belum kukenal.
Jantungku tiba-tiba berdebar tak nyaman.
Belum sempat aku menenangkan diri—
Tangan kasar itu mencengkeram pergelangan tanganku.
Kuat.
Dingin.
Seolah mencapit urat nadiku.
“Pria itu sedang mengawasimu,” bisiknya serak, napasnya bergetar dekat telingaku.
“Kau harus berhati-hati… Kalau tidak—”
Cengkeramannya menguat.
“—seluruh keturunanmu akan menanggung semua dosamu.”
Aku membeku.
Hanya sesaat.
Lalu refleks, aku menepis tangannya dengan kasar.
“Apa-apaan ini!” bentakku tajam, mencoba menyingkirkan rasa tak nyaman yang merayap di dadaku.
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah masuk ke dalam toko.
Kupaksa pikiranku logis.
Orang gila.
Hanya omong kosong.
Namun—
baru beberapa langkah—
Suara jeritan melengking memecah udara.
“Besok… Perempuan itu akan mati!”
Suara pria tua itu menggema keras, membuat beberapa pengunjung menoleh kaget.
Langkahku terhenti.
“Percayalah!” pekiknya lagi, kali ini lebih putus asa.
Udara di dalam toko mendadak terasa dingin.
Bisik-bisik mulai terdengar.
Aku bisa merasakan tatapan Key dari sampingku.
Dan entah kenapa—
Jantungku kembali berdebar tak wajar.
Perempuan itu akan mati…
Siapa?
Bibirku bergerak tanpa izin pikiranku.
“…Mulan?”
Namanya lolos begitu saja.
Pelan.
Tapi cukup untuk membuat dadaku sendiri terasa sesak.
Aku cepat menarik napas panjang, memaksa wajahku tetap datar.
Ini konyol.
Tidak ada hubungannya dengan Mulan.
Aku harus bersikap normal.
Harus.
Namun…
Telapak tanganku dingin.
Jantungku belum juga mau tenang.
Tatapan pria tua itu—tajam, seolah tahu sesuatu—terus terbayang di kepalaku.
Bahkan ketika aku mencoba fokus pada rak-rak peralatan dapur di depan.
Besok… Perempuan itu akan mati.
Sial.
Aku mengepalkan tangan pelan agar Key tidak melihat kegelisahanku.
“Ayo cepat,” kataku berusaha santai, meski suaraku sedikit serak.
“Kita cuma belanja, kan?”
Tapi jauh di dalam hati…
Firasat buruk mulai merayap.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
Aku takut…
Nama yang barusan kusebut itu benar.
•••
Entah kebetulan…
Atau memang sudah ditakdirkan.
Aku dan Key berpencar, menyusuri lorong demi lorong.
Nafasku memburu.
Dadaku makin sesak oleh firasat yang tak mau pergi.
“Mulan…?” Panggilku lirih, nyaris seperti doa yang tersesat.
Lalu—
langkahku terhenti.
Tubuhku membeku.
Di ujung lorong, di antara rak-rak yang sunyi…
Seseorang terbaring kaku di lantai.
Mataku membelalak.
“Mulan…!”
Aku berlari.
Lututku menghantam lantai begitu melihat wajahnya.
Pucat.
Dingin.
Dari sudut bibirnya keluar busa putih.
Tanganku langsung gemetar hebat.
Dia tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Tidak merespons.
Seperti…
Sudah terlambat.
“Tidak… Tidak… bangun, Mulan…!” Suaraku pecah, mengguncang bahunya dengan putus asa.
Tubuhnya lemas.
Terlalu lemas.
Key di belakangku menutup mulutnya, terkejut.
Kepalaku berdengung.
Overdosis…?
Atau…
Jantungku seperti diremas sesuatu yang tak terlihat.
Ini—
bukan kebetulan.
Rasa dingin menjalar sampai ke tulangku.
Seolah seseorang…
Memang sedang mengincar kami.
Dan kenyataan itu menghantamku tanpa ampun.
Mulan…
Benar-benar pergi.
•••
Dokter menyebutnya overdosis.
Polisi menegaskan hal yang sama—
tidak ada unsur pidana,
tidak ada pelaku,
tidak ada yang perlu diselidiki.
Kasus ditutup.
Begitu saja.
Padahal…
Terlalu banyak yang tidak masuk akal.
Jantungku berdentam keras sampai napasku sendiri terdengar kasar di telingaku.
Di belakang gereja yang sepi, tubuh Mulan terbaring kaku dalam gaun putih—
Gaun yang seharusnya membawanya ke altar.
Bukan…
Ke liang lahat.
Angin pagi berembus pelan, mengibaskan ujung gaunnya.
Pemandangan itu terasa kejam.
Terlalu sunyi.
Terlalu rapi…
Untuk sebuah kematian yang katanya “biasa”.
Tidak.
Ada yang salah.
Mataku menyapu sekeliling.
Garis polisi mulai dilepas.
Para petugas berbicara singkat, dingin.
Seolah mereka hanya ingin cepat pergi.
Seolah…
Mereka tidak ingin menemukan apa pun.
Tanganku mengepal.
Kenapa mereka begitu cepat menyimpulkan?