MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #1

A1

 

A1 | Edwin

 

2016

Edwin tak menduga gerimis disertai angin itu pelan-pelan membuat awan menelan bulan. Ia masih sempat menyalakan sebatang rokok, menikmati isapan tembakau di tengah kepungan udara dingin yang bercampur bulir hujan yang kian deras. Edwin menyadari tidak ada warga yang berlalu lalang sejak tadi. Hanya dirinya seorang bersama pakaiannya yang berkibar kasar dihantam angin, dan hujan yang tanpa aba-aba membuat langkah kakinya semakin hati-hati.

Baru setengah jalan dilalui sambil menahan payung yang koyak dihantam angin, ombak memberikan deruan yang membuatnya mempercepat langkah. Begitu rokoknya mati karena basah, Edwin membuang puntungnya sembarangan. Tanah di bawah sandalnya mulai kehilangan pijakan. Sesuai dugaannya, tak hanya langit, lautan pun mulai mengikuti amukan badai.

Edwin lalu berbalik untuk duduk di atas batu dekat pohon tua. Ia berniat menghabiskan waktu di sana menikmati kekacauan alam, menyaksikan perahu para nelayan yang terombang-ambing dan berdesakan di bibir pantai, sesekali menoleh ke samping di mana belasan rumah warga yang bertarung melawan hujan yang seolah ragu-ragu untuk mengguyur deras atau ringan.

Namun, sebuah gerakan sekilas mendadak mematahkan fokus pandangan Edwin. Yang awalnya melirik, kini menoleh sepenuhnya ke arah kiri. Dalam jarak sekitar seratus meter, Edwin tidak butuh waktu lama untuk mengenali siluet itu. Perempuan berumur dua puluh tiga tahun itu adalah Cindy. Tidak pernah sekalipun Edwin melihat Cindy berlari sebegitu histeris, membiarkan tubuhnya dicambuk telanjang oleh bulir-bulir hujan badai.

Tepat saat Cindy tersandung dan tubuhnya terjerembap, insting Edwin seketika menyentak. Ia membuang payungnya begitu saja, berlari turun untuk menghampiri.

Hujan tahu-tahu meringankan diri ketika Edwin melangkah setengah jalan. Pada saat itulah, raungan mesin sepeda motor tua dari arah belakang Cindy samar terdengar.

Dari atas gundukan bukit, Edwin bisa melihat jelas bagaimana baju terusan yang dikenakan Cindy sudah koyak dan basah kuyup. Perempuan itu berusaha keras menopangkan tubuh dengan tangan untuk bangkit, meski ia hanya sanggup menyeret langkah yang tertatih.

Seketika itu juga, target Edwin bergeser sepenuhnya kepada sang pengendara motor—seorang tengkulak yang begitu membenci kehadiran Edwin di desa. Masa bodoh pria itu jauh lebuh tua darinya, masa bodoh pria itu adalah ayah kandungnya Cindy.

Edwin mengeratkan kepalan tangannya, mengincar tepat di rahang pria paruh baya itu —


---


“Sial, enggak bisa berdiri.”

Lihat selengkapnya