A2 | Cindy & Andre
2016
Raungan mesin motor akhirnya mati. Mereka telah sampai di depan pagar rumah. Cindy turun dari boncengan.
“Makasih, Mas,” ucap Cindy, sedikit canggung sembari melepaskan helm dari kepalanya.
Angin pesisir berembus kasar, membuat rambut panjang Cindy berayun. Sejak tadi, langit seolah tak henti-hentinya mengirim tanda bahwa akan hujan lebat yang akan segera menumpahkan diri. Setelah menyerahkan helm kepada Edwin, Cindy membasahi bibirnya yang mendadak kering. Ada keraguan yang tertahan di tenggorokannya sebelum akhirnya bersuara, “Oh iya, salam juga buat Atha.”
“Iya, aman,” balas Edwin dengan tenang. “Jangan terlalu dipikirkan, aku jalan dulu, ya.”
Edwin menyalakan kembali mesin motornya, melemparkan senyum tipis, lalu melaju membelah jalanan desa. Cindy membalas senyuman itu, menahannya di bibir sampai batang hidung Edwin lenyap di tikungan dekat gundukan tanah. Ia berdiri termangu beberapa saat—berkedip dan merasa bibirnya kering kembali. "Selama ini ... aku salah, ya?" Ujaran Edwin yang didengarnya di warung tadi masih saja berputar di kepala. Semakin lama justru semakin melekat erat.
Dengan berat, Cindy memutar tubuhnya menghadap rumah. Langkahnya terhenti, sekilas ia menangkap gerakan punggung Bapaknya yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah. Benar saja, terdapat puntung rokok masih menyala kecil, menyisakan asap tipis yang langsung disapu angin.
Cindy mengembuskan napas panjang. Matanya melihat deretan jemuran pakaian yang masih menggantung pasrah di halaman, padahal langit sejak sore tadi sudah gelap. Pandangannya kemudian turun, menatap kumpulan sandal yang tergeletak tak karuan di depan pintu—lengkap. Dasar Andre, gumamnya dalam hati. Jika adiknya itu ada di rumah, mustahil dia tidak melihat mendung.
Segera Cindy mendorong pintu kayu setengah terbuka itu. Ia meletakkan tas tentengnya di atas meja depan—sebuah ruang tamu ala kadarnya dengan sofa yang sebagian besar kainnya sudah jebol, memperlihatkan gumpalan busa yang hancur dan memudar. Dari arah dalam, sayup-sayup terdengar percakapan. Terkecuali suara Andre.
Beruntung hujan belum sepenuhnya turun. Hanya angin mondar-mandir seolah tersesat di persimpangan. Setelah memunguti seluruh jemuran dan menumpuknya di atas dekapan tangan, Cindy melangkah ke dalam ruang tamu, melempar tumpukan pakaian yang sebagian masih basah itu ke atas sofa yang jebol.
Langkahnya disambut oleh Ibunya. “Sudah pulang? Aduh, cuciannya sampai lupa ibu angkat, ya 'nak?” kata Ibu, sembari berjalan bolak-balik meletakkan perlengkapan makan di atas meja.
“Andre mana, Bu?”
“Kamar mandi,” jawab Ibu.
---
“Kamar mandi.”
Jemari Andre sibuk menekan tombol di atas ponsel, merangkai kata dengan begitu cepat, seruan ibunya di luar tak begitu didengarnya, sebab jeda setelah mengetik dipakai untuk berdecak. Tanpa sadar, keran kamar mandinya yang setengah berlumut sudah memenuhi bak, mengucur air bersih yang terbuang tak tersentuh. Berulang kali Andre mengepalkan tangannya, merilekskan jemarinya sampai tulang-tulangnya berbunyi. “Ah! Ada-ada aja!” gumamnya, kembali mengetik.
Merasa pengap, segera ia mengantongi ponsel dalam celana pendeknya untuk menggapai kaus yang tergantung di belakangnya. Kaus yang bolong di area leher itu ditutupi oleh handuk biru yang sudah memudar. Ponselnya kembali bergetar. Andre mendapatkan jawaban. Ia kembali merogoh ponsel dan membaca pesan itu dengan saksama.
---
Tumben berak sore-sore. Cindy meraih kembali tas kerjanya, berniat masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Aduh, aku masih enggak bisa santai ternyata, batinnya getir. Ia mencoba melemaskan bahunya yang tegang, namun langkah kakinya tahu-tahu melambat saat melewati meja makan.
“Ibu cuma masak seadanya malam ini. Tadi rencananya ibu mau ke Surabaya, tapi enggak jadi. Bapakmu sama Andre juga tadi mau berangkat melaut enggak jadi,” jelas Ibu dari arah kompor dapur yang kecil tanpa sekat.
Cindy menyahut pendek, “Iya. Tadi di jalan anginnya kencang banget.”
Rumah petak ini lumayan kecil. Kamar Cindy dan Andre bersebelahan, dan begitu pintu kamar mereka dibuka, meja makan dengan empat kursi langsung menyambut pandangan.
Melihat Ibu masih sibuk memotong tempe di atas telenan, Cindy masuk ke kamarnya. Ia meletakkan tas kerja ke atas kursi kayu, tepat di saat Andre baru saja keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sibuk menekan di layar ponsel. Adik laki-lakinya itu melirik sedetik, menatap Cindy yang sibuk membongkar tasnya, mengabaikan keberadaan kakaknya tanpa sepatah kata apa pun.
Cindy mengambil baju ganti dan melangkah menuju ke kamar mandi, menerobos kepungan asap lemak dari gorengan Ibunya, beruntung angin menyapu asap tersebut keluar ventilasi. Setelah masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam, kelembapan bercampur aroma sabun masih tersisa. Dari balik pintu, ia bisa dengar dengan jelas Ibunya yang menyuruh Andre untuk melipatkan pakaian yang ada di sofa sembari menggoreng lauk. Andre menjawab “nanti” dari dalam kamar.
Gerimis mulai mengetuk atap seng tanpa plafon di atas kepala Cindy. Atap itu bergetar setiap kali gemuruh menggaung di kejauhan. Sebelum ingatan tentang Edwin kembali menguasai kepalanya, Cindy menggeleng cepat, menyiramkan air dingin ke tubuhnya. Suara guyuran air dan desis minyak panas dari dapur saling bertabrakan di bawah tekanan hujan yang kian menguat.
---
"Nanti!" Andre menutup pintunya, lalu melemparkan handuknya secara sembarangan ke dinding yang catnya terkelupas sebagian. Lalu mengomel, “Apaan coba. Aneh.” Andre menggerakkan jarinya untuk kembali mengirim pesan yang tak kunjung di jawab, sembari memosisikan diri untuk duduk di atas kasur.
Andre: Sampai kapan kamu enggak jawab?
Andre: Jangan kayak gini dong, dari tadi cuma di baca
Bahunya terasa tegang, akhirnya ia mengangkat bahu, memutar bahunya dan meregangkan otot-otot lehernya dengan memutar kepala. Badannya langsung direbahkan di atas kasur sebelum kembali menatap ponselnya.
Mia: (sedang mengetik...)
Dengan raru-ragu Andre mengarahkan telunjuknya ke arah simbol telepon—berniat meneleponnya. Namun keraguan menggelitik, ia menggulir layar ponselnya, menayangkan bukti telepon yang ditolak Mia satu jam yang lalu sebanyak enam kali. Kekasih Andre hanya membalas dengan “jangan telepon dulu!!!”
Andre: Lagi ngukir?
Mia: Diem dulu!
Andre: Lah, lama ngetik cuma buat gitu doang responsnya?
Tidak bisa menahan kesalnya, Andre segera menekan simbol telepon. Lima belas detik ditunggunya dengan hati yang berdegup. Bahkan bulir keringatnya membasahi punggung.
Telepon ditutup.
Andre menggigit bibirnya yang kering. Sedetik kemudian ia kembali menekan simbol telepon. Ponsel diletakkan dan mulai menyugar rambutnya. Kaki kanannya bergerak spontan seolah sedang menjahit.
Langsung ditutup.
Kembali ditelepon.
Langsung ditutup.
Tidak menyerah, kembali menelepon Mia.
Mia pun tak menyerah untuk menutup.
Andre: Angkat enggak! Bentar doang! Pliz
Andre: Kamu tadi di mana? Aku samperin di tempat kerja
Andre: Ditungguin sampe jam makan siang enggak datang juga