MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #3

B1

 

B1 | Tri

 

2016

“Ibu memang bukan ibu kandungku.”

Gema kalimat Cindy masih tertinggal di udara saat daun pintu berdentam dihantam angin. Tri menatap lurus ke kegelapan halaman. Siluet anak perempuannya mulai kabur, hanyut ditelan pekatnya hujan badai. Tepat saat Tri mengangkat kaki untuk melangkah keluar teras, sepasang tangan mencengkeram jaketnya dari belakang dengan brutal.

“Sudah! Biarin aja!” jerit Lina. Air hujan mulai membasahi pakaian mereka, merembes ke barang-barang di dekat pintu depan.

“Kurang ajar kayak begitu dibiarin?” bentak Tri, mencoba menyentak pegangan istrinya.

“Biarin!” titah Lina. Dada Lina naik-turun, napasnya memburu berisik menantang deru angin, “Dia ngehina aku bejat! Padahal seumur hidupku di rumah ini, siapa yang sebenarnya bajingan?”

“Apa maksudmu!?”

Lina terkekeh getir, menelan ludahnya yang terasa sepat. “Pernah ingat enggak? Kamu ngebiarin anakmu enggak punya masa depan. Semua gegara kamu! Aku di sini, enggak pernah enggak mikirin anak. Camkan itu, Tri!” Tanpa membalas kalimat istrinya, Tri menebas kasar tangan Lina. Langkahnya melompat ke sudut teras basah, meraih kunci motor yang tergantung di balik daun pintu. “Sayang! Biarin aja!” teriakan Lina tertinggal di belakang.

Dengan tangan yang gemetar menahan amarah, Tri menusukkan kunci kontak ke motor tuanya. Kaki kanannya menghantam tuas starter berulang kali secara brutal, memaksa besi tua itu hidup di bawah guyuran air yang kian menggila. Di balik rahangnya yang mengatup rapat hingga sendinya ngilu, sebuah umpatan melesat pelan, “dasar anak Dewi.”

 

---

 

1992

“Dewi?” Tri memastikan ulang. “Cewek tetangga lawas kita itu? Yang benar aja, Pak?”

“Kamu menolak terus,” sela Pak Ut tajam, “sampai kapan kamu melajang, ha? Umurmu udah dua tujuh tapi masih aja narik-narik bapak!”

Tri menggaruk pelipisnya yang mendadak terasa panas, awalnya sebelah kanan, lalu yang kiri, dan lalu yang kanan. Rahangnya mengatup ketat. “Pak, Bapak tahu sendiri...,” ia menahan napas sejenak, mencoba meredam getar di suara, “udah aku bilang kalau aku udah punya. Sampai detik ini pun orangnya masih sama.”

Ketukan di pintu yang terbuka lebar memotong kalimatnya. “Pak, sudah siap.” Kepala Pak Ut terangguk sekali kepada anak buahnya itu. Ia langsung mengenakan topi yang tergeletak di atas meja kerjanya.

“Ambil bonnya. Buruan,” suruh Pak Ut dingin.

“Kita belum selesai, ya Pak,” Tri merentangkan tangannya, mencoba menghadang langkah bapaknya. “Aku tetap enggak bakal mau pokoknya.”

Pak Ut tidak repot-repot menepisnya, mendorong bahu Tri lalu terus berjalan menuju ambang pintu. “Ambil bonnya, Tri,” ucapnya tanpa menoleh.

Lihat selengkapnya