B2 | Dewi
1992
Bip.
Dewi duduk mematung di bangku semen yang dingin, menatap lurus ke arah sebaris pohon palem yang daunnya kering meranggas dihantam angin. Air matanya dibiarkan turun tanpa diusap, merembes membasahi kain rok brokat yang kaku. Pandangannya berpindah pada selembar bunga kamboja di atas meja semen—ujungnya sudah membusuk, cokelat kehitaman akibat lembap. Dewi memilin kelopak kamboja itu dengan ibu jarinya hingga hancur, meninggalkan noda getah yang lengket dan pahit di kulit.
Bip.
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencoba melarikan diri, menghayati ritme jangkrik dan gesekan daun kering yang disapu angin. Pikirannya melayang begitu jauh hingga ia tidak menyadari langkah kaki yang mendekat dari belakang.
"Wi... Dewi."
Bip.
Dewi tersentak, menarik napas kuat-kuat seolah baru saja muncul dari dalam air. Sepasang tangan yang hangat dan sedikit kasar mendarat di bahunya yang gemetar. Bu Ila—tetangganya yang lima belas tahun lebih tua—tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia merengkuh tubuh ringkih itu dari belakang, memeluknya erat dan kaku.
Bip.
Dewi menggeleng pelan dalam dekapan itu, isak tangisnya membuat riasan wajah yang tebal luntur membasahi kain kebayanya.
Bip.
“Keluargaku itu konyol, Bude,” bisik Dewi parau, suaranya tipis. “Bapak di dalam sana sedang bertaruh nyawa, tapi Om di luar sibuk nyocokin jam akad sama Tri. Katanya biar jaga-jaga kalau... kalau Bapak lewat.”
Bip.
Dewi tertawa getir, sebuah tawa kering yang pecah menjadi tangis pelan. Jari-jarinya yang berlepotan getah kamboja mencengkeram lengan Bu Ila. “Kemarin-kemarin waktu aku datang ngetuk pintu rumah mereka satu-satu, enggak ada satu pun yang mau menampungku.” Dewi berhenti. Tangannya yang berlepotan getah kamboja mencengkeram lengan Bu Ila lebih erat. “Sekarang, mereka datang berlagak pahlawan.”
Bip.
Dewi menyeka pipinya yang penuh noda riasan basah. “Bapak juga begitu. Kenapa enggak bangun buat dengerin aku? Aku enggak peduli kaya. Lagian kaya apanya? Yang kaya itu bapaknya Tri. Yang kukawinin itu bukan Bapaknya.”
Bip.
Bu Ila makin merapatkan dekapannya, sementara Dewi menyandarkan kepalanya yang berat di dada wanita itu. "Tri bilang dia mau batalin. Bilang dia punya pacar lain." Dewi tertawa getir, tawanya langsung pecah menjadi isak. "Tapi kenapa... kenapa mendadak nurut aja?"
Bip.
Dewi merapatkan sepasang tangannya, meninjukan kepalannya ke paha dengan sisa tenaga yang melenyap. “Aku enggak mau kawin dengan dia, Bude. Kalau Bapak memang mau pergi, ya pergi aja... buat apa aku sampai kawin? Aneh tahu enggak sih?”
---
Bip.
Empat orang duduk berhadapan, sebagian di kursi besi, sisanya di atas kursi plastik kelabu di selasar luar kamar ICU. Tidak ada meja perhiasan, tidak ada karpet pengantin, apalagi doa-doa yang dilantunkan nyaring. Hanya ada penghulu, dua saksi dari Om Dono-wali Dewi, dan Bu Ila, serta Pak Ut yang berdiri tegap di sebelah Dewi. Tri menunduk kaku mengenakan kemeja kebesaran, begitu juga dengan Dewi yang berada di sebelahnya. Udara koridor rumah sakit terasa dingin, berbau busuk karbol dan alkohol cair yang menusuk hidung.
Bip.