MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #5

B3

 

B3 | Edwin

 

2008

“Edwin, bangun,” seru Pak Anton pelan. “Ayo, katanya mau kerja, buruan.”

Matanya begitu berat untuk terbuka. Edwin meregangkan seluruh tubuhnya, tetapi saat kedua tangan merentang lurus sejajar kepala, mendadak lemas dan kembali tertidur.

“Yah, kok malah tidur lagi, sih.” Pak Anton menunggu sejenak, dan tahu-tahu Edwin sudah kembali mengorok. “Astaga.” Pak Anton kembali menggoyangkan bahu Edwin, tetapi belum ada jawaban. Merasa buntu, Pak Anton berkata keras, “Ya sudah, nganggur saja sana!”

Edwin seketika menopang badan. Dengan satu mata yang masih menyipit, ia melayangkan senyuman ceria. “Ah... siap bangun kok, Pak,” lirih Edwin serak, berbisik.

Pak Anton tersenyum menahan tawa. “Buruan mandi,” suruh Pak Anton. “Nanti ikut Bapak ke tempat Mas Tri. Nanti kamu panggil dia Pak, jangan Mas. Tapi sebelum ke Mas Tri kita nanti ambil... yah, yah... ngorok lagi.”

 

---

 

Pak Anton memimpin langkah di depan, sedangkan Edwin mengekor dua langkah di belakang sebelah kirinya. Angin pesisir berembus cukup kencang. Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi langit timur sudah membiaskan cahaya temaram untuk menerangi aktivitas dermaga.

“Kamu di sini dulu, Bapak ke sana sebentar.”

Edwin menunggu, menatap sekelilingnya. Banyak nelayan sibuk menggotong jaring, bahkan beberapa mobil pick-up berbau amis sudah terparkir. Edwin sedikit berjinjit, mengintip bak belakangnya—ada satu ember besar berwarna biru yang penuh dengan ikan hasil tangkapan.

Bukannya diam di tempat, Edwin justru melangkah menjelajah. Ia memperhatikan aktivitas orang-orang— ada yang sedang merokok, berbincang, hingga mengangkat ember-ember penuh ikan ke atas angkutan. Di ujung dermaga, tampak antrean empat kelompok nelayan yang menunggu giliran menimbang ikan.

“Hei, dibilang jangan ke mana-mana malah keluyuran.” Pak Anton menepuk bahunya dari belakang.

“Pak, kita telat, kah?”

“Bukan kita, tapi kamu.”

“Lah, kok aku?”

“Dari tadi malam dibangunin malah lanjut ngorok.”

“Masa, Pak? Kok aku enggak ingat?”

“Halah, sudahlah, ke Mas Tri dulu.”

Mereka berjalan menuju tempat penimbangan yang gilirannya baru saja berkurang satu kelompok. Edwin masih menaruh pandangan ke aktivitas para nelayan. Menyadari ketertinggalannya, Edwin menyamai langkahnya dengan Pak Anton. “Oh iya Pak, Bapak manggilnya Pak Tri ajalah. Geli dengarnya kalau Mas,” cetus Edwin.

“Win, Tri itu usianya lebih muda dari Bapak.”

“Kalau lebih muda ya buat apa pakai 'Mas'? Langsung saja pakai... 'Bro'. Naaah!”

“Bodoh.”

Begitu masuk ke area penimbangan, Edwin langsung mengernyitkan hidung dan mulutnya. Bau amis menusuk, mencekik saluran pernapasannya. Ia menoleh ke belakang berusaha menarik napas segar, tetapi niat itu batal karena tak jauh di belakangnya tumpukan ikan juga berjejer. Saat Edwin memutar badan mencari udara, Pak Anton mendadak memanggilnya.

“Kamu Edwin?” tanya Pak Tri. “Kenapa wajahmu? Bau?”

Edwin yang sedari tadi mengernyitkan wajah mulai mengendurkannya. “Eh, bukan, Pak. Anu, ehm... tadi —”

“Itu di pojok sana,” potong Pak Tri dingin. Edwin menoleh, melihat sebuah mesin perahu yang menganggur dekat pohon.

“Benerin. Telat banget datangnya,” tambah Pak Tri.

“Lah?” Edwin dan Pak Anton bergumam bersamaan.

“Sudah, buruan kerjakan.” Pak Tri berbalik mengurusi timbangan.

Pak Anton menatap Edwin, lalu mengangguk kaku ke arah Pak Tri hendak pamit. “Makasih, Bro. E-eh, Pak. Eh, Mas.” Sadar lidahnya kepeleset, Pak Anton buru-buru menarik lengan baju Edwin dan menyeretnya menghampiri mesin di dekat pohon.

“Kan, Pak. Apa kata saya,” bisik Edwin tertawa tipis.

Pandangan Pak Anton terpaku kpada mesin di ujung sana, “Kenapa mesin, ya?”

“Lah, bentar, tadi yang 'Bro'. Mantap kan, Pak?”

“Duh! Tuh, kamu bisa enggak membetulkan mesin perahu? Kalau rusak, Bapak tidak mau menanggung, lho.”

“Lho, kan Bapak yang bawa aku ke sini. Jadi Bapak yang anu...”

“Anu apa? Aduh, kamu dikira teknisi panggilan yang dipesan Mas Tri!”

“Bro.”

“Bodoh.”

“Tapi tidak apa-apa sih, Pak. Saya bisa.” ucapnya sembari berjongkok mengecek mesin itu.

“Sialan!”

“Kenapa?” tanya Edwin, beranjak berdiri menoleh kanan-kiri, mencari tahu apa yang membuat Pak Anton kaget.

“Kamu kenapa pakai kaus 'Anda Sopan Kami Mesin'?!” ujar Pak Anton sambil menarik kaus yang dikenakan Edwin.

“Oh alah, pantas dikira anak mesin, ya?” Edwin tersenyum lebar. “Tenang, Pak... aku lulusan SMK teknik mesin, percaya saja.”

“Bebas. Kalau ada apa-apa, jangan panggil Bapak.”

“Panggil Bro?”

“Bodoooooh,” geram Pak Anton. “Aku mengirim tangkapan dulu.” Pak Anton menunjuk pick-up yang tadi diintip Edwin.

“Oh itu punya Bapak? Bapak kok dapatnya sedikit? Orang-orang saja banyak gitu. Faktor U?”

“Faktor U pala bapakmu! Sudah, pergi dulu.”

“Iya-iya. Hati-hati, Pak!”

 

---

 

Pak Anton turun dari mobil pick-up. Edwin yang sedang membasuh tangannya yang belepotan oli di depan teras mendongak. “Lah, aku kira mobilnya punya Bapak.”

“Lho, kok di sini?” tanya Pak Anton, heran.

“Hah? Harusnya di mana, Pak?” Edwin celingukan, mencari-cari alasan keterkejutan Pak Anton. “Maksudnya kalau mau cuci tangan di kamar mandi?”

“Bukan, mesinnya sudah selesai?”

“Pak, baca lantang kaus saya,” sahut Edwin, menunjuk tulisan di dadanya.

Pak Anton hanya menggeleng, melewatinya begitu saja untuk masuk ke dalam rumah. Edwin mempercepat bilasan tangannya yang kotor, lalu bergegas menyusul masuk.

“Pak,” panggil Edwin sambil mengelap tangan pada celananya.

Lihat selengkapnya