MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #6

C1

 

C1 | Dewi & Edwin

 

1995

Hawa menyengat itu menyatu di bawah naungan pohon ketapang dekat gubuk bambu. Dewi berjalan seraya memindahkan tumpuan Cindy ke panggul kirinya. Balita dua tahun yang terlelap itu makin memberat, membuat otot leher dan bahu Dewi kaku seusai berjam-jam membungkuk mengangkat tampah ikan asin. Dahi Dewi basah. Ia menyapu keringat itu dengan selendang lusuh, lalu mendaratkan bokongnya di atas gubuk bambu yang berderit nyaring.

“Agak capek ya, dari tadi mondar-mandir ngurusin anak,” desahnya, menghembuskan napas pendek.

Ibu-ibu yang jemarinya masih ternoda kerak garam dan sisik ikan seketika menoleh. Salah seorang dari mereka memperhatikan wajah balita di pangkuan Dewi. “Sudah umur berapa ini, Wi?”

“Dua tahun, Bu.”

“Ih, Wi... makin gede kok bentuk mukanya ada mirip-miripnya sama Si Tri,” letuk wanita di ujung gubuk sambil terkekeh.

Otot di sekitar bibir Dewi mendadak menegang kaku. Ia membuang muka, mengibaskan selendang ke udara seolah mengusir lalat. “Hiii, apa sih, Ibu,” sergahnya cepat. Tawa yang keluar dari tenggorokannya terdengar hampa dan kering. “Amit-amit.”

“Hahaha, masa iya enggak boleh mirip bapaknya sendiri,” sahut Bu Mun seraya melipat kakinya.

Kelopak mata Cindy bergerak-gerak mulai terbangun. Menyadari hal itu, Dewi bergegas menegakkan punggung. Ia mengapit kedua ketiak mungil itu, menaik-turunkannya perlahan. “Cintaku, sayangku... Ulu-lu-lu, pipinya tembem, imut-gemes.”

Cindy terkikik geli, matanya yang membulat polos menatap sang ibu—sejenak mengendurkan kerut kaku di wajah ibu-ibu di sana.

“Untung aku masih lancar menyusui sih, Bu. Padahal lagi capek begini,” seloroh Dewi.

Seorang ibu menyiku lengan Dewi dengan senyum dikulum. “Terlatih nganu mungkin. Masih ngasih jatah?”

Ibu di sebelah Dewi meraih Cindy pelan. Dewi terkekeh pendek sambil menggeleng. “Ogah-ogahan aku, Bu. Mending lari.”

“Tapi emang hadirnya anak tuh... bikin beda rasa hidupnya, ya kan?”

Dewi mengangguk pelan. Kepala para wanita lain ikut terangguk-angguk dalam diam. Teringat tugas utamanya, Dewi merogoh tas pinggang yang lembap oleh keringatnya sendiri. Jemarinya yang bergetar tipis mengeluarkan beberapa lembar amplop cokelat. “Oh iya...” Ia membagikan kertas cokelat itu satu per satu.

Seorang ibu merobek segel amplopnya, lalu menghitung lembaran uang di dalamnya. Perlahan, cengkeramannya pada lembaran uang itu melar. Kertas cokelat di tangannya teremas pelan.

“Aduh, maaf ya, Bu... masih susah,” cicit Dewi, matanya tak berani menatap lurus. “Aku cari-cari buku hitungan suku bunganya tetap enggak ketemu.”

Keheningan kaku langsung menyergap. Jemari ibu-ibu yang semula lincah menghitung uang mendadak berhenti total. Seorang ibu dengan dahi berkerut dalam mengadu, “Wi, seingatku tiga bulan lalu harusnya utangku sudah lunas. Tapi kok masih kehitung sampai sekarang?”

“Yang benar, Bu?” sahut wanita di sebelahnya mendadak menegakkan punggung.

"Kemarin tangkapannya lumayan, Bu. Jadi cepat nutupin utangnya."

“Ah... tapi susah ngomongnya,” sahut yang lain. Ia berkata lagi, “Apa kita-kita saja ya, Wi?”

“Maksudnya gimana?” Dewi menahan napas, matanya membelalak cemas.

“Ya... ngomong langsung sama suamimu.”

"Susah, Bu. Kemarin suamiku dikasih alasan gara-gara ikannya enggak segar."

"Suami kita berani enggak, ya?"

“Jangan aneh-aneh!” potong Dewi cepat. Suaranya melengking menembus ketenangan sore. Rahangnya yang mengatup rapat pelan-pelan mengendur, “Kalian tahu sendiri akibatnya kalau dia lagi kumat.”

Ibu-ibu itu menunduk dalam, menghembuskan napas kasar, membuang pandangan kosong ke permukaan tambak, atau meremas jemari mereka sendiri.

Dewi memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya ke sela-sela rambut hingga kepalanya menunduk dalam, membenamkan wajah kuyunya di atas sepasang lutut.

Enggan tenggelam dalam kesesakan yang makin parah, seorang ibu mengembalikan Cindy ke pangkuan Dewi demi memecah kebekuan. “Bentar lagi tahun baru. Mau ngumpul lagi enggak?”

“Ah, enggak ah. Masa suamiku ditinggal lagi kayak tahun kemarin.”

“Ya kan bisa ngumpul sama bapak-bapak dia.”

“Tapi aku inginnya bareng suami, Bu.”

“Dijadiin satu saja kah?” usul Bu Mun.

Bahu Dewi menyentak lurus. “Apa... apa kita ngelakuin itu pas kumpul nanti? Seolah kita memanjatkan doa dan syukur, tapi sebetulnya sekalian...”

“Jangan, Wi,” potong ibu di sebelahnya menyela cepat, tangannya menahan lengan Dewi.

“Kita pengin sih, Wi. Cuma... kalau dipikir-pikir lagi... benar katamu. Mau dapat uang berapa pun, adakalanya tetap kepepet ngutang,” ujur seorang wanita.

Bu Mun menatap mereka satu per satu, tatapannya tajam. “Tapi kalian masa bakal ngutang sampai mati?”

“Ya... paling kita ngutang buat siapa sih, Bu? Kalau bukan buat orang rumah... ya anak.”

Kalimat itu mengunci rapat mulut semua orang. Keheningan berat jatuh menimpa gubuk bambu itu. Dewi menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memutih. Tangannya melingkar makin ketat, merengkuh tubuh hangat Cindy ke dadanya seolah menjadikan balita itu perisai ketakutannya.

"Aku mau mencoba," tegas Bu Mun.

Dewi meremas jemarinya. “Sejujurnya aku masih takut sama Tri,” bisiknya nyaris hilang ditelan angin.

 

---

 

1992

Dewi meraba kulit paha dan area kemaluannya yang basah dan lengket. Matanya terpejam rapat, menahan gelombang mual yang beradu dengan nyeri yang berdenyut hebat. Ia memiringkan tubuhnya di atas sprei yang kusut, membiarkan dirinya terbaring tanpa selembar benang pun. Hawa dingin malam yang merayap lewat celah ventilasi menyentuh kulitnya yang berpeluh, tetapi Dewi merasa seperti terbakar sekaligus mati rasa. Napasnya terengah-engah, pendek dan patah-patah, sementara persendiannya gemetar hebat.

Di sisi tempat tidur, Tri duduk membelakangi Dewi. Sebatang rokok menjepit di jemarinya, mengepulkan asap tebal ke udara kamar yang pengap. Pria itu menatap lurus ke cermin kayu di pintu lemari, mengamati kemaluannya yang menggantung, merapikan bahunya, dan sesekali memeriksa lekuk dadanya tanpa sedikit pun menoleh pada perempuan yang tergeletak di sampingnya.

“Kamu lemah. Sok suci,” letuk Tri dingin, diakhiri hisapan rokok yang dalam. “Pakai berdarah segala. Najis kontolku.”

Pendengarannya mendadak terasa tertutup rapat, suara angin di luar melenyap, berganti desing melengking yang menusuk-nusuk gendang telinganya. Dunia di sekitar Dewi seolah mendadak tuli.

Tri membuang puntung rokoknya ke lantai semen, menginjaknya hingga mati, lalu merogoh bungkus baru di atas meja. Bunyi gesekan korek api kayu terdengar tajam. Ia menghembuskan asap pekat ke udara, memilin dahinya sejenak, lalu mendesis jengkel. “Ya... untung saja enggak sampai nembus kasur darahnya.”

Lihat selengkapnya