MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #7

C2

 

C2 | Tri & Dewi

 

1995 - Siang

Dewi melihat jemari mungil Cindy masih meregang-lepas kepalan tangan dari celah lipatan kain sarung yang membebat tubuhnya—sebuah ritual wajib setiap kali mata bocah dua tahun itu mulai meredup. Ayunan sarung batik yang terikat kuat pada kayu kasau di atap itu perlahan-lahan melambat. Dewi membiarkan jemari mungil itu berjuang melawan kantuk, sementara jemari tangannya sendiri sibuk membelai lembut pipi sang anak dari luar kain. Keheningan bilik berdindingkan anyaman bambu itu kian pekat. Hanya ada derit halus tali ayunan yang bergesek dan helaan napas Cindy yang kian lama kian berat, hingga akhirnya jemari kecil itu terkulai pasrah.

Dewi memastikan anaknya benar-benar telah terlelap. Ia membetulkan lipatan sarung penutup di bagian atas ayunan agar rapat dari gigitan nyamuk, lalu menahan kain itu pelan-pelan hingga gerakannya hening total. Dewi melangkah keluar bilik. Telapak kakinya yang telanjang menapak dingin kusamnya lantai tanah liat yang padat tanpa suara, melewati celah-celah dinding yang menyelipkan desir angin malam dari luar.

Di ruang dapur yang beralaskan tanah, Bu Ila sedang duduk di atas kursi kecil kayu rendah sambil mengupas bawang. Sinar redup dari lampu tempel minyak tanah menimpa wajah tua itu. Dewi menghampirinya, menyusuri lantai tanah yang terasa dingin di telapak kakinya.

"Maaf ya, Bude. Aku jadi sering menitipkan Cindy," ucap Dewi. "Ibu yakin enggak sekalian menginap di rumah Dewi saja?”

“Aman, Wi. Cindy sudah kenal sama Ibu.”

Dewi menghela napas.

“Makan dikit mau? Ibu masak tadi.”

“Enggak, Bude. Buat Bude sama Bapak saja,” kata Dewi. “Aku sudah ninggalin ibu-ibu buat nyiapin malam nanti.”

“Kamu ngumpul begituan kayak anak-anak muda saja,” kata Bu Ila, bercanda seraya melempar kulit bawang merah ke lantai tanah di bawah kakinya.

“Menolak tua, Bude.” Dewi tertawa pendek setelah mengucapkan itu.

“Tadi aku bawain beberapa jajan, sudah Ibu simpan, kan?”

“Iya, kamu sudah membahasnya empat kali lho. Ibu taruh di bawah tudung saji tadi.”

Dewi tersenyum, tertawa kecil. “Ya sudah, Bude. Pamit.” Dewi kemudian meraih dan menyalami tangan Bu Ila yang berbau bawang.

“Wi.”

Langkah Dewi tertahan. “Iya?”

“Aku teringat pas kamu menegur Tri...”

Senyum tipis di wajah Dewi meluruh seketika. Celah bibirnya mengatup rapat.

Bu Ila meletakkan pisau dapur kecilnya di atas talenan kayu yang lapuk. Ia menatap garis wajah Dewi di bawah pendar redup lampu tempel. “Jangan lagi ya, ‘Nak...”

Air hangat menggenang mendadak di pelupuk mata Dewi. Ia memalingkan muka sedikit ke arah celah dinding bambu, menahan kelopak matanya agar gumpalan bening itu tidak meluncur jatuh.

“Ibu enggak tahu, ngomong begini benar atau enggak,” bisik Bu Ila, suaranya parau, tenggelam bersama desir angin luar. “Tapi sekuat apa pun kamu meyakinkan Tri buat berhenti tunduk sama Mas-nya... itu enggak akan mempan. Mas Eko bahkan tega enggak membagikan tambaknya ke Dwi.”

Bu Ila mengibaskan sisa-sisa kulit bawang merah yang menempel di baju dan lipatan sarungnya. Namun, begitu ia mendongak kembali untuk menatap tempat Dewi berdiri, ambang pintu itu sudah melompong.

 

---

 

1995 – Sore Menjelang Malam

beberapa pemuda dan lelaki penuh peluh saat mengangkut gelondongan kayu lapuk dan sisa bilah bambu kering, menyusunnya membentuk kerucut tinggi untuk api unggun. Suara gelak tawa sesekali pecah tatkala kayu yang mereka tumpuk roboh, sebelum salah seorang dari mereka menyiramkan sedikit minyak tanah ke sela-sela tumpukan sebagai persiapan acara nanti.

Aroma jagung yang hangus menguar dari bara tempurung kelapa, menyatu dengan bau gula setrup dan buih soda. Lentera minyak bergoyang di tiang bambu setinggi pinggul, melempar bayangan anak-anak kecil yang berkejaran di atas pasir. Di dekat tumpukan kayu yang belum dinyalakan, bapak-bapak duduk berkelompok mengapit rokok kretek, sementara ibu-ibu menguasai area tungku, membolak-balik jagung, mengolesinya dengan air garam campur bawang dan mengaduk setrup dalam ember plastik besar. Di antara kepulan asap yang membuat mata perih, keramaian pesisir di batas sore perlahan menggelap.

 

---

 

1995 - Malam

Di tengah pekatnya malam, hamparan tanah lapang berumput kering di pinggir pantai itu dihidupkan oleh formasi melingkar tak beraturan dari puluhan warga yang duduk bersila. Titik-titik cahaya jingga dari belasan lampu minyak tanah—yang dipangku acak di sela lipatan sarung—tampak bergoyang kaku dihantam angin pesisir yang berembus kasar. Pendaran lampu yang ringkih itu berceceran, memantulkan sinaran temaram yang hangat. Di dalam lingkaran yang kusam itu, warga saling mengoper dan membagikan piring seng berisi jagung bakar.

Tepat di pusat kepungan warga, tumpukan kayu api unggun berkobar dahsyat dengan jilatan api kemerahan yang melesat membelah keheningan. Letupan kayu kering dari pusat bara sesekali memercikkan bunga api yang langsung padam ditelan malam, menguarkan aroma asap dan jelaga pekat. Tarikan cahaya dari api unggun yang bergejolak dan temaram lampu minyak menciptakan tarian bayangan tubuh yang melebar kaku di atas tanah pasir. Puluhan nelayan dari empat desa duduk berjajar di atas tikar bambu yang sudah kusam; sebagian memangku anak yang mengantuk, sebagian lagi memeluk lutut sendiri.

Tri berdiri di titik paling dekat dengan api—satu-satunya yang berdiri tegak. Bayangannya membentang jauh ke belakang, menutupi separuh wajah orang-orang yang duduk di baris depan.

"Tahun baru ini," Tri membuka obrolan. Tangannya terangkat singkat, lalu jatuh kaku di samping tubuh. "Aku ucapkan selamat." Ia menjeda, membiarkan kayu terbakar berderak mengisi kesunyian. "Semua perahu turun lebih awal mulai besok. Tangkapan kalian harus lebih segar. Jangan ada lagi ikan lembek yang masuk pasar, biar harganya bisa kita pegang."

Ia melangkah pelan menyusuri tepi lingkaran. Sepatu botnya menekan tanah pasir yang masih menyimpan hangat sisa siang.

"Aku dengar," lanjutnya, nada suaranya tenang namun berat, "belakangan ini banyak yang ngomongin aku di belakang. Di warung, di pos ronda, di rumah masing-masing sambil nunggu perahu pulang." Tri berhenti tepat di tengah lingkaran, berputar pelan menatap satu per satu wajah yang mulai menunduk. "Katanya aku serakah. Katanya aku enggak mikirin kalian. Katanya sejak aku pegang kendali, hidup kalian makin susah."

Lihat selengkapnya