MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #8

D1

 

D1 | Dewi

 

1996

Dewi menghela napas lega saat melangkah keluar dari naungan atap seng lapak besi tua. Bau karat yang tajam dan debu oli dingin mengepul dari tumpukan plat besi di sekelilingnya. Ternyata benar dugaannya—kemarin ia tersesat di lapak yang salah, membuang waktu setengah jam hanya untuk mencari onderdil yang rupanya terselip tiga los dari tempatnya berdiri sekarang. Dewi mengetatkan simpul kantong plastik hitam berisi potongan logam berat di genggamannya, menyapu peluh di dahi dengan punggung lengan.

Baru dua langkah kakinya menapak lorong tanah yang penuh jelaga, matanya menangkap sekelebat tubuh kecil yang berlari kencang. Bocah berkaos kumal itu menyelip tangkas di antara celah pembeli yang sedang menawar jam tua.

Tanpa pikir panjang, Dewi memotong jalan, menyerobot deretan terpal pedagang, lalu berhasil mencengkeram pergelangan tangan kecil yang berkerak debu itu.

"Adik—"

PLAK!

Tangan kecil yang kurus itu menyentak dan menepis keras punggung tangan Dewi. Rasa ngilu memercik di kulitnya, memaksa refleks genggaman Dewi terlepas seketika. Anak itu sudah melesat lagi, hilang di balik himpitan punggung orang-orang dewasa. Dewi memijat punggung tangannya, lalu mengibaskannya ke udara. Ia menggeleng pelan ke arah anak tadi, seraya berjalan menuju pinggir jalan raya.

Dewi berdiri di bawah naungan pohon peneduh yang rantingnya meranggas tipis. Matahari makin menyengat. Dewi kembali menatap ke arah kerumunan, menatap ke arah anak-anak yang berlalu lalang, ia mencari-cari bocah tadi. Dentaman suara Tri tahu-tahu kembali terputar di kepala.

“...anak pertama dari keluarganya itu anak laki-laki. Semua mas-masku iya, dapet laki. Sisa aku.”

Dewi menghela napas, menatap ke arah setiap bocah laki-laki yang tampak pada pandangannya. Setelah menunggu sampai lima kali lampu merah, sebuah bemo akhirnya berhenti di depannya. Ketika gilirannya masuk ke pintu yang mengharuskannya menunduk, tepat saat satu kaki Dewi baru saja menjejak pijakan besi, pandangannya terlempar ke trotoar seberang jalan. Jalanan semen yang retak, sosok kecil itu duduk meringkuk memunggungi lalu lintas. Kepala bocah itu tertunduk dalam.

Dewi menarik kakinya kembali dari tangga bemo. Ia langsung menyeberangi jalan raya dengan sedikit tersentak setiap tak menyadari keberadaan transportasi yang lewat. “Akhirnya.” Napas Dewi sesak ketika berhasil tiba di seberang jalan. Ia melangkah pelan sambil membuka tasnya untuk meraih sesuatu di dalamnya.

Bocah itu menoleh tajam dengan mata liar. Kaki anak itu sudah mengetat, siap pasang kuda-kuda untuk lari.

Dewi tak memajukan tubuhnya. Ia mengulurkan sebungkus roti isi selai. Pandangan bocah itu tertahan sepersekian detik pada telapak tangan Dewi. Bungkusan roti itu dari telapak tangan Dewi lenyap.

“Buat aku?” tanya Bocah itu.

“Sudah di tanganmu masih tanya?”

Plastik roti itu dirobek paksa dengan giginya, dan dalam hitungan detik, potongan roti dijejalkan ke dalam mulutnya. Dewi mendudukkan dirinya di atas beton trotoar, diikuti bocah itu. Mereka menjaga jarak satu langkah.

Matanya turun ke celah paha anak itu—segenggam potongan tembaga, baut berkarat, dan kawat timah bekas yang terkumpul kotor. "Ini apa—" Jemari Dewi menunjuk.

"Jangan disentuh!" sentak anak itu cepat. Kedua tangannya langsung menangkup tumpukan logam itu rapat-rapat, mulutnya masih penuh dengan roti yang belum usai dikunyah.

Dewi menarik tangannya seketika, terhenyak. "Iya, iya. Enggak jadi." Dewi mengawasi tenggorokan anak itu naik-turun menelan suapan besarnya. "Rumahmu di mana, Dik?" tanya Dewi pelan, suaranya dihaluskan.

"Mana saja bisa, yang penting selamat." Anak itu mengunyah sisa roti di mulutnya tanpa memandang Dewi.

Garis bibir Dewi yang semula melengkung ramah perlahan meluruh mendatar. Rahangnya mengatup kaku. "Kenapa kamu suka nyolong-nyolong begini?" Ah, benar juga, ngapain aku hampirin anak kayak dia?

Anak itu bungkam. Gerakan mengunyahnya melambat. Tanpa sepatah kata, ia meletakkan sisa rotinya yang tinggal separuh di atas plastik. Ia bangkit berdiri, mengantongi potongan logamnya ke celana pendeknya yang melar, lalu melangkah pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Dewi menggaruk kepala, menatap punggung mungil itu hingga lenyap di tikungan gang sempit.

Dewi menghela napas panjang, bangkit berdiri. Ia berjalan kembali ke tepi jalan utama, melambaikan tangan menyetop bemo berikutnya yang melintas. Ia memanjat masuk, mendaratkan bokongnya di atas bangku sempit yang berderit.

"Woi!"

Teriakan melengking pecah dari balik jendela kaca yang terbuka tepat saat bemo menancap gas. Dewi menoleh cepat. Anak itu mengangkat dan melambaikan sesuatu di tangan kanannya.

"Bentar, Pak-pak-pak! Pak, Pak!" Dewi panik, menepuk-nepuk kasar bahu sopir di depannya. Bemo itu mengerem mendadak dengan derit ban yang tajam, memicu klakson kendaraan di belakangnya meledak bersahut-sahutan. Sebelum kendaraan benar-benar berhenti total, Dewi menjulurkan badannya ke luar pintu. "Sini, naik!" Bocah itu langsung mengayuh kakinya sekencang mungkin, berlari mengejar bemo.

 

---

 

Malam itu mereka makan di warung bebek goreng kaki lima dekat terminal. Dua piring beralas daun pisang yang mengilat oleh minyak panas terhidang di antara mereka. Di atas daun pisang itu, segunduk nasi putih masih mengepulkan asap tipis, bersanding dengan paha bebek goreng Madura yang pekat disiram bumbu hitam lengket kaya rempah sangrai. Bau gurih ketumbar, lengkuas, dan sengatan cabai merah terbakar membumbung, mengalahkan bau asap knalpot bus yang sesekali mampir.

Dewi menatap anak itu melahap makanannya dengan buas. Jemari kecil yang berkerak debu itu kini belepotan minyak dan lelehan bumbu hitam pekat. Mulutnya nyaris tidak berhenti mengunyah sekaligus bicara, meremukkan tulang muda bebek sampai berderet nyaring.

Diam-diam Dewi membatin—andai anaknya laki-laki, mungkin Tri akan menangkapnya dengan cara yang jauh berbeda.

"Tahu enggak, Mbak," anak itu memulai, tanpa diminta, menyapu dagunya yang berminyak dengan punggung tangan. "Bebek itu enggak bisa dibedain jantan-betina dari suaranya doang. Tapi kalau jalan, yang jantan lebih pelan, soalnya dia harus ngintilin yang betina." Ia mengunyah cepat, menelan suapan besar, lalu lanjut tanpa jeda. "Aku sering diomelin orang gara-gara suka gendong bebek punya orang. Kata mereka aku nyolong. Padahal cuma mau tahu rasanya digigit paruhnya doang."

Dewi tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala. "Tadi kamu ngasih tahu Mbak kalau enggak suka lele, kan?"

"Benci banget. Jangan sampai sebut, deh. Amit-amit tujuh turunan generasi makan itu." Anak itu mengernyit, mukanya ditekuk seolah baru saja mencium bangkai. "Licin, matanya aneh, enggak enak dilihat pas masih hidup. Memang enak, sih. Cuma jangan-jangan deh."

"Untung tadi Mbak bawa kamu ke sini, bukan ke tempat pecel lele," goda Dewi, bibirnya mengukir senyum.

Anak itu tertawa lepas, memperlihatkan dua gigi depannya yang ompong.

Dewi menatapnya sebentar, lalu bertanya setengah iseng, "Kamu sudah nyolong apa saja sih selama ini?"

Lihat selengkapnya