MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #9

D2

 

D2 | Edwin

 

2009

Edwin berjongkok di samping mesin diesel tua itu, tangannya belepotan oli sampai ke siku, obeng terselip di antara gigi sambil kedua tangannya sibuk mengendurkan baut yang macet. Keringat menetes dari dagunya, jatuh ke lantai semen yang sudah penuh noda hitam bertahun-tahun.

"Din!" Suara Pak Hadi terdengar dari luar sebelum sosoknya muncul di ambang pintu bengkel, diikuti Pak Edi yang menenteng sebungkus rokok kretek, sudah setengah habis.

Edwin mendongak sebentar, mengangguk sebagai sapaan, lalu kembali ke bautnya.

"Gimana, udah selesai?" Pak Hadi melangkah masuk, jongkok di sisi lain mesin, ikut mengintip ke dalam bodinya seolah paham apa yang sedang dikerjakan.

"Sebentar lagi, Pak." Edwin menyeka keringat dengan lengan atasnya, meninggalkan noda oli baru di sana. "Businya kotor. Sama, apa tadi... anu, karburatornya juga perlu dibersihin."

Pak Edi menarik bangku kayu di sudut bengkel, duduk, menyalakan rokoknya. "Ealah, ini yang bikin susah nyala tiap pagi?"

"Iya, Pak."

Hening sebentar, hanya bunyi obeng beradu dengan baut, asap rokok mengepul pelan ke langit-langit bengkel yang berlubang di beberapa titik, membiarkan cahaya sore masuk berbentuk garis-garis tipis.

"Din."

“Pak, aku Edwin, bukan Udin.”

“Iya-iya. Sama saja.” Pak Hadi memulai lagi, nadanya berubah, lebih santai, sedikit menggoda, "akhir-akhir ini kok sering keliatan di pasar ikan, ya?”

Edwin mengedip-kedipkan matanya, tidak menjawab. Tangannya terus bekerja, memutar obeng lebih cepat dari yang sebenarnya diperlukan.

Pak Hadi menyenggol lengannya pelan dengan siku, tersenyum lebar, giginya yang menguning kena nikotin kelihatan jelas. "Halah, aku tahu kok maksudmu, Din. Enggak usah pura-pura."

Edwin masih diam, tapi tangannya berhenti sejenak.

"Aku dukung," lanjut Pak Hadi, suaranya turun sedikit meski tidak ada orang lain di sekitar bengkel. "Selama ini enggak ada yang berani. Tapi kalau memang jalan, bakal bantu banyak orang, sih Din. Percaya aku."

Pak Edi mengangguk-angguk dari bangkunya, menghembuskan asap ke samping, menjauh dari arah Edwin. "Aku sendiri masih susah nabung, Din. Utangku ke Pak Tri belum lunas-lunas. Dulu mertuaku sakit, biaya rumah sakitnya gede." Ia menatap bara di ujung rokoknya, diam sesaat. "Padahal aku pengin anakku kuliah. Aku pengin banget dia bisa, tapi ya gitu, kuliah butuh duit banyak, Din. Dari mana coba?"

Edwin meletakkan obengnya di atas kain lap, menyeka tangan pelan-pelan, seolah memberi dirinya waktu sebelum bicara.

“Ini mesinnya sudah kelar.”

“Ih, diajak ngobrol malah enggak dipeduliin,” ujar Pak Edi.

Edwin menelan ludahnya. “tapi katanya berisiko, Pak. Aku enggak berani.”

“Kalau berisiko, kenapa enggak mandek-mandek ke TPI?”

Edwin menghela napas. "Soalnya kemarin aku nemu sesuatu, Pak... subsidi dari pusat, dari Surabaya, yang dipegang Pak Eko," jelas Edwin, suaranya pelan, "rata-rata dipotong di tengah jalan. Enggak sampai utuh ke sini."

Pak Hadi dan Pak Edi saling pandang.

"Dipotong berapa?" tanya Pak Hadi.

"Belum tau pasti." Edwin menggeleng sedikit. "Aku masih nyari suku bunga yang Pak Tri pakai sebenernya berapa. Belum ketemu angkanya."

Pak Edi membuang puntung rokoknya, menginjaknya dengan sandal jepit. "Ya itu, Din. Itu yang bikin kita enggak pernah tau kita sebenernya rugi berapa. Enggak ada yang jelas dari dulu. Masa kita melaut lama dapat segitu? Ya kalau yang tambak sih aman-aman saja, ya... cuma yang kita-kita gini gimana?"

"Iya, Pak... mereka harusnya nunjukin secara jelas pendapatan dan pengeluarannya," kata Edwin.

Pak Hadi menambahkan, suaranya lebih pelan lagi, hampir seperti berbisik meski bengkel itu kosong. "Cuma itu yang kita minta. Enggak muluk-muluk."

Edwin mengangguk kecil, tidak menjanjikan apa-apa, lalu kembali membungkuk ke arah mesin, memasukkan tangannya lagi ke dalam bodi yang masih berlumur oli.

“Katanya sudah?” ujar Pak Hadi.

“Belum, tadi Cuma ingin ngusir saja,” jelasnya. Tangannya yang penuh oli berhenti bergerak di atas mesin, "Pak," menatap ragu ke arah Pak Hadi dan Pak edi. "Kalau soal tiga orang yang dulu pernah nekad keluar dari tengkulak... apa bener mereka dikasih tenggat pelunasan singkat padahal utangnya banyak?"

Pak Hadi dan Pak Edi saling pandang sejenak. Pak Edi mengembuskan asap rokoknya pelan. "Iya, Din. Bener. Malah dua di antaranya itu utangnya tembus sampai tujuh juta per orang."

"Tujuh juta?!" mata Edwin membola. "Kok bisa sebanyak itu, Pak? Buat apa aja?"

Lihat selengkapnya