MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #10

E1

 

E1 | Edwin & Cindy

 

2009

"Anjing-anjing-anjing, tai-tai-tai...!" Edwin memukul-mukul tanah dengan tinjunya, meratapi nasib di bawah bayangan pohon tua di puncak bukit. Air mata dan ingus beradu liar di wajahnya, menyapu debu kotor di pipi.

"Lebai amat."

Edwin tersentak hebat. Ia melonjak kaget hingga kakinya tersangkut akar raksasa, membuatnya terjungkal konyol ke belakang dengan pantat dihantam tanah keras. Pak Anton berdiri tiga langkah di sebelahnya, kedua tangan melesak di saku celana, santai mengunyah batang rumput kering dengan raut wajah datar.

"P-Pak Anton?!" mata Edwin membola, napasnya tersengal-sengal antara panik, malu, dan heran. "Kok... kok Bapak ada di sini?!"

"Masa aku enggak boleh di sini?" celetuk Pak Anton datar. "Lahan nenekmu?"

Tanpa pikir panjang, Edwin bangkit bagai disengat listrik dan langsung menghambur, menerjang pria tua itu dengan pelukan raksasa. Lengannya melingkar penuh mengunci tubuh Pak Anton sampai terdengar bunyi blek! kencang dari dada pria tua itu.

"Woi, woi! Argh!" Pak Anton terbatuk-batuk, matanya melotot karena tulang rusuknya mendadak terhimpit kencang. "Aku belum mati, Win! Lepas!"

"Bapak jahat banget!” jerit Edwin makin menjadi-jadi, “Aku kira Bapak pergi seminggu lebih bakal kayak yang cerita waktu itu! Amit-amit! Aku takut Bapak bakal turun ke jalan buat ngemis atau ke panti —"

“Eh-eh, omongannya —"

Tanpa tahu malu, Edwin membenamkan wajahnya yang belepotan air mata dan ingus di pundak Pak Anton. "Maaf ya, Pak! Maaf aku sok jagoan, maaf aku enggak dengerin Bapak. Maaf aku bikin Bapak dipecat, maaf aku—"

Pak Anton memutar matanya pasrah, membiarkan tubuhnya terguncang-guncang oleh tangisan emosional pemuda di depannya. Tangannya yang bebas akhirnya terangkat, menepuk-nepuk punggung Edwin seadanya—lebih mirip gerakan mengusir lalat ketimbang menenangkan.

"Iya, iya, dimaafkan... tapi ingusmu nempel di jaket ini. Ah, mana habis dicuci istri lagi," gumam Pak Anton lelah. Pak Anton menghela napas panjang, menghembuskan bau tembakau dan minyak angin tepat ke dahi Edwin. "Dua menit lagi kamu enggak lepas pelukan ini —"

Edwin langsung melepasnya.

 

---

 

Kemarin

Bilik kayu nomor tiga di Wartel Sejahtera itu sempit, berbau kayu lapuk bercampur debu kipas angin tua yang berputar lambat di sudut ruangan. Edwin merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa keping koin lima ratusan perak yang dingin. Jemarinya yang kasar dan berbekas noda oli memasukkan koin-koin itu satu per satu ke dalam lubang mesin telepon kabel warna oranye. Bunyi denting clink-clink logam beradu disusul nada panggil panjang yang terdengar nyaring di gagang telepon hitam yang melekat di telinganya.

Mesin billing di atas meja kayu berkedip-kedip hijau, menampilkan angka detik yang mulai berjalan mundur.

Telepon di ujung sana berdering tiga kali sebelum terdengar klik pelan, disusul suara perempuan dewasa yang agak berat menjawab dari jauh. Edwin berdeham, merapatkan bibirnya ke corong telepon.

"Halo, Mbak... bisa bicara sama Cindy?"

Terdengar jeda sebentar, suara langkah kaki terburu-buru menepuk lantai marmer, lalu deru napas halus menempel kencang di gagang telepon seberang.

"Mas Edwin?!" Suara melengking itu meledak seketika, begitu jernih dan sarat tawa. "Mas Edwin, kan?! Akhirnya menelepon juga! Aku kira bakal enggak!”

Di dalam bilik kayu yang pengap, Edwin menyandarkan bahunya ke dinding triplek. Ia mendengus pelan, berusaha menahan senyum yang mendesak keluar dari sudut bibirnya. "Padahal situ sendiri yang nangis-nangis minta ditelpon pas udah empat bulan sekolah."

“Hehe. Anggap sajalah. Oh iya, kayaknya aku belum bilang makasih buat buku-buku yang dibelikan kemarin. Aku suka banget! Makasih, makasih!"

"Iya...,” jawab Edwin, matanya memperhatikan angka billing yang terus berganti.

Di ujung telepon, Cindy tertawa lepas. Suara gesekan kain terdengar dari seberang ketika gadis itu memosisikan dirinya meluncur dan duduk bersandar nyaman di atas sofa empuk rumah barunya di Surabaya. Ujung kabel telepon spiral di tangannya ia putar-putar dengan jemari.

Edwin menggeser posisi berdirinya, melipat satu tangannya di dada. "Gimana Surabaya? Sekolah barumu enggak bikin kamu kapok, kan?"

"Seru, Mas!" sahut Cindy cepat. Nadanya mengalun bersemangat, melompat dari satu cerita ke cerita lain. "Aku sudah punya teman dekat di kelas. Terus... ada satu cowok kelas sebelah yang mukanya ganteng banget, mirip artis TV." Cindy memberi jeda sebelum mendesah berat. "Tapi ya gitu... begitu dia maju ke depan kelas, hilang semua rasanya. Dia bodoh banget, Mas."

Edwin menaikkan alisnya, terkekeh seraya mengetuk-ngetuk gagang telepon dengan telunjuknya. "Bodoh gimana? Maksudnya semua mata pelajaran?"

"Semua!" desak Cindy gemas, suaranya terdengar sangat yakin. "Pelajaran beneran nol besar. Pas olahraga juga payah banget, lari baru dua putaran saja sudah mau pingsan!"

Edwin menyandarkan kepalanya ke dinding kayu, matanya menatap langit-langit wartel yang berjaring laba-laba. "Aku makin penasaran seburuk apa seleramu sampai cowok kayak gitu bisa kamu bilang ganteng."

"Hih!" Cindy menjerit kesal dari seberang, membuat Edwin memindahkan gagang telepon sedikit menjauh dari telinganya.

Suara di seberang berubah lebih tenang ketika Cindy mulai mengoceh soal hal lain. Ia menceritakan suasana kelasnya yang baru, tentang seorang guru perempuan bermata tajam tapi selalu menyampaikan materi Biologi dengan sangat seru.

"Pokoknya Biologi asyik banget, Mas," cetus Cindy. "Tapi kalau Fisika... aduh, aku benar-benar benci. Rumusnya rumit semua, pusing!"

Edwin memiringkan kepala, alisnya bertaut heran. "Lho? Bukannya waktu SMP dulu kamu pernah ikut olimpiade materi IPA? Masa benci Fisika?"

Hembusan napas pasrah Cindy terdengar sangat jelas. "Ya kan waktu itu terpaksa, Mas...."

Angka di monitor billing hijau terus berkedip, bergerak dari menit ke menit. Di dalam bilik kayu yang makin gerah, Edwin menukar gagang telepon ke telinga kirinya. Ia mendengarkan dengan patuh ketika nada suara Cindy perlahan berubah, tidak lagi melengking ceria, melainkan agak memelan.

Cindy bercerita tentang hari saat ia diundang makan siang di rumah teman sekelasnya. Mengenai meja makan kayu besar yang disertai riuh tawa sebuah keluarga yang menyantap makanan bersama di satu ruangan.

"Aku belum pernah merasakan makan siang dengan suasana kayak begitu, Mas," bisik Cindy pelan. Tangannya mengusap permukaan sofa marun di bawahnya. "Seru banget. Terus pas kita masuk ke kamarnya, temanku itu sempat cerita kalau dia sebal banget punya adik laki-laki yang jahil." Cindy terkekeh tipis, lalu nadanya berubah. "Aku bilang ke dia kalau aku setuju. Tapi... aku punya satu hal lucu soal adikku sendiri, dan Mas Edwin pasti enggak bakal percaya ini."

"Apa?" tanya Edwin, memajukan badannya.

"Andre, Mas," suara Cindy mengecil, menahan tawa. "Pas aku mau pindah ke Surabaya kemarin, dia itu bertingkah aneh banget. Kayak enggak pengin aku pergi! Padahal pas aku masih di rumah, aku enggak dianggap. Dasar anak aneh."

"Iya... anak itu memang agak-agak. Enggak tahu boleh ngomong ini apa enggak, tapi akhirnya aku melihat dia sembunyi-sembunyi merokok di bawah pohon asam."

"Kan, apa aku bilang! Kalau yang itu biasa, Mas. Aku pernah sekali mergoki dia mencuri uang dari dompet Ibu! Kayaknya ya buat beli rokok itu... tapi aku enggak berani menegur. Bingung juga, dia belajar nakal kayak gitu dari siapa."

"Tahun depan dia sudah masuk SMA, kan?" tanya Edwin menebak.

Cindy diam dua detik di seberang, sebelum tawanya pecah meledek. "Enggak lah, Mas! Dua tahun lagi! Dasar sudah tua, pikunan banget sih!"

Edwin mengusap tengkuknya yang pegal, tertawa kecil menerima ejekan itu. Namun sebelum ia sempat membalas, nada bicara Cindy dari seberang berubah perlahan, menjadi jauh lebih serius dan lembut dari sebelumnya.

"Mas..." panggil Cindy pelan. "Omong-omong soal Andre. Buku-buku fiksi yang kamu belikan kemarin... sebetulnya bukan buat aku."

Edwin mengernyit, jarinya yang mengetuk dinding kayu terhenti. "Maksudnya?"

"Itu semua sebetulnya buat Andre," terang Cindy. "Dia punya beberapa daftar buku yang pengin banget dia baca. Tapi Ibu kan keras banget, enggak pernah mengizinkan Andre beli buku cerita begitu. Jadi selama ini kalau ke toko buku, Andre cuma bisa berdiri di depan rak, membaca ringkasan di bagian belakang bukunya saja."

"Jadi ‘bagus’ katamu tadi...?" tanya Edwin pelan.

"Ya..." sela Cindy. "Kalau ceritanya jelek, kayaknya enggak bakal dipilih sama Andre." Suara Cindy mengalun hangat "Mas... dia itu suka menulis, lho. Dinding kamarnya itu penuh sama robekan kertas bukunya... isi tulisan tangan dia, ada puisi ada cerpen. Aku ingat banget, waktu dia kelas lima SD dulu, dia pernah juara satu lomba puisi di sekolahnya."

Edwin menaikkan alisnya. "Oh ya?"

"Iya! Yah... sekalipun pesertanya cuma Andre seorang sih," tawa Cindy meletup kecil, sebelum kembali melunak. "Tapi buat anak seumur itu, bahasa yang dia pakai unik banget, Mas. Beda sama anak-anak lain."

Edwin menyandarkan bahunya rapat-rapat ke dinding bilik, menatap angka billing yang menyisakan sedikit waktu. "Judul puisinya apa?"

"Nelayan," jawab Cindy singkat, tulus dan tenang dari seberang laut.

Lihat selengkapnya