MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #11

E2

 

E2 | Andre & Dewi

 

2011

Sinar matahari pertengahan hari membakar aspal tebal di jalan raya, menciptakan bayangan fatamorgana yang bergoyang tipis di kejauhan. Andre mematikan mesin sepeda motor bebeknya di bawah naungan pohon trembesi, membiarkan deru knalpot meluruh jadi keheningan yang gerah. Di jok belakang, Ibunya menggeser duduk, menurunkan kedua kakinya yang beralaskan sandal karet. Bau debu jalanan, asap knalpot, dan hawa panas yang menyengat menyelimuti warung es kelapa muda di tepi jalan itu. Tanpa mengumbar kata, ibunya melangkah menuju meja kayu tempat deretan buah kelapa hijau ditumpuk, membiarkan Andre tetap bergeming di atas motor seraya menyapu keringat tipis di pelipisnya.

Mata Andre mendadak terkunci pada sosok seorang bocah laki-laki di depan bilik warung. Anak itu mengenakan kaus lusuh kebesaran dengan celana pendek berdebu, menengadahkan wajahnya menatap pemilik warung yang bertubuh gempal. Di atas etalase kaca yang kusam, sebungkus rokok kretek murah berpindah tangan dengan gusar. Pemilik warung menunjuk-nunjuk muka bocah itu dengan nada menuduh, sementara si bocah menggeleng-gelengkan kepalanya kencang, menepuk dadanya sendiri seraya meyakinkan bahwa tembakau gulung itu adalah pesanan bapaknya.

Andre memperhatikan interaksi itu tanpa berkedip. Begitu kembalian diterima, bocah itu berbalik cepat, melangkah terburu-buru. Andre terus mengawasi punggung anak itu yang bergerak makin jauh dari jangkauan pandang pemilik warung. Ketika jaraknya sudah terpisah sekitar dua puluh meter, langkah bocah itu mendadak santai. Jemari mungilnya merogoh saku celana pendeknya yang kusam, mengeluarkan sebuah korek gas warna merah, lalu menyulut sebatang kretek yang sudah terselip di bibirnya dengan gerakan yang terampil.

Asap putih membumbung tipis dari mulut bocah itu sebelum ia menghilang di balik belokan gang.

Andre menghembuskan napas pelan melalui hidungnya, napas yang terasa panas dan kaku di dalam dada. Di saat yang sama, Ibu kembali melangkah mendekati sepeda motor. Di jemarinya, dua kantong plastik bening berisi es kelapa muda terayun-ayun pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang ibu menggantungkan kantong plastik itu pada pengait di bawah stang motor, lalu naik kembali ke jok belakang. Andre memutar kunci kontak, menekan pedal starter, dan menyatukan kembali laju motor mereka dengan bisingnya jalanan siang.

 

---

 

Suara piring beradu dengan sendok seng bergema di dalam area dapur rumah teman Ibunya. Andre duduk kaku di salah satu kursi kayu, menatap pembungkus kertas minyak berwarna cokelat yang terhampar di hadapannya. Nasi bungkus berisi lauk tongkol balado dan serundeng gurih itu mendadak kehilangan selera di matanya. Di sudut ruangan lain, Lina sedang berdiri berdampingan dengan temannya, mengobrol dengan nada suara yang meninggi bersemangat. Suara Lina yang nyaring menyusup masuk ke telinga Andre, membicarakan rencana masa depan, pendaftaran sekolah, dan keyakinan mutlak bahwa Andre harus mengambil jurusan teknik listrik saat kuliah nanti demi mengamankan pekerjaan yang jelas.

Andre menunduk. Jemarinya mempermainkan sendok tanpa menyentuh bulir nasi sedikit pun. Setiap patahan kata dari mulut ibunya terasa seperti batu bara panas yang ditumpuk di atas pundaknya, mematikan segala helaan napasnya.

David, anak dari teman ibunya, yang sejak tadi mengamati reaksi Andre, berdeham pelan. Ia menepuk bahu Andre singkat. "Yuk, ke kamarku aja," bisik David rendah. Andre langsung bangkit, meninggalkan separuh nasi bungkusnya tanpa ragu sedikit pun, mengintil di belakang punggung David menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Pintu kamar berdecit saat ditutup rapat, meredam bising celoteh para ibu di lantai bawah. Kamar David terasa lebih sejuk, berbau harum pelembut pakaian bercampur samar minyak wangi. David berjalan menuju jendela yang terbuka separuh, merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan kotak rokok dan pemantik api. Dengan sekali sentakan jempol, bara merah menyala di ujung tembakau. Ia menghembuskan asapnya ke luar jendela sebelum menoleh pada Andre.

"Kamu biasanya merokok apa, Ndre?" tanya David santai, menyodorkan kotak rokoknya ke arah Andre.

Andre menerima sebatang, menyulutnya, lalu menyedotnya dalam-dalam sampai dadanya terasa hangat. Ia menghembuskan asapnya perlahan ke udara kamar. "Apa aja, Mas. Enggak milih-milih." Ia mengamati gestur David yang tampak rileks, lalu memberanikan diri membuka suara. "Mas David... punya cewek, ya?"

David tertawa kecil, menggelengkan kepalanya seraya bersandar di kusen jendela. "Iya. Teman satu sekolah. Yah, kamu tahulah anak SMA zaman sekarang... kalau enggak pacaran mana main? Cemen."

“Di sekolahku enggak ada yang menarik.”

“Ah, biasa itu. Aku juga baru di SMA. Dulu yang SMP pada nolak.” David merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah ponsel berlayar kecil. Ia menekan beberapa tombol, lalu menyodorkan layar sempit berkecerahan redup itu ke depan mata Andre. Di sana, terpampang foto seorang gadis berseragam putih-abu-abu yang tersenyum kaku ke arah kamera. "Cantik, kan?" ujar David bangga seraya menarik ponselnya kembali. “Bentar,” Ia melangkah keluar. Kembali dengan dua kaleng soda dingin. "Nih, minum dulu."

Andre menerima kaleng soda yang embun dinginnya langsung membasahi telapak tangannya. Baru saja ia meneguk cairan manis berkarbonasi itu, David yang sedang melongok ke luar pintu kamar kembali menoleh dengan mata berbinar.

"Ndre, mau ke warnet enggak?" tanya David. “Gara-gara pembahasanmu, jadi kepikiran ke sana.”

Andre mengernyitkan dahi, memutar kaleng soda di tangannya. "Aku... belum pernah ke warnet, Mas."

"Waduh. Udahlah, gampang! Ada gim tembak-tembakan seru di sana, Point Blank, pernah dengar?" Andre menggeleng. David menyambar jaketnya dari balik pintu. "Nanti aku ajarin. Kita main gantian dulu sampai kamunya jago."

Mereka berdua berjalan turun menuruni tangga. Di area teras depan rumah yang sepi, sebuah meja kayu kecil memajang koran edisi pagi yang terlipat rapi. Langkah Andre terhenti sejenak di dekat meja tersebut. Matanya menatap tajam pada salah satu kolom cetakan koran yang memuat tajuk berita lokal. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tangan Andre terulur. Jemarinya mencengkeram sudut kertas koran itu, merobek lembarannya dengan gerakan cepat dan kasar—SRRRK!—lalu meremasnya hingga menjadi gumpalan kotor sebelum melemparkannya tepat ke dalam tong sampah plastik di sudut teras.

“Kenapa?” tanya David.

“Nggak,” jawab Andre. “Mas kok enggak sekolah?”

“Kamu juga enggak.”

“Berarti kita senasib? Gara-gara ulah Ibu kita?”

David hanya mengangkat alisnya.

Lihat selengkapnya