E3 | Edwin
2011
Roda sepeda motor yang dikendarai Edwin meluncur melintasi bentangan Jembatan Suramadu, membelah hembusan angin laut di bawah langit cerah. Di jok belakang, Atha tertawa lepas seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan angin menampar wajahnya saat matanya berbinar-binar memandangi megahnya tiang-tiang pancang baja dan hamparan air laut yang berkilauan dihantam sinar matahari.
“Akhirnya beneran lewat!” seru Atha.
Laju motor mereka telah berganti memasuki kawasan pemukiman padat Surabaya, menyusuri gang-gang rindang yang membimbing mereka sampai tepat di depan gerbang besi sebuah SMK di Surabaya, tempat riuh pameran dan stan-stan siswa sudah menyapa dari kejauhan.
Lapangan sekolah itu penuh warna. Spanduk kertas krep berkibar di setiap sudut stan, balon-balon ulang tahun yang didaur ulang jadi hiasan, dan barisan meja panjang memamerkan hasil karya anak-anak SMK yang mengilap kena matahari pagi. Edwin berjalan dua langkah di belakang Atha, tangannya terselip di saku, membiarkan anak itu memimpin arah.
Langkah-langkah kecil Atha berderap lincah menembus riuh pameran, menyusuri deretan stan berbagai jurusan yang memamerkan karya terbaik para siswa. Di area Teknik Mesin dan Elektro, matanya berbinar menatap rangkaian sirkuit yang berkelip, purwarupa robot dari kaleng bekas, hingga miniatur turbin air yang berputar pelan ditiup kipas. Rasa penasarannya memuncak saat ia membungkuk meneliti susunan roda gigi. Dengan polos namun menohok, Atha melontarkan pertanyaan tentang rasio gir kepada seorang guru pendamping. Pria itu seketika terdiam, alisnya terangkat tinggi seraya melirik Edwin dengan tatapan terkejut. Edwin hanya tertawa bangga, menepuk bahu Atha yang terus mencerca tanpa henti.
Tak jauh dari sana, aroma gurih dan manis yang menyeruak memandu langkah mereka beralih ke deretan stan Tata Boga. Atha tanpa segan menunjuk kue sus berisian vla tebal yang ditata cantik di atas nampan. Edwin menyambar dua buah, menyerahkan satu ke Atha yang langsung melahapnya hingga vla putih menempel di ujung hidung. "Pelan-pelan, Atha. Sampai belepotan gitu kayak cemong," gurau Edwin sambil mengusap hidung dengan ibu jari, dibalas tawa renyah Atha yang mengunyah bersemangat seraya memuji kelezatan buatan para siswa tersebut.
“Enak, sih. Kalau enggak enak enggak bakal cemot.”
Kesenangan itu berlanjut saat mereka melintasi stan Tata Busana yang dipenuhi manekin berbalut busana rancangan unik. Atha berhenti, memiringkan kepala mengamati sebuah gaun pesta dengan rumbai-rumbai mencolok, lalu berbisik geli, "Yah, kalau gaun yang itu dipakai buat melaut, pasti jalanya tersangkut di rumbainya."
Edwin terkekeh geli, menyenggol lengan Atha sambil menimpali, "Bukan jalanya yang tersangkut, tapi ikannya yang minder duluan ngeliat modelnya." Gelak tawa keduanya pun pecah di antara selingan pameran yang hangat dan riuh sore itu.
Angin siang membawa riuh suara anak-anak lain yang meledak sesekali. Mereka sampai di ujung lorong pameran, berhenti persis di depan sebuah motor bebek yang bagian belakangnya menyita perhatian. Sebuah tabung gas LPG tiga kilogram berwarna hijau melon terikat kencang di atas behel motor. Dari kepala regulator di atas tabung, selang gas tebal meliuk menyusuri bodi samping, bermuara ke arah kerangka bawah yang telah dimodifikasi. Atha berhenti total, seluruh tubuhnya condong ke depan, kepalanya sedikit miring ke kanan—kebiasaan yang selalu muncul setiap kali sesuatu benar-benar menyita perhatiannya.
"Ayah!" panggilnya, tanpa menoleh, "ini bisa diaplikasikan ke mesin perahu kita."
Edwin ikut tersenyum lebar, meski matanya sama sekali tidak di motor itu—melainkan di punggung Atha. Caranya berdiri dengan berat badan bertumpu ke satu kaki, satu tangan terselip ke saku celana sebelum akhirnya terangkat untuk menunjuk sesuatu di mesin. Atha berjongkok, sejajar dengan knalpot motor itu, mengintip lebih dekat ke sambungan selang, alisnya berkerut serius, bibirnya sedikit terbuka.
Edwin berdiri di belakangnya, membiarkan detik itu berjalan lebih lama dari yang seharusnya. Setiap kali ia mencoba menangkap dari mana rasa familiar itu berasal, Ia menggeleng pelan, mengusir pikiran itu, lalu ikut berjongkok di sebelah Atha, menatap mesin yang sama.
=---=
2004
Darah mendidih menghantam pelipis Edwin dengan kecepatan yang menakutkan. Suara dengung bising memekakkan telinga, memotong seluruh riuh bunyi bengkel praktik sore itu. Di depan rak perkakas, seorang murid perempuan yang selama ini selalu bertutur lembut dan bersikap baik padanya berdiri mematung. Matanya sembap, air mata luruh deras menyapu pipinya yang pucat, sementara dua murid laki-laki di depannya tertawa bersahut-sahutan dengan nada meledek yang teramat menjijikkan. Kalimat-kalimat kotor itu meluncur tanpa beban, menguliti martabat Rara, lalu menyeret nama Atha ke dalam comberan tuduhan—menyebut adik kecilnya sebagai "anak haram".
Dalam satu detik yang membeku, akal sehat Edwin lesap tanpa sisa. Jemari tangannya yang belepotan oli mengencang kaku, mencengkeram dinginnya batang kunci pas besi berukuran besar yang sejak tadi dipegangnya.
"Anjing!"
Teriakan serak itu meledak dari tenggorokan Edwin. Tanpa memberikan jeda satu hembusan napas pun, Edwin melompat menerjang. Ayunan kunci pas di tangannya melayang kasar, menghantam rahang salah satu murid yang sedang tertawa. Bunyi benturan mentah bersahutan dengan jeritan histeris murid-murid perempuan. Tubuh murid itu terhuyung roboh menghantam lantai semen.
Melihat kawan mereka tergeletak dengan darah segar mengucur dari bibir, tiga murid laki-laki lain di bengkel langsung maju bersamaan. Suasana berubah menjadi kerusuhan liar yang tak terkendali. Mereka mengerebuti Edwin, memukul, menarik, dan mencoba merampas besi dari tangannya. Pergulatan massal itu terjadi dengan sangat berantakan. Edwin membabi buta, menyiku dan menendang siapa pun yang berada di jangkauannya, digerakkan oleh amarah liar yang membakar ulu hati.
Dalam himpitan tubuh-tubuh yang saling dorong dan bergulat hebat, langkah kaki mereka tersandung. Edwin dan dua murid yang menguncinya terlempar kencang ke arah samping.
BRAK! PRANG!
Dinding bergetar saat tubuh-tubuh itu menghantam keras meja peraga kelistrikan utama. Sebuah unit osiloskop berukuran besar—terdorong hebat, meluncur jatuh dari tepi meja, dan menghantam lantai semen dengan bunyi hantaman logam yang memekakkan telinga. Panel layarnya pecah, casing besinya penyok parah, dan serpihan komponen elektronik internal berhamburan kotor di atas lantai.
Keributan mendadak mati seketika. Seluruh murid terengah-engah, mematung menatap kehancuran alat praktik paling mahal di sekolah itu.